Archive for the ‘Yoonhae’ Category

memento

Tittle       : Memento Part 6

Author  : Kid Kaitto

Cast       : Lee Donghae, Im Yoona , Jessica Jung, Kwon Yuri, Lee Dongwook, Jang Geunsuk

Genre   : Romance, Mystery

Rating   : PG-15

Note      : masih adakah yang berkunjung ke blog ini? butuh waktu yang sangat lama sampai aku bisa ngepost lagi di blog ini. Rindu banget jadinya..huhu. saya mo ngucapin maaf dulu buat para readers yang nunggunya lama banget buat postingan di blog ini, maaf karena kesibukan akademik menunda postingan sampe berbulan-bulan lamanya. Tapi aku coba untuk update lagi kok, pelan-pelan sih. Dan yang pertama aku mau posting itu Memento, soalnya udah maucepat-cepat kelar aja. Masih ada yang ingat nggak ceritanya?? Ya udah langsung aja deh.. yuk mari~~~

 

 

MEMENTO

“ Apapun yang kau lakukan sekarang,  kau tak akan pernah  bisa merubah kenyataan itu, aku pun tak bisa berbuat apa-apa. Kau tidak tahu betapa tersiksanya aku karenanya, mengetahui siapa dia sebenarnya dan siapa dirimu. Aku tidak pernah meminta hal ini, dan aku tidak pernah menyesal  pernah mengenalnya, begitupun denganmu.”

Donghae terbangun dengan keringat dingin  mengucur di dahinya. Ia masih mengatur nafasnya yang tersengal sengal, padahal ia baru saja terbangun dari tidurnya. Ia lalu melirik jam yang ada di meja di dekatnya. Pukul 03.30, waktu yang paling tepat untuk bermimpi, termasuk mimpi buruk sekalipun. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada wanita yang tengah tertidur pulas disampingnya. Ia memandangi wanita yang tidak lain adalah istrinya, kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya, hendak menciumnya, namun tiba-tiba Donghae berhenti. Beberapa detik ia mematung tak melakukan apa-apa, lantas kemudian ia memejamkan matanya tampak frustasi dan akhirnya mengurungkan niatnya untuk mencium Yoona istrinya. Donghae pun kembali membaringkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamarnya seolah memikirkan sesuatu yang lain. Matanya kini enggan untuk kembali menutup. Ia seolah-olah tidak ingin kembali kea lam mimpinya. Donghae membalikkan badanya menghadap Yoona yang tertidur. Menatap lekat wajah wanita yang telah menjadi istrinya tersebut.

***

Yoona terdiam menatap suaminya Donghae yang sedang menyantap sarapan di depannya. Ia tak berselera hari ini, buku harian milik Jessica yang ditemukannya mampu membuatnya sedikit takut akan kenyataan yang akan diketahuinya nanti, termasuk kenyataan tentang masa lalu Donghae yang tiba-tiba saja menemukan istrinya sudah meninggal katanya.

“ Wae? Kenapa makanannya didiamkan?” Tanya Donghae yang seketika memecah lamunan Yoona.

“ Aniyo.” Elak Yoona lalu menyantap sarapan paginya. Donghae yang melihatnya seketika tersenyum.

Donghae kemudian bangkit hendak mengambil dasinya yang belum terpasang. Ia hendak memasangnya sendiri namun segera dihentikan oleh Yoona.

“ Biar aku yang pasangkan.” Ucap Yoona.

“ Tapi kakimu. .”

“ Gwaencanha oppa. Akhir-akhri ini aku sangat jarang memasangkan dasi untukmu oppa.” Yoona pun mulai melingkarkan dasi di leher Donghae. Dengan cekatan ia menyelesaikan simpul demi simpul dasi tersebut hingga selesai dengan sangat rapi. Donghae hanya memandangi Yoona dengan tatapan yang sulit diartikan.

“ Cha, selesai.” Yoona lalu mengelus dasi tersebut hingga ke dada Donghae, dengan itu ia dapat merasakan detak jantung suaminya itu.

“ Sudah?” Tanya Donghae tiba-tiba. Dengan cepat Yoona mengangguk. Donghae kemudian beralih dari hadapan Yoona dan mengenakan jas serta menenteng tas kerjanya.

“ Kalau begitu oppa pergi dulu.” Ucap Donghae hambar lalu meninggalkan rumahnya. Yoona yang melihat hal itu merasa sedikit heran. Tidak seperti biasanya Donghae bersikap dingin, bahkan ia pergi tanpa memberikan kecupan untuk Yoona.

“ Apa hanya perasaanku saja. . .” Ucap Yoona dalam hati.

***

Yoona berjalan menuruni tangga basement rumahnya dengan sedikit tertatih. Wajar saja karena kakinya belum sembuh betul. Bada mengikut di belakangnya. Anjing pemberian Sehun itu satu-satunya teman Yoona saat Donghae tengah bekerja. Begitu sampai di ruang bawah tanah itu, dengan cepat Yoona memasuki ruangan yang ada disana. Begitu masuk, aura berbeda langsung diarasakan oleh Yoona. Bagaimana tidak, ruangan itu dipenuhi dengan barang milik Jessica. Jujur Yoona tidak tahan dengan keadaan disekitarnya, terutama karena ruangan itu menyimpan semua kenangan suaminya dengan istri terdahulunya yang masih dicintainya, mungkin. Sejenak Yoona memandang sebuah foto extra besar milik Jessica yang tengah tersenyum bahagia dengan gaun pernikahannya. Terbersit rasa sakit dihati Yoona melihatnya. Namun Yoona dengan cepat mengalihkan perhatiannya dan kembali mengingat alasan utamanya ke ruang bawah tanah. Ia dengan langkah tertatih mendekati sebuah perapian. Ia lalu sedikit menunduk lalu menggapai sebuah sisi di perapian itu. Dengan agak susah ia mendapatkan apa yang dicarinya, sebuah buku harian dengan inisial J. ia lalu duduk di sebuah sofa yang ada diruangan itu dan siap membuka buku harian pendahulunya itu, berharap sebuah kebenaran akan menghampirinya. Bada lalu ikut duduk di hadapan Yoona.

“ Kau ingin mengetahui isinya juga?” Tanya Yoona pada anjing di depannya yang tentunya tak akan dijawab oleh anjing itu. Namun anjing itu tampak antusias

“ Bukankah ini hal yang tidak baik Bada? Membuka buku harian orang lain?” Tanya Yoona lagi, seolah mengetahui apa yang dimaksud Yoona, bada tampak sedikit menunduk, kecewa mungkin.

“ Tapi bukankah pemiliknya sudah tidak ada? Dan bahkan ia mempersilahkanku untuk membacanya?” Ucap Yoona yang seketika kembali membuat Bada tampak antusias.

“ Baiklah, aku siap.” Yoona menarik nafasnya sejenak. Ia dengan perlahan membuka lembaran buku harian Jessica. Mencoba berharap diary tersebut bisa mengungkap semua masa lalu suaminya dengan Jessica. Yoona berhenti pada sebuah halam di diary itu, ia lalu mulai membaca tulisan tangan Jessica yang terlihat sangat halus dan lembut tersebut.

Seoul, 18 April 2004

Sudah dua tahun aku disini, di kota yang masih asing bagiku, Seoul. Kadang aku merindukan kamarku yang nyaman di San Fransisco. Tempat yang mungkin bagi kedua orang tuaku adalah neraka setelah segala kenikmatan surga yang mereka dapatkan disana. Aku masih ingat bagaimana eomma dan  Appa membangunkanku dimalam hari dan langsung menarikku ke sebuah taxi di tengah malam menuju bandara. Aku tak tahu kemana akan pergi waktu itu,aku bahkan tak mengucapkan selamat tinggal pada Anna sahabatku, yang aku tahu beberapa hari terakhir appa tengah banyak kedatangan tamu berpakaian serba hitam yang kadang-kadang memukuli appa, setau apa yang aku dengar appa menggelapkan uang perusahaan dan memilki banyak hutang. Dan itulah mengapa kami harus diam-diam meninggalkan San Fransisco dan akhirnya kembali ke Korea.  Meninggalkan keidupan kami yang serba mewah di kota itu dan memulai hidup baru sebagai keluarga yang bisa dibilang kekurangan di Negara sendiri. Aku tak pernah menyangka akan kembali ke kota ini dengan keadaan yang sangat berbeda, Yah tapi mungkin inilah yang terbaik.

Oh ya, aku harusnya sangat berbahagia hari ini, yah Jessica Jung. Nama yang diberikan sendiri oleh eomma, berharap aku menjadi putri yang mendapatkan kebahagiaan di hidupnya. Dan hari ini aku berulang tahun, tidak adakah orang yang ingin mengucapkan selamat ulang tahun padaku? Heh, sepertinya memang tidak, bahkan  eomma dan appa sendiri tak mengingat hari ini, hari yang seharusnya hari bahagia untukku. Sepertinya mereka lebih sibuk bertengkar daripada merayakan hari ulang tahun anaknya. Yah memang semuanya berubah, appa dan eomma menjadi sangat sering bertengkar setelah kembali ke kota ini. Akhirnya malam ini aku kembali meniup lilin yang kunyalakan sendiri, tidak ada kue, tidak ada pesta kejutan, tidak ada balon, tidak ada ucapan selamat. Tapi tidak apa-apa, aku masih bersyukur bisa merayakan sendiri hari ini. Saengil chukae Jessica, saranghae.” (Aneh juga mengucapkan selamat ulang tahun dan saranghae pada diriku sendiri. . J)

Yoona menautkan alisnya setelah membaca selembar diary Jessica. Ia agak kaget membaca apa yang ditulis Jessica. Terutama pada keadaan keluarganya. Rsasa penasaran terlanjur memenuhi pikiran Yoona, ia kemudian mulai membaca tulisan di lembaran berikutnya.

Seoul, 28 April 2004

kudengar malam ini Eomma dan appa kembali bertengkar. Appa sangat sering pulang dalam keadaan mabuk, dan tak jarang ia memukuli eomma jika eomma menegurnya. Apakah mereka tidak capek bertengkar terus? Apa mereka tidak menganggap aku dirumah ini? Sungguh aku sudah tidak tahan lagi mendengar pertengkaran mereka. Tuhan, jangan biarkan aku menemukan keluarga seperti ini lagi, cukup kali ini saja, aku ingin bahagia, aku ingin hidup bersama suami yang kucintai dan juga mencintaiku. Heh, jika saja eomma dan appa mendengar doaku ini, aku yakin mereka akan menertawakanku. Mana mungkin ada orang yang ingin mencintai orang sepertiku. Sepertinya permintaanku memang pantas untuk ditertawakan. Tapi apakah aku tidak berhak untuk berharap? Tidak ada salahnya untuk berkhayal bahwa suatu hari nanti Jessica Jung akan menikah dengan orang yang baik dan mencintaimu sepenuh hatinya.”

***

Seorang pria tampak berjalan memasuki sebuah gedung perusahaan dengan menenteng sebuah koper di tangannya. Ia lalu berhenti di meja sekretaris di ruangan tersebut.

“ Ada yang bisa saya bantu tuan?” Ucap wanita yang duduk di meja sekretaris tersebut.

“ Aku ingin bertemu dengan Lee Donghae.”

“ Apakah anda sudah memiliki janji sebelumnya?”

Pria itu lalu menggeleng kecil. “ Aku yakin dia ingin mendengar berita yang kubawakan untuknya.” Ucapnya.

“ Baiklah kalau begitu, akan aku tanyakan. Maaf tuan, nama anda siapa?”

Sekretaris tersebut lalu masuk keruangan Donghae.

“ Tuan, ada seorang pria yang ingin menemui anda diluar.” Ucap wanita itu.

“ Siapa?” Tanya Donghae

“ Namanya Jang Geunsuk, dia mengatakan ada berita penting yang dia bawakan untuk anda.”

Donghae terdiam sejenak. Ia lalu menutup matanya seolah sangat lelah mendengar nama itu.

“ Tuan?” Ucap wanita itu menunggu jawaban.

“ Suruh dia masuk.”

“ Baik tuan.” Sekretaris itu lalu meninggalkan ruangan Donghae. Sementara Donghae tampak memikirkan sesuatu yang membuatnya seolah sangat lelah, lebih tepatnya lelah pada orang kini tengah berada di ruangannya dengan senyum sinisnya.

“ Lama tak jumpa Donghae-ah.” Sapanya penuh kesombongan yang tak dibalas oleh Donghae.

“ Mau apa lagi kau datang kesini?” Ucap Donghae jengah sementara Jang Geunsuk hanya tersenyum sinis.

“ Bisakah kau bersikap lebih baik pada tamumu? Mungkin dengan mempersilahkannya duduk terlebih dahulu.” Tanpa dipersilahkan, Jang Geunsuk kemudian duduk di sofa yang ada diruangan tersebut.

“ Ayolah, jangan banyak basa basi. Aku sedang sibuk sekarang.” Ucap Donghae yang betul-betul tidak suka melihat pria di depannya itu.

“ Baiklah kalau kau yang meminta. Aku ingin mengucapkan selamat karena kau tidak jadi dipenjara pada kasus kecelakaan yang menimpamu bersama istrimu baru-baru ini. Sebenarnya aku agak kecewa pada kepolisian karena masih membiarkan orang sepertimu berkeliaran.” Ucapnya panjang lebar yang hanya ditanggapi dingin oleh Donghae yang sepertinya sudah terbiasa dengan orang ini.

“ Oh terima kasih.” Ucap Donghae datar.

“ Dan ada satu hal lagi. Ini tentang istrimu sebelumnya.”

Raut wajah Donghae seketika memperlihatkan rasa kaget akan ucapan Jang Geunsuk barusan. Namun ia mencoba bersikap tenang. Donghae kembali mendesah dalam tanda rasa lelah dengan orang di depannya dan juga apa yang dikatakannya.

“ heh, Aku pikir kau sudah menyerah. Apa lagi yang kau dapatkan?“

“ Tentu saja aku tidak akan menyerah. Hal ini mungkin menjadi kebodohanku karena baru mendapatkan bukti yang sangat penting ini sekarang Donghae-ah.”

Jang Geunsuk lalu beranjak dari tempat duduknya dan berdiri tepat di depan meja Donghae.

“ 2 hari yang lalu aku mendapatkan file dan foto mayat Jessica setelah diperiksa oleh pihak rumah sakit, dan file tersebut selama ini disimpan rapat oleh pihak rumah sakit.”

“ Oh ya. Selamat atas kehebatanmu.” Ucap Donghae dingin.

“ Kau mungkin tidak ingin tahu bagaimana aku mendapatkan file tersebut, tapi yang perlu kau khawatirkan adalah bukti yang kudapatkan di file dan foto tersebut.”

Jang Geunsuk semakin mendekat pada Donghae.

“ Aku dari awal sudah yakin bahwa Jessica tidak meninggal karena kecelakaan. Dan dugaanku tersebut terbukti pada foto itu, ada bekas kekerasan disana Donghae-ah, kekerasan yang hanya manusia yang bisa melakukannya.”

“ Lalu?” Ucap Donghae datar. Donghae terus mencoba untuk bersikap tenang.

“ Menyerahlah Donghae sebelum aku sendiri yang menyeretmu ke penjara karena itu akan sangat memalukan.” Ucap Jang Geunsuk penuh emosi.

“ Aku sudah berulang kali mendengar kata-katamu barusan. Aku tidak akan pernah menlakukan apa yang kau minta karena kau tidak pernah membuktikan apa yang kau katakana. Sudahlah, apa kau tidak punya pekerjaan lain selain membuntutiku?”

“ Aku hanya bersikap lembut padamu sebelum aku mengungkap semua yang kau lakukan. Kematian seseorang karena terjatuh dari tangga? Cih, Apa kau pikir aku akan mempercayai kasus konyolmu itu Donghae-ah, kau pikir aku bodoh?”

“ Yah sekonyol caramu berbicara padaku sekarang.” Ucap Donghae, Jang Geunsuk dengan reflex memegang kerah baju Donghae dengan sangat kasar.

“ Jangan pikir aku main-main. Kau sudah menghilangkan nyawa seseorang yang sangat berarti bagiku. Dan kau anggap semua itu konyol? Tunggu saatnya, akan kuseret kau dari tempat tidurmu, akan kuremukkan tanganmu yang kotor itu sampai kau menyesali perbuatanmu dan menyadari betapa bejatnya dirimu.”Ucap Jang Geunsuk di depan wajah Donghae.

“ Kau pikir siapa dirimu sampai bisa berkata seperti itu padaku. Lukaku jauh lebih dalam dan pedih darimu. Kau tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Kau hanya tahu tentang masa kecilnya yang sama sekali tak berarti sekarang. Jika kau memang membenciku, kenapa kau tidak membunuhku saja?” Balas Donghae penuh emosi.

“ Karena aku tidak ingin menjadi pembunuh bejat sepertimu brengsek!!” Jang Geunsuk kemudian menghempaskan Donghae ke lantai. Ingin rasanya Donghae membalas jang Geunsuk, namun ia masih berpikir panjang. Menambah masalah dengan orang ini hanya akan memperumit keadaan.

***

Seoul, 11 September 2004

“ sudah lima bulan terakhir appa tidak pernah pulang. Aku tak tahu apa yang terjadi pada appa, begitupun eomma. Namun dengan begitu aku merasa sedikit lega karena tidak ada lagi orang yang akan memukul eomma. tapi kenapa eomma justru kelihatan sangat sedih dan akhir-akhir ini sangat sering menangis? Apakah ia sangat mencintai appa? Padahal appa sangat kasar pada eomma. aku sungguh tidak mengerti.”

“ Tuan Kim kembali mengunjungi rumah kami, seperti biasa meminta kami membayar hutang, lebih tepatnya hutang appa yang kalah di meja judi. Barang-barang kami hampir semuanya habis dijual appa hanya untuk dimainkan di meja judi, sampai akhirnya kami tinggal mempunyai rumah yang sangat sempit ini. Oh Tuhan, aku sangat membenci laki-laki yang entah bagaimana bisa menikahi eomma, dan entah bagaimana eomma bersedia menjadi istrinya. Mengapa wanita sebaik eomma harus bersama dengan laki-laki jahat seperti appa? Bahkan aku sudah tak sudi memanggilnya appa.”

“ Hari ini dengan berat hati aku meninggalkan eomma. mau bagaimana lagi, di Seoul aku yang bahkan tidak menyelesaikan kuliah mana mungkin bisa mendapatkan pekerjaan.aku terpaksa meninggalkan eomma agar kami bisa bertahan, dan sekalian membayar hutang appa pada tuan Kim, daripada dijual pada tuan Kim, lebih baik aku meninggalkan kota ini. Kebetulan Eunjae temanku menawarkan pekerjaan yang katanya berpenghasilan banyak di Jepang. Walaupun aku masih sedikit ragu, tapi melihat kesuksesannya setelah kembali ke Seoul tampaknya cukup membuktikan kalau pekerjaannya cukup bagus. Aku hanya bisa berdoa agar di Jepang nanti aku bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan bisa membahagiakan eomma.”

Yoona menarik nafas sejenak. Mencoba mencerna setiap kata yang ditulis Jessica di buku hariannya. Terbersit rasa kasihan setelah membaca beberapa tulisan Jessica. Mengetahui keadaan keuarganya yang nampaknya kurang harmonis. Ia lalu melirik pada sebuah jam dinding yang tergantung di sebelah foto.

“ Jam empat sore. . . “ Yoona kemudian menutup buku harian Jessica.

“ Bada, sepertinya hari ini cukup sampai disini. Eottohke? Kau sudah tahu Jessica Jung? Kau yang sangat antusias membaca buku hariannya kan?” Ucap Yoona pada Bada yang hanya berputar-putar di sekitar kakinya.

“ Besok kita lanjutkan, kalau sampai oppa menemukan kita disini, dia pasti akan sangat marah.” Yoona bangkit lalu berjalan ke arah perapian kemudian menyimpan kembali buku haria itu pada tempatnya. Cukup sulit untuk menjangkaunya.

“ Bada, Kaja!” Bada dengan cepat melompat dan berjalan di depan Yoona. Anjing itu cukup membuat Yoona tak merasa sendiri di rumahnya yang besar.

**

Donghae berjalan memasuki rumahnya. Ia lalu menjatuhkan tubuhnya di sebuah sofa besar yang ada di ruang tengah. Ia terlihat sangat lelah sepulang dari kantor. Ia melonggarkan dasinya kemudian menutup matanya sejenak, mencoba melepas semua penat yang ia bawa dari kantor. Beberapa saat kemudian Yoona datang dengan sebuah gelas berisi cappuccino hangat di tangannya. Diletakkannya gelas tersebut diatas meja kemudian ia hendak berlalu tak ingin menganggu suaminya yang nampaknya masih sangat lelah.

“ Yoona.” Panggil Donghae yang seketika membuat Yoona menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Donghae. Donghae lalu bangkit menghampiri Yoona. Ia lalu memeluk erat istrinya itu. Yoona yang sedikit kaget tak bergeming sedikitpun.

“ Oppa wae?” Tanya Yoona. Tak biasanya Donghae bersikap seperti ini.

Donghae membuang nafasnya dengan berat.

“ Aniyo, aku hanya sedikit lelah.”

“ Kalau begitu, aku siapkan makan malam dulu.”

Yoona mulai sibuk diruang makan, mempersiapkan segala sesuatunya sementara Donghae kembali duduk di sofa kemudian mulai menyeruput cappucinonya.

Perlahan Donghae bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati tangga yang ada di rumahnya itu, tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua rumahnya. Ia berdiri tepat di depan tangga tersebut, terdiam entah apa yang dipikirkannya, namun wajahnya terlihat datar.

“ Oppa makanannya sudah si. . .” Kalimat Yoona terpotong sesaat melihat Donghae yang berdiri mematung di depan tangga. Yoona kembali teringat pada apa yang menimpa Jessica dimana menurut Donghae, dia meninggal karena terjatuh dari tangga itu. Dulu Yoona sangat mempercayainya, namun sekarang ia mulai ragu.

“ Oppa…” Panggil Yoona pelan. Donghae lalu berbalik memandang Yoona dengan tatapan datar. Jujur Yoona agak takut akan hal itu.

“ Oppa makanannya sudah siap.” Ucap Yoona. Donghae seketika tersenyum, sangat berbeda dengan Donghae barusan.

“ Kaja, kita makan.” Ucap Donghae hangat lalu menuntun Yoona yang masih belum pulih kakinya dari kecelakaan. Yoona hanya menurut meskipun dalam hatinya ia masih sedikit kaget dengan sikap suaminya sebelumnya.

***

Next Day

Donghae membuka sebuah pintu ruangan dokter di rumah sakit dengan sedikit kasar. Seketika a disambut dengan senyuman oleh dokter yang ada di ruangan tersebut meskipun ia tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya melihat Donghae yang tiba-tiba datang

“ Oh, Lee Donghae-ssi. Lama tak berjumpa. Bagaimana kabarmu?” Tanya Dokter Kim ramah. Namun dilain pihak, Donghae sama sekali tak membalas senyum ramah sang Dokter, dan tentunya itu membuat dokter di depannya agak canggung, karena tak biasanya Donghae bersikap dingin seperti itu.

“ Ada apa Lee Donghae-ssi.” Tanya dokter Kim dengan nada berbeda. Ia sedikit kaget melihat Donghae, terakhir ia melihat Donghae saat di pesta pernikahannya dengan Yoona. Yah, dia pernah sangat dekat dengan Donghae terutama karena dialah Dokter yang pertama menangani Jessica sesaat setelah kecelakaan. Dan tentu saja dia pun turut mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada Jessica.

“ Bisakah kau jelaskan padaku mengapa Jang Geunsuk bisa memilki dokumen Jessica?” Tanya Donghae dengan nada berat mencoba menahan amarhnya. Dokter Kim di depannnya tampak kaget mendengar pertanyaan Donghae.

“ Mwo?”

“ Dokumen Jessica Jung istriku. Kenapa Jang Geunsuk bisa memilikinya? Kau memberikan padanya?” Tanya Donghae lagi.

“ Aniyo. Aku sama sekali tidak memperlihatkan dokumen itu pada siapapun.”

“ Kau mencoba membohongiku dokter? Aku sudah bilang padamu kan, jangan sampai dokumen itu diketahu pihak lain. Mengapa kau begitu ceroboh ha?” Tanya Donghae meninggikan suaranya. Nafasnya memburu, matanya memerah menandakan kemarahan yang teramat sangat.

“ Kau tahu apa yang terjadi jika orang mengetahuinya kan. Aku sangat mempercayaimu dokter.” Ucap Dongahae lagi.

“ Donghae-ah. Aku tidak mungkin membeberkan dokumen itu pada siapapun kecuali atas permintaanmu. Kalau Jang Geunsuk memiliki data itu, mungkin ia mendapatkannya dari pihak rumah sakit langsung. Namun dokumen seperti itu hanya bisa diambil oleh dokter. Aku takut jika ia bekerja sama dengan salah satu dokter di rumah sakit ini.” Ucap Dokter panjang lebar mencoba menenangkan Donghae.

Donghae terdiam mendengar penjelasan dokter. Ia tertunduk. Ia takut jika Jang Geunsuk benar-benar akan mengungkit apa yang terjadi pada Jessica, penyebab kematiannya. Ia benar-benar takut.

“ Mianhe Donghae-ah. Aku tahu hal ini berat jika Jang Geunsuk betul-betul ingin mencari kebenarannya. Tapi bagaimanapun kau mencoba untuk menutupnya rapat-apat, tetap saja suatu saat nanti akan ada orang lain yang mengetahuinya. “ Ucap Dokter menepuk bahu Donghae. Sementara Donghae hanya terdiam, mencoba memikirkannya saja membuat hatinya begitu sakit. Ingin rasanya ia menangis dengan sangat keras jika kembali dihadapkan pada kenyataan tentang Jessica.

“ Donghae-ah, jangan terlalu kau pikirkan tentang hal itu lagi. Kau sudah mengalami masa-masa yang berat, kau pasti akan kuat menghadapi kenyataan paling buruk ke depan mengenai keluargamu. Yang harus kau lakukan sekarang adalah menjaga dan menyayangi Yoona dan memastikan bahwa dia akan baik-baik saja. Kau sangat beruntung bisa mendapatkannya.

Yoona POV

Kali ini aku kembali mendatangi ruangan ini, ruang bawah tanah. Entah apa yang akan kudapat dari diari itu, aku harus mengetahui semuanya. Aku hanya ingin memperjelas semua, tentang Jessica dan tentang Donghae oppa. Karena aku tidak mau terlalu lama berburuk sangka pada Donghae oppa.

17 Desember 2004

Terakhir kali aku menulis di diary ini sebelum ke Jepang, aku masih ingat kalau aku sangat mengharapkan pekerjaan yang layak disini, maksudku bekerja sebagai pegawai kantoran. Eunjae ternyata sangat berani, atau bahkan gila. Tapi sayangnya aku malah larut di dalamnya. Aku. ..aku bahkan tidak sanggup menuliskannya disini, tentang pekerjaanku. Tapi sudah terlanjur, lagipula dengan begini aku bisa menghasilkan uang banyak, maksudku aku tidak perlu dimarahi oleh asisten di kantor, karena aku hanya tinggal menghibur para bos-bos berdompet tebal yang sudah lupa kalau mereka masih keluarga yang menyayangi mereka dirumah dan lebih memilih untuk menghabiskan malam-malam mereka dengan wanita sepertiku di club. Yah, memang menjijikkan apa pekerjaanku sekarang, tapi aku tidak ingin terkekang lagi. Jessica Jung harus istrirahat dari kehidupannya yang normal. Dan Jessica Jung tidak mungkin mau melakukan pekerjaan seperti ini, Soyeon yang melakukannya. Yah aku mengubah namaku menjadi Soyeon, aku tidak mau jika Jessica yang melakukan ini.

Aku menutup mulutku dengan telapak tangan, aku tak bisa bergerak, rasanya seluruh tubuhku kaku. Aku masih mencerna apa yang dituliskan Jessica di buku hariannya. Benarkah semua yang dituliskan ini? Jessica istri Donghae dulu bekerja sebagai wanita malam? Bagaimana bisa? Aku merasa ingin menangis, setelah membaca beberap diari Jessica sebelumnya, aku masih salut karena dia mencoba bertahan di tengah hidupnya yang malang. Namun sekarang, mengapa ia berbuat seperti ini? Apa Donghae oppa tahu akan hal ini?

Kupandangi  foto Jessica yang tergantung di ruangan itu. Ia sangat anggun, sangat cantik, ciri khas wanita kelas atas yang berpendidikan dan terhormat. Namun menerima kenyataan bahwa ia melakukan hal kotor membuatku sedikit marah padanya. Andai saja Jessica bisa menjelaskan mengapa ia melakukan semua ini.

Ding Dong~~~~

Suara bel pintu yang tiba-tiba seketika membuat Yoona tersentak. Ia segera beranjak dan dengan cepat menaruh buku harian itu pada tempatnya. Kemudian dengan tergesa-gesa ia menaiki tangga menuju ruamhnya. Bada mengikut di belakan Yoona seolah menjaga Yoona. Sementara bel pintu terus saja berbunyi, Yoona semakin mempercepat langkahnya.

Ia menemukan seorang pria jangkung dengan pakaian kantor yang masih melekat tengah tersenyum padanya. Sekilas terlihat sangat identic dengan senyum Donghae.

“ Annyeong” Ucap Dongwook ramah

“ Dongwook oppa.” Ucap Yoona setengah kaget melihat hyung-suaminya tiba-tiba berdiri di depannya.

“ Apa aku mengagetkanmu? Kau terlihat sedikit pucat.”

“ Ah aniyo.” Yoona dengan cepat menggeleng.

“ Yoona-yaaaa.”

Yoona dengan cepat menengok mendengar seseorang yang taka asing lagi banginya. Yuri dengan cepat langsung merangkul Yoona.

“ Aku merindukanmu Yoong.” Ucap Yuri

“ Nado eonni.”

Sementara Dongwook hanya bisa senyam senyum melihat dua wanita di depannya.

“ Keundae.. bagaimana dengan kakimu? Apa sudah baikan?” Tanya Yuri begitu duduk di ruang tengah.

“ Sudah baikan eonni. Emm.. kenapa eonni dan oppa tidak memberitahuku terlebih dahulu sebelum kesini? Supaya aku bisa menyiapkan hidangan untuk kalian berdua.” Protes Yoona karena ia merasa tidak siap menerima tamu sekarang.

“ Mianhe Yoona. Ini semua karena eonnimu. Tadi kami kebetulan saja ada urusan di daerah ini, dan tiba-tiba Yuri ingin mampir kesini.” Jelas Dongwook.

“ Iya Yoong. Aku hanya khawatir dengan keadaanmu. Kau masih belum pulih betul namun harus ditinggal sendirian dirumah. Apa kau tidak berencana untuk menyewa asisten rumah tangga untuk menemanimu sekalian?” Tanya Yuri.

“ Yuri benar Yoona.”

Yoona langsung menyunggingkan senyumnya mendengar ucapan dua orang di depannya. Ia tahu kedua suami isteri ini begitu memperdulikannya.

“ Aniyo. Aku tidak apa-apa ditinggal Donghae oppa untuk bekerja. Lagipula aku tidak sendiri lagi kok, ada yang menemaniku dirumah ini.”

“ Mwo? Siapa? Keluargamu?” Tanya Yuri bertubi-tubi.

“ Bukan. Sehun adikku mengirim anjingnya kerumah ini. Dia yang menemaniku selama Donghae oppa tidak ada.” Ucap Yoona santai.

“ Anjing? Lalu kemana anjing itu?” Tanya Dongwook.

Yoona pun kemudian memanggil-manggil bada. Sekian kali ia memannggil namun anjing itu tak muncul-muncul juga.

“ Biasanya anjing itu penurut. Mungkin dia ada diruang bawah tanah.” Ucap Yoona enteng.

“ Mwo?!” Ucap Yuri dan Dongwook bersamaan. Yoona sedikit kaget mendapati reaksi kedua orang di depannya ini, sebegitu mengagetkannya kah mendengar bahwa ia mendatangi ruang bawah tanah di rumahnya sendiri?

“ Ruang bawah tanah? Memangnya kau pernah kesana Yoong?” Tanya Yuri langsung

Yoona dengan cepat mengangguk mengiyakan.

“ Ne. aku hanya bersih-bersih.” Jawab Yoona.

“ Oh.. Itu memang perlu. Keundae kakimu kan sedang sakit Yoong. Lebih baik kau tidak usah sering sering kesana.” Ucap Yuri lagi. Ia sedikit melirik Dongwook di dekatnya yang hanya diam.

“ Ne, Donghae oppa juga sebenarnya melarangku mendatangi tempat itu. Tapi aku sangat tidak tahan melihat betapa berantakannya ruangan itu. Jawab Yoona.

“ Tapi tidak usah dipaksakan juga kan?”

“ Ne eonni.”

Sejenak mereka hening. taka da yang ingin bersuara. Melihat suasana Yuri pun segera beralih pada Dongwook suaminya.

“ Oppa, sepertinya eomma sudah tiba dirumah. Junhyun akan marah jika kita tidak ada disana.”

Dongwook hanya mengangguk mendengar ucapan Yuri.

“ Yoona, mianhe kami harus segera pergi. Aku sepertinya terlalu khawatir akan keadaanmu, tapi melihatmu sekarang, aku yakin kau akan segera pulih.”

“ Ne, Gomawo eonni.”

“ Kalau ada apa-apa, hubungi aku atau Dongwook oppa ya. Dan sampaikan salam kami pada Donghae. “

Yoona tampak hendak kembali ke ruang bawah tanah. Ia sedkit merasa bersalah karena harus melanggar apa yang dikatakan Donghae untuk tidak keruangan itu. Namun ternyata rasa penasarannya lebih besar. Ia harus mengetahui kenyataan apa sebenarnya yang telah terjadi dirumah besarnya ini.

28 Februari 2005

“ Jessica Jung… nama itu, aku benar-benar telah meninggalkan kepribadiannya. Menyadari apa yang aku lakukan sekarang membuatku merasa orang lain. Hidupku kini terasa sangat berbeda. Malam hari aku habiskan bersama pria-pria yang telah larut dalam hingar bingar dunia. Begitu banyak pria yang sudah aku temui disana, dan banyak pula yang telah memintaku untuk tidur dengan mereka. Jika teman-temanku melihat apa yang aku kerjakan sekarang, mereka pasti mengatakan bahwa aku sudah tidur dengan pria hidung belang itu, namun aku tidak mau mereka menyamakan aku dengan wanita lain di club itu. Tatapan pria pria yang datang di club semuanya sama, menatapku sama saat mereka menatap pelacur yang sering mereka pakai. Mereka hanya mendatangi wanita sepertiku saat mereka mabuk. Tidak ada cinta dimata mereka. Namun sepertinya persepsi awalku salah terhadap seorang pria yang akhir-akhir ini sering datang di club. Ia agak sedikit berbeda. Maksudku ia tidak sebrengsek pria lainnya yang hanya datang untuk mabuk-mabukan kemudian menyewa wanita Sebagai pemuas nafsu mereka. Aku bisa merasakan bahwa ia memperlakukanku dengan sopan. Aku tentu saja gembira akan hal itu. Dan semakin gembira lagi karena kami cepat akrab. Hanya dia pria yang bisa aku percaya untuk saat ini. Kenzo, nama yang bagus”.

30 April 2005

“ Apakah aku sudah menceritakan soal pria yang kukenal beberapa waktu yang lalu? Ah sepertinya aku harus menambahkan banyak-banyak nama Kenzo di buku harian ini. Dia telah memberikan sedikit harapan pada diriku. Setidaknya kini aku merasa sangat dihargai sebagai seorang wanita. Kami semakin dekat, aku sangat nyaman ngobrol dengannya, sampai-sampai boss sering menegurku karena tak lagi selaku dulu. Yah aku akui aku banyakmenghabiskan waktu kerjaku hanya dengan berbicara dengan Kenzo. Berada di dekatnya membuatku nyaman. Aku sendiri tak yakin, tapi apakah sepertinya menyukainya? Mungkin juga mencintainya? Yah, aku belum pernah merasakan sangat nyaman berada di dekat orang, apalagi seorang pria. Dengan memandangnya saja aku merasa bahagia. Mendengarnya berceloteh, melihat binar di matanya. Oh Tuhan, apakah aku harus memberitahukannya bahwa aku mencintainya?

15 Juli 2005

Hubungan kami semakin serius, maksudku aku dan Kenzo. Aku menjadi jarang kerja karena Kenzo tak terlalu menyukainya. Yah, kami sangat dekat sekarang, bahkan Ia mengajakku tinggal di apartemennya. Kau bisa bayangkan betapa dekatnya kami, maksudku dialah pria yang telah membuatku bertekuk lutut. Aku bahkan telah menyerahkan segalanya padanya. Jessica Jung. . . kau sudah melakukan sesuatu yang diluar batas. Tapi aku tidak menyesal, toh aku melakukannya dengan pria yang aku cintai. Namun tak bisa kusembunyikan rasa takutku,terlebih lagi setelah semua yang telah kami lalui, aku takut akan kehilangannya.  Ada satu hal lagi. Mungkin walaupun kami tinggal bersama, namun aku merasa belum terlalu mengenalnya. Kami menjalani semuanya tanpa status apa-apa. Bahkan disebut sepasang kekasih pun tidak. Tapi yang aku yakini, Kenzo punya perasaan sama denganku. Aku sangat mencintainya…

Membaca diary Jessica seolah membaca novel cinta bagi Yoona. Jessica sangat suka menuangkan semua yang ia rasakan pada diarynya, sangat berbeda dengan Yoona. Bermunculan cerita tentang kehidupan cinta Jessica sebelum bersama Donghae. Kenzo, sosok yang misterius yang sangat dicintai Jessica, siapakah dia sebenarnya? Yoona menutup buku harian itu dengan lemas. Apapun yang dipikirkannya saat ini tentang Jessica membuatnya pusing sendiri. Apa Donghae tau semua masa lalu Jessica? Apa karena itu ia mungkin membunuh Jessica? Yoona segera menepuk-nepuk keningnya untuk segera membuang jauh-jauh pikirannya itu. Cerita hidup Jessica begitu rumit dan berliku. Dan ia yakin akan segera mendapat pencerahan di lembar lembar yang belum ia buka.

Namun suara bel pintu kembali menghentikan aktivitasnya. Ia segera menyimpan buku harian Jessica dan menuju ruang tamu kemudian membuka pintu tanpa melihat siapa yg datang.

“ Siapa lagi? “ Keluh Yoona sendiri. Ia berpikir apakah Yuri dan Dongwook lagi yang kembali karena melupakan sesuatu. Dengan sedikit tergesa ia berjalan mendekati pintu lalu membukanya.

Ternyata prediksinya salah. Ia mendapati seorang pria yang mungkin sangat tidak ingin ditemuinya kini berdiri di depannya.

“ Jang Geunsuk-ssi?” Ucap Yoona kaget. Jang Geunsuk hanya tersenyum.

“ Mau apa kau kesini? Donghae oppa sedang tidak ada.” Ucap Yoona lagi terbata-bata.

“ Bisakah kau mempersilahkan tamumu untuk masuk terlebih dahulu?”Ucapnya pelan. Jujur saja Yoona agak sedikit takut akan kedatangan orang ini. Tapi walau bagaimanapun ia akan sangat tidak sopan jika langsung mengusirnya. Dengan sangat berat hati Yoona mempersilahkan Jang Geunsuk masuk.

“ Aku buatkan minum.” Ucap Yoona lalu segera berlalu dari hadapan Jang Geun Suk. Dilain pihak tampaknya hal ini digunakan Jang Geunsuk untuk melihat-lihat keadaan rumah. Ia berjalan mendekati tangga rumah itu. Ia terdiam sejenak. Entah apa yang ia pikirkan namun hanya memandangi tangga di depannya.

“ Jessica.” Ucapnya setengah berbisik.

“ Jang Geunsuk-ssi apa yang kau lakukan disitu?” Ucap Yoona tiba-tiba. Jang geunsuk langsung berbalik dan mendapati Yoona tengah berdiri sambil membawa secangkir kopi. Yoona sendiri semakin takut melihat Jang Geunsuk yang berdiri mematung di depan tangga, persisi seperti apa yang dilakukan Donghae.

“ Aku hanya melihat-lihat rumahmu yang besar ini.” Ucap Jang geunsuk.

“ Begitukah?”

Yoona lalu berjalan mendekati meja tamu untuk menaruh kopi ditangannya. Begitupun dengan Jang Geunsuk. Namun langkahnya seketika terhenti saat melihat pintu menuju ruang bawah tanah yang terbuka. ia terdiam sejenak namun segera tersadar kemudian duduk di sofa.

“Jadi, ada urusan apa kau kesini jang Geunsuk-ssi?”

“ Apa tidak ada hal aneh yang terjadi pada rumah tangga kalian akhir-akhir ini?”

“ Untuk apa ka menanyakakn sola rumah tanggaku?”

“ Aniyo. Kalau ada yang terjadi atau ada yang menyakitimu, segeralah hubungi aku atau kepolisian.”

“ Apa maksudmu sebenarnya Jang geunsuk-ssi?

“ Di tangga itu, Jessica Jung meninggal. Teman kecilku Jessica meninggal disana Yoona.”

Yoona bergidik mendengar perkataan jang Geunsuk.

“ Kepolisian ingin menutup kasus kematian Jessica dengan status bahwa itu adalah kecelakaan tunggal.”

Mata Jang Geunsuk berkaca-kaca. Sepertinya ia menahan tangisnya.

“ Tapi aku tidak percaya semua yang dikatakan oleh kepolisian. Semua yang disimpulkan oleh teman-temanku. Kau mau tahu mengapa, Yoona?

Jang Geunsuk kemudian mengalihkan pandangannya ke Yoona. Yoona sedikit takut melihat Jang Geunsuk yang sekarang. Ia terlihat sangat sedih. Yoona tak merespon pertanyaan Jang Geunsuk.

“ Karena aku yakin Jessica tak mungkin meninggal karena kecelakaan tunggal. Terjatuh dari tangga? Heh, kecelakaan macam apa itu? Aku yakin Jessica tak seceroboh itu sampai bisa mengalami kecelakaan yang sampai merenggut nyawanya.

“ Mungkin saja Jang Geunsuk-ssi. Mengapa kau begitu yakin?”

“ Karena Jessica tidak akan terjatuh jika tidak ada orang yang sengaja mendorongnya.”

“ Apa yang membuatmu menyimpulkan hal demikian? Apa kau punya bukti?” Pertanyaan Yoona seolah menantang Jang Geunsuk.

“ Ada bekas tangan manusia di lehernya. Dia disiksa sebelum dijatuhkan dari tangga. Dia sangat tersiksa, dia sangat menderita. JESSICA MENINGGAL KARENA DICEKIK, KEMUDIAN DILEMPAR DARI TANGGA SEOLAH-OLAH DIA TERJATUH DAN MENYEBABKAN LEHERNYA PATAH!! JESSICA DIBUNUH YOONA!!”

Jang Geunsuk berteriak di hadapan Yoona. Sementara Yoona hanya bisa menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Ia tak ingin mendengar hal itu. Ia takut mendengarnya, ia takut perkiraannya selama ini akan menjadi sebuah kebenaran.

“ Selama ini perkiraanku benar. Ini adalah pembunuhan. “ Jang Geunsuk kembali menenangkan dirinya.

“ lalu apa tujuanmu mengatakan semua hal ini kepadaku?”

“ Kau perlu mengetahuinya karena kau menggantika posisi Jessica sekarang. Kau perlu mengetahuinya karena kaulah yang bersama monster itu sekarang. Kau perlu mengetahuinya kerana kau adalah istri dari seorang Lee Donghae. Orang yang telah membunuh Jessica.

“ HENTIKAANN!!!” Yoona berteriak sambil menutup kedua telinganya. Ia menangis mendengar semua yang disucapkan Jang Geunsuk.

“ sudah cukup kau menjelek-jelekkan suamiku di depanku Jang Geunsuk. Tetap aku tidak akan mempercayaimu. Suamiku bukanlah pembunuh. DONGHAE OPPA BUKAN PEMBUNUH!! SEKARANG KAU PERGI!!”

Jang Geunsuk tersenyum sinis mendengar ucapan Yoona

“ sebentar lagi kebenaran akan mendatangimu Im Yoona.”

“ PERGI!! PERGI KATAKU!!

Yoona menangis. Hatinya sakit sesakit sakitnya. Bagaimana mungkig seseorang memasuki rumahnya dan mengatakan bahwa suaminya adalah seorang pembunuh? namun dilain hal ia justru semakin takut akan kebenaran semua hal yang dikatakan Jang Geunsuk. Jessica meninggal karena dibunuh? Kenyataan tentang siapa sebenarnya pembunuh Jessica lebih menakutkan baginya dibandingkan jawaban dari mengapa Jessica harus dibunuh. Jika benar apa yang dituduhkan Jang Geunsuk bahwa suaminya sendirilah yang membunuh Jessica, apa yang harus dilakukannya? Akankah ia terus bertahan dengan semua pertanyaan yang semakin hari semakin menggunung di kepalanya.  Dan yang terpenting apakah ia juga akan bernasib sama dengan pendahulunya?

****

Yoona seketika tersentak begitu Donghae membuka pintu kamar dengan sangat keras. Ia kaget mendapati Donghae yang tengah menatapnya tajam. Seketika Donghae melangkah menghampirinya yang berada di depan meja riasnya.

“ Oppa. . .”

“ Mengapa kau tidak menepati janjimu?” Ucap Donghae gusar.

Yoona lalu berdiri dari tempat duduknya.

“ Ne?”

“ Mengapa kau tidak mematuhi apa yang kukatakan padamu?” Ucap Donghae lagi.

“ Oo..pa, apa maksudmu?” Ucap Yoona terbata-bata, jujur saja ia sangat takut melihat Donghae yang sekarang. Ia tampak sangat marah.

“ Jangan pura-pura tidak tahu Im Yoona. Atau kau betul-betul tidak mengerti apa yang aku maksudkan. Baiklah aku akan memberitahumu. Kau ke ruangan bawah tanah.”

Seketika Yoona tercekat. Badannya bergetar. ia semakin takut saja pada suaminya itu. Tiba-tiba Donghae mencengkram erat pergelangan tangannya. Lantas Yoona meringis kesakitan.

“ Aku sudah melarangmu ke tempat itu. APA KAU TAK MENDENGAR?!” Ucap Donghae membentak.

“ Op..pa Mian..he, tapi lepas..kan aku.. sa..kit.” Yoona mencoba meronta untuk melepaskan tangannya dari cengkraman Donghae. Tapi tetap saja ia kalah tenaga.

“Apakau sudah tidak mau mendengarkanku lagi?”

“ Wae? Mengapa kau sangat melarangku ke tempat itu? Apa karena Jessica? Karena semua yang berhubungan dengan Jessica ada di tempat itu?

Ucap Yoona. Ia kini dikuasai oleh emosinya. Ia menangis, bukan hanya karena rasa sakit dari cengkraman suaminya, namun juga rasa sakit hati yang dipendamnya selama ini. Rasa kecewa pada suami yang sangat dicintainya.

“ KAU!” Lagi Donghae membentak. Dan mempererat cengkramannya.

“ Benar. Kau marah karena itu kan? Karena oppa tidak ingin ada orang yang mengusik apapun tentang Jessica, bahkan untukku, istrimu sendiri.” Ucap Yoona emosi.

“ IM YOONA!”

“ Kau masih mencintainya. Kau masih belum bisa membuka hatimu untuk orang lain. Kau tahu, hatiku sangat sakit oppa.

“ Apa yang kau katakan? Apa kau tidak menghargai aku sebaga suamimu?” Ucap Donghae dengan nada yang lebih rendah dari sebelumnya.

“ JUSTRU KAU YANG TIDAK MENGHARGAIKU SEBAGAI ISTRIMU!!” Kali ini tak bisa lagi menanggung semua rasa sakit dalam hatinya. Ia sudah tahan.

“ Jangan bicara sembarangan Yoona!”

“ Kau telah membohongiku oppa, dan itu sangat sakit. Jauh lebih sakit dari luka yang ada di tubuhku.”

“ Berbohong tentang apa lagi?”

“ Katakan padaku apa yang terjadi sesaat setelah kecelakaan!”

Skak Mat! Donghae seketika terdiam. Ia tak bisa berkata apa-apa. Kali ini Yoona betul-betul membuatnya terdiammembisu.

“ Kau tidak bisa mengatakannya kan oppa? Dan itulah yang membuat hatiku sakit sesakit-sakitnya.”

Donghae tak bisa berkata-kata lagi. Perlahan genggaman tangannya di pergelangan tangan Yoona melemah hingga akhirnya ia melepaskannya.

“ kalau kau memang masih belum bisa menerimaku sebagai pengganti Jessica, katakan oppa. Agar aku tidak terkurung di dalam rumahmu yang besar ini. Agar aku tak didatangi oleh orang yang selalu mengaitkanmu dengan kematian Jessica.” Ucap Yoona terisak

“ Mwo? Siapa yang mendatangimu sayang?” Kini ucapan Donghae kembali lembut.

“ Kau masih mempertanyakannya? Siapa lagi kalau bukan Jang Geunsuk.”

Mendengar ucapan Yoona, seketika reaksi Donghae berubah. Wajahnya kini menggambarkan kepanikan yang teramat sangat.

“ Dia mendatangimu lagi? Apa yang dilakukannya? Apa dia bercerita sesuatu padamu?” selidik Donghae.

“ mengapa kau terlalu mengkhawatirkan apa yang dikatakan Jang Geunsuk padaku? Apa kau takut rahasiamu terbongkar oppa? Kebenaran dibalik kematian Jessica?”

“ Im Yoona jaga ucapanmu.”

“ Wae? Apa oppa berbohong juga soal kematian Jessica? Kau tidak akan pernah sanggup untuk memberitahukanku kebenaran dibalik kematiannya kan oppa?”

“ Yoona!”

“ Kau takut oppa, kau takut mengatakan kebenaran. Yah itulah dirimu.”

“ Kau sudah keterlaluan Im Yoona.”

“ itu benar oppa. Kau takut mengatakan kebenaran. Kau bahkan tidak mampu mengatakan apa yang terjadi sesaat setelah kecelakaan. Kau tau kenapa oppa?”

Donghae terdiam mendengar semua yang diucapkan Yoona. Lidahnya kelu seolah tak bisa membalas apa yang dikatakan Yoona tentang dirinya.

“ itu karena rasa bersalahmu yang terlalu besar. Rasa bersalahmu telah menutupi semua kebenaran dan kejujuran yang selama ini telah hilang di dirimu. Sadarlah oppa, aku bukanlah boneka yang hanya bisa diam melihat suaminya telah berubah, berubah menjadi orang lain yang sangat berbeda dari suamiku yang selalu menyatakan cintanya padaku disetiap harinya.”

Yoona menarik nafas dalam. Ia merasa telah banyak mengatakan hal yang seharusnya ia tidak katakan. Namun emosinya yang telah mencapai puncaknya menginginka hal demikian.

“ Apa kau sudah selesai Im Yoona? Apa tidak ada lagi hal yang ingin kau sampaikan padaku?”

Ucap Donghae lembut. Yoona kaget akan reaksi suaminya. Ia lalu menatap kedalam mata Donghae. Tatapan suaminya datar, tidak ada ekspresi kemarahan disana seperti sesaat yang lalu. Hanya tatapan datar yang sulit diartikan.

“ Oppa tidak tahu bahwa selama ini kau sesakit itu. Maaf karena aku tidak menyadarinya Yoona. Maaf karena selama ini aku seolah mengabaikanmu. Dan mengenai apa yang terjadi sesat setelah kecelakaan, aku pikir oppa tidak usah mengatakannya padamu karena itu hanya akan memperdalam rasa sakitmu.”

Ucap Donghae pelan. Yoona terperanjat mendengar apa yang dkatakan suaminya. Mengapa ia begitu berbeda sekarang? Mengapa ia tidak marah dengan semua ucapan Yoona? Mengapa suaminya begitu cepat berubah?

Donghae menarik nafasnya dalam, mencoba berucap namun sedikit berat. Dadanya terasa sesak untuk berkata-kata.

“ Orang lain boleh mengatakan sesuatu yang buruk tentangku Yoona, tentang kematian Jessica. Sekarang hanya dirimulah yang kuharapkan berada di pihakku, dan menyingkirkan pikiran buruk dibalik kematian Jessica. Tapi sekarang nampaknya kau sudah berubah Yoona. Kau seolah menjadi salah satu dari mereka yang selalu menghakimiku tanpa mengetahui kebenarannya. Mengapa kau selalu mempertanyakan sesuatu yang sangat menyakitkan bagiku Im Yoona?”

Yoona seketika merasa bersalah mendengar ucapan suaminya. Memang benar selama ini begitu banyak orang yang berpikiran bahwa Donghaelah yang membunuh Jessica. Dan sekarang saat semua orang menghakimi suaminya, akankah ia menjadi bagian dari mereka? Tentu saja tidak.

“ Lalu maukah kau memberitahukan kebenaran itu padaku oppa?” Tanya Yoona

Donghae seketika menggeleng.

“ Aku dari dulu sudah memberitahukanmu tentang apa yang terjadi padanya. Tidakkah itu cukup?”

Yoona tak bisa berkata apa-apa lagi. Air matanya mengalir deras. Ia tahu bahwa Donghae selamanya tidak akan memberitahukan apa sebenarnya yang terjadi pada istri terdahulunya. Ia kecewa, kecewa akan sikap suaminya yang sudah tidak jujur lagi padanya. Ia tahu bahwa Donghae tidak mengatakan yang sebenarnya.

“ Aku kecewa padamu Oppa.” Ucap Yoona datar.

Yoona kemudian berlalu dari hadapan Donghae. Ia keluar dari kamarnya dengan air mata mengalir deras di wajahnya yang mulus. Ia lalu berjalan ke ruang tengah, disana ia menangis. Kejujuran nampaknya sangat susah ia dapatkan dari suaminya. Bahkan Donghae tak mau mengatakan yang terjadi sesaat setelah kecelakaan. Sebuah memori kelam yang begitu banyak menyisakan rasa sakit dihati Yoona. Kembali suara decitan besi terdengar di telinganya. Bau asap mobil yang terbakar, bau amis darah dan rasa sesak berada di bawah mobil yang hancur karena kecelakaan kembali ia rasakan. Memori kelam itu datang, menamabah rasa sakit dihatinya.

“ Oppa. . .” aku mencoba membuka mataku. tubuhku kini terjepit dibawah mobil yang baru saja menabrak markah jalan. Kulihat Donghae oppa yang berada tak jauh dariku juga dalam keadaan yang sama terjebak di bawah puing puing mobil kami.

“ Sayang, apa kau baik-baik saja?” samar-samar kudengar suara Donghae oppa.

“ Oppa. . . Donghae op..pa. . .”

“ Sayang, kau mendengar suaraku? Kau masih sadar?. Ucap Donghae oppa lagi. Aku  ingin sekali menyahut, namun aku tak sanggup lagi bahkan untuk mengucapkan satu kata pun.

“ Sayang, Jessica sayang. Kau medengarku? Jessica?

Saat ini, terdengar jelas di telingaku bagaimana Donghae oppa memanggil nama Jessica. Apakah Donghae oppa sadar mengatakan hal itu padaku, memanggi nama Jessica  sementara akulah yang kini terbaring lemah di sampingnya bukan Jessica.

“ Oppa. . . A..ku bu..kan. . .” Ucapku sekat tenaga

“ Jessica kau mendengarku? Kalau kau masih mendengar suara oppa, pegang lenganku. Pegang lenganku Jessica. Kau mendengarku?”

Kini aku hanya bisa meangis dibawah puing mobil kami  yang entah kapan akan meledak. Rasa sakit hatiku kini lebih dalam dibandingkan sakit di tubuhku. Bahkan disaat seperti ini, yang ia ingat hanya Jessica, apakah aku tidak dianggap olehnya? Apakah hatinya tidak pernah terbuka untukku?

“ Jessica sayang dengarkan oppa. Kita akan baik-baik saja. Polisi akan datang sebentar lagi. Kau bisa bertahankan sayang?”

“ Tetaplah bertahan Jessica. Oppa mencintaimu.”

 

*********

 

Dia pergi meninggalkanku dan menikah dengan wanita pilihan orang tuanya. Dia meninggalkanku disaat aku mulai mempercayainya, dan menyerahkan kepadanya  semua yang kumiliki. Dia membohongiku soal dirinya, mengatakan bahwa dia orang Jepang, nyatanya kini ia kembali ke Korea. Korea. . . aku bahkan hampir lupa nama itu.

Aku akan menyimpan kenangan manis sesaat bersamamu. Jangan pernah lupakan aku, karena aku akan selalu mencintaimu. . . Kenzo

Flashback Jessica’s story

“ Maafkan aku Soyeon-chan. Aku tidak bisa bersamamu lagi. Maaf.”

“ Apa yang kau bicarakan? Mengapa tiba-tiba. . .

“ untuk terkahir kali, aku ingin jujur padamu. Aku hanya pelajar disini, aku hanya pendatang di Jepang. Jangan salah paham, aku hanya ingin kau mengerti.”

“ Aku tidak pernah mempersalahkan kau pendatang atau bukan. Aku hanya kecewa kau berbohong padaku.”

“ Aku hanya tidak ingin menyisakan kebohongan padamu Soyeon. Maafkan aku, mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu, sampai suatu hari nanti kau kembali ke Korea dan mungkin kita akan berpapasan di jalan.”

“ Aku baru tahu kalau kau orang Korea. Tidak ada gunanya bertanya padamu mengapa Kau baru mengatakannya sekarang. Tapi mengapa kau harus pergi Kenzo? Mengapa kau meninggalkanku setelah apa yang kita lalui.”

“ Aku. . . Aku harus pulang. Ini permintaan orang tuaku.”

“ Dan kau meninggalkanku begitu saja?”

“ Maafkan aku.”

“ Kenzo. . .”

“ Selamat tinggal Soyeon-chan.”

 

***

Pagi itu, sarapan dirumah Donghae dan Yoona terasa hambar. Keduanya tak mengeluarkan sepatah katapun, hanya denting sendok dan garpu yang menghiasi sarapan mereka sampai akhirnya

“ Yoona.” Panggil Donghae. Yoona kemudian menghnetikan aktivitas sarapannya lalu beralih pada Donghae.

“ Oppa minta maaf karena membentakmu tadi malam. Oppa tidak bermaksud.”

“ Gwaencanha oppa.” Hanya dua buah kalimat kemudian pembicaraan mereka kembali terhenti. Tak ada suara lagi sampai keduanya menyelesaikan sarapan begitu selesai, Yoona hendak membereskan sisa piring sarapan namun nampaknya ia agak kaseulitan kali ini, terutama karena ia masih harus memakai tongkat, hingga akhirnya ia terjatuh namun untung saja segera ditahan oleh Donghae.

“ Sayang kau sakit?” Tanya Donghae khawatir

“ Aku hanya sedikit lelah oppa.”

“ Kau harus istirahat sekarang, biar oppa yang selesaikan semua ini.”

Donghae pun segera membopong Yoona menuju kamar mereka dan menidurkan Yoona diatas tempat tidur. Dielusnya rambut istrinya itu.

“ Oppa.”

“ hmm?”

“ Selama ini aku terlalu menekanmu untuk menceritakan soal masa lalumu bersama istrimu.”

Yoona sejenak terdiam

“ Aku sudah tidak mempercayaimu oppa. Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan menanyakan soal itu lagi.”

Donghae tersenyum mendengar ucapan Yoona. Ia kini lega karena namaknya Yoona sudah seperti biasanya.

“ Apap oppa cuti saja hari ini dan menemanimu dirumah?”

“ Tidak usah oppa. Aku baik-baik saja. Oppa berangkatlah sekarang, nanti oppa terlambat.”

“ Baiklah kalau begitu, tapi sebelum oppa pergi, oppa ingin . . .

Tanpa mengucapkan kata-kata, Donghae segera menarik Yoona mendekat kemudian melumat habis bibir Yoona. Ia merindukan ciuman seperti ini. Sejenak mereka terlarut dalam ciuman yang cukup panas itu.

“oppa pergi.”

Sepeninggal Donghae bekerja, Yoona bangun dan berjalan keruang tamu. Saat melewati pintu menuju ruang bawah tanah, ia berhenti sejenak. Nampaknya rasa penasaran akan kelanjutan cerita Jessica mengusiknya.

Disaat bersamaan, tiba-tiba Bada datang melompat dan berlari menuju pintu ruang bawah tanah seolah mengajak Yoona untuk berjunjung kesana.

“ Kau ingin kesana lagi Bada?”

Seolah mengerti pertanyaan Yoona, Bada mengoggong seolah mengiyakan. Yoona berpikir sejenak, memikirkan apa yang dikatakan Donghae padanya. Tapi kenapa suaminya itu tahu bahwa ia mengunjungi ruang bawah tanah? Pasti ada sesuatu yang membuat Donghae mengetahui kunjungannya ke ruang bawah tanah. Yoona terus berpikir, ia mencoba mengingat kembali jejak yang mungkin ia tinggalkan. Ia lalu memandangi tongkat yang selalu dipakainya, dan benar saja. Itu jawabannya. Ujung tongkatnya yang cukup runcing meninggalkan bekas yang sangat kelihatan.

“ Sebaiknya aku tidak memakai tongkat ini Bada. Donghae oppa tahu dari bekas tongkat ini.”

Yoona lalu meletakkan tongkatnya begitu saja dilantai.

“ Aku pasti bisa berjalan tanpa tongkat. Aku harus berusaha jika ingin mengetahui cerita sesungguhnya, jika ingin mengetahui misteri di rumah ini.”

Yoona mencoba melangkahkan kakinya. Ia sangat kesulitan melangkahkan kakinya yang satu, berat rasanya memindahkan bagian tubuhnya yang satu itu. Keringat mengucur dari pelipisnya, sementara Bada hanya mengekor seakan menjaga Yoona untuk tidak jatuh.

“ Baiklah, kita akan mengunjungi Jessica lagi. Kuharap dia tidak bosan dengan kedatangan kita Bada”

Yoona dengan susah payah berjalan menuruni tangga sampai ia tiba di ruangan itu lagi. Ia pun dengan agak kesulitan mengambil diary milik Jessica yang memang tersimpan di tempat yang tidak biasa. Ia bahkan tidak berpikir bahwa akan ada diary yang disembunyikan didalam perapian. Untung saja saat itu Bada yang menemukannya.

Yoona kembali duduk di sofa tempatnya biasa membaca dary Jessica. Ia ingin segera membaca keseluruhan diary Jessica karena ia yakin semua kebenaran akan Jessica tuliskan di dalam buku haria itu. Namun disaat ia mulai membuka buku harian itu,suara dering telepon menghentikan aktivitasnya. Dengan cepat, ia pun beranjak dan segera menaiki tangga menuju ruang tengah. Telepon tetap saja berdering nyaring sampai akhirya Yoona mengangkat telepon itu.

“ Yoboseyo?” Sapa Yoona. Satu detik.. dua detik sampai detik berikutnya tidak ada jawaban.

“ Yoboseyo? Nuguji” Ucap Yoona lagi namun tetap tidak ada jawaban. Hanya suara nafas orang yang ia dengar samar-samar

“ Yoboseyo? Yob. . . “ dan telepon pun terputus.

Yoona meletakkan ganggang telepon dengan ekspresi bingung. Namun ia tetap berpikir positif, mungin orang yang salah sambung.

Yoona kemudian hendak kembali ke ruang bawah tanah, namun begitu sampai di depan tangga, telepon kembali berdering. Dengan sedikit jengkel Yoona kembali mengangkat telepon tersebut

“ Yoboseyo.” Yoona masih dengan nada yang sama. Tidak ada jawaban.

“ Yoboseyo? Maaf anda dengan siapa?” Tanya Yoona lagi, beberapa saat ia menunggu namun tetap tidak ada jawaban, hanya suara nafas samar-samar.

“ Jika anda hanya ingin bermain-main, maaf anda salah sambung.” Yoona menutup ganggang telepon dengan kasar. Jujur saja ia jengkel bercampur cemas akan penelpon tadi. Siapa sebenarnya yang menelpon?

Yoona lalu melangkahkan kakinya lagi menuju ruang bawah tanah, namun sebelum menuju tangga sekilas ia melihat seseorang dari jendela rumahnya. Begitu ia mencoba memperjelas pandangannya, orang itu elah menghilang. Ia semakin cemas. Sesaat kemudian telepon kembal berdering. Ia tidak mau kembali dan mengangkatnya. Ia hanya mempercepat langkahnya memasuki ruang bawah tanah, kemudian menyimpan kembali diary Jessica di tempatnya. Ia melakukannya dengan sangat cepat. Begitu semuanya selesai, ia segera kembali ke ruang tengah, kali ini diikuti Bada. Telepon itu pun berhenti berdering.

Keringat mengucur dari dahi Yoona. Ia yakin sekali melihat orang lain dari jendela rumahnya tadi. Tapi siapa? Dan apa yang diinginkannya? Apa ada hubungannya dengan penelpon tadi? Penelpon yang sama sekali tak bersuara dan hanya memperdengarkan bunyi nafasnya? Entahlah, tapi yang pasti Yoona saat ini sangat cemas dan takut, takut sesuatu yang buruk akan menimpanya.

Kring..Kriiing..Kringg!!

Suara dering telepon yang nyaring menghentakkan Yoona dari pikirannya. Ia semakin cemas. Ia jujur saat ini takut untuk mengangkat telepon itu. Namun telepon itu terus berdering nyaring hingga menggema di seantero rumah besar itu. Perlahan ia mendekati ganggang telepon. Ia menarik nafasnya dalam mencoba menenagnkan dirinya. Perlahan ia dekatkan ganggang telepon ke telinganya, dan. . .

“ Yoboseyo?” Ucap Yoona dengan suara bergetar.

“ Yoboseyo!”

 

Bersambung . . .

 

***

Note      : yaelah itu diakhir udah kayak sinetron tukang bubur naik haji, pake bersambung segala. Yang rudah baca coment doong~~  halah :P

mwne poster

Title       : Marriage Will Not Expire Part 9

Author  : Kid Kaito

Cast       : Donghae,Yoona, Siwon, Tiffany, Changmin,Lee Seung Gi

Genre   : Family, Chapter

Rating   : PG-15

Note      :  Annyeonghaseyo. . . Author datang bawa part baru nih *terus?* *readers : yaelah ni author atu lama banget baru nongol, kite semua udah pade lupa ama jalan ceritnya.* maaf ya readers semua, aku baru bisa ngepost sekarang karena ada saja ‘sesuatu’ yang membuatku prokrastinasi. Semoga part Sembilan ini nggak ngecewain readers semua yah.. selamat membaca^^

 

 

MARRIAGE WILL NOT EXPIRE

 

 

Changmin tampak memarkirkan mobilnya di halaman sebuah rumah yang cukup besar. Pekarangan rumah itu terlihat sangat luas dan hijau, dengan berada di halamannya saja sudah membuat hati tenang. Changmin lalu melangkahkan kakinya menuju rumah di depannya diikuti Donghae yang tadinya juga berada dalam mobil yang dikemudikan Changmin.

Senyuman hangat dari seorang lelaki paruh baya menyambut kedatangan Changmin dan Donghae. Mereka berdua langsung membalas perlakuan ramah sang pemilik rumah yang terlihat sangat berwibawah. Ia dengan santun mempersilahkan tamu-tamunya untuk duduk di ruang tamu yang terlihat mewah tersebut.

“ Aku sangat senang bisa bertemu denganmu Donghae-ssi.” Ucap Tuan Hwang ramah. Donghae hanya membalas dengan senyuman

Donghae menatap ruangan sekeliling. Matanya kemudian menangkap foto Tiffany yang terpajang diruang tamu. Melihat hal itu, tuan hwang tersenyum kecil.

“ Tiffany, putriku satu-satunya yang sangat aku cintai. Kau tahu itu kan?” Tanya Tuan Hwang pada Donghae yang duduk di hadapannya.

Donghae menatap pada Tuan Hwang. Perawakannya tinggi dan terkesan tegas, namun terlihat sangat penyayang.

“ Semua ayah tentu seperti itu pada anaknya.” Ucap Donghae ringan. Mendengar ucapan Donghae, Tuan Hwang sedikit memperbaiki posisi duduknya. Ia tersenyum pada Donghae sambil menganggu-anggukkan kepalanya.

“ Kau benar Donghae-ah. Seorang ayah tentu harus sayang pada anaknya, melindunginya, mengobati rasa sakitnya. Apalagi putriku tiffany tidak seperti gadis yang lain, dia berbeda. Kau tahu itu kan Donghae?” Tanya tuan Hwang sambil tersenyum pada Donghae. Donghae menggelelng kecil, sementara Changmin disampingnya hanya menatap sekilas pada Donghae.

Donghae bingung dengan pertanyaan tuan Hwang. Muncul banyak pertanyaan di kepalanya. Pertama, ia tidak tahu mengapa pagi ini Changmin memaksanya untuk ikut ke rumah Tuan Hwang, ayah Tiffany yang baru saja dikenalnya tiga minggu yang lalu. Yang kedua, mengapa Tuan Hwang berbicara dengan Donghae seolah-olah dia telah meengenal Donghae, dan ketiga berkaitan dengan ucapan Tuan Hwang, apa yang membuat Tiffany special? Ia terlihat normal, yah walaupun beberapa kelakuannya cukup tidak biasa, namun karena Donghae baru beberapa kali bertemu dengan gadis itu, ia tidak terlalu memikirkannya.

“ Apa yang membuat putri anda special Tuan Hwang?” Tanya Donghae polos. Changmin disampingnya mengehela nafas berat mendengar ucapan Donghae. Sementara Tuan Hwang kehilangan senyumnya mendengar pertanyaan Donghae.

****

Los Angeles, USA

“ Saengil chukae Lee Seunggi.” Ucap orang-orang dalam ruangan itu serentak. Semuanya bergantian memeluk dan mengucapkan selamat pada Lee Sunggi yang malam itu berulang tahun. Yoona, Siwon dan Tuan Im turut hadir di acara itu, mengingat Lee Seunggi dan Ayahnya adalah kolega dari Tuan Im.

“ Nah, sekarang waktunya kita meniup kue ulang tahunnya, Seunggi-ah. “ Ucap Eomma Seunggi. Seunggi pun mendekat ke kue itu. sesaat sebelum meniup lilin, ia melirik ke Yoona yang berdiri di samping Siwon dan Tuan Im, tak jauh di hadapannya. Kemudian ia menutup matanya dan memanjatkan doa. Begitu membuka mata, ia juga kembali menatap lembut ke Yoona, Yoona menjadi canggung dengan tatapan Seunggi. Sedetik kemudian, Seunggi meniup lilinnya, kembali ucapan selamat bertubi-tubi diucapkan untuknya.

“ Nah potongan pertama, tentunya untuk eomma dan appa.” Ucap Seunggi kemudian memberikan potongan kue pada eomma dan appanya.

“ Siapa yang akan kau berikan potongan kue itu Seunggi.” Ucap eommanya. Sedetik kemudian Lee Seunggi melirik Yoona dengan senyuman.

“ Tentu untuk orang yang special.” Bisik Seunggi. Ia kemudian berjalan mendekati Yoona yang tak jauh berdiri dari hadapannya. Di ulurkannya kue itu pada Yoona. semua orang di ruangan itu menjadi riuh dan menjodoh-jodohkan Seunggi dan Yoona. Namun dilain hal, Yoona menjadi tidak enak dalam hatinya.

“ Bolehkah oppa yang menyuapimu.” Tanya Seunggi pelan. Yoona sedetik melirik ke Siwon yang dengan cepat mengangguk. Sebenarnya Yoona sangat tidak suka dengan situasi dimana semua pandangan orang tertuju padanya. Apalagi dengan sikap Lee Seunggi. Dengan terpaksa Yoona mengangguk mengiyakan permintaan Lee Seunggi. Dengan begitu, senyuman lebar Seunggi langsung tersungging di bibirnya.

“ Mereka berdua terlihat sangat serasi. Sepertinya putraku menyukai putrimu Im-Ssi.” Ucap Tuan Lee saat melihat Seunggi dan Yoona dari kejauhan.

“ Hahaha. . . kau bisa saja.”

“ Mungkin ide ini terdengar sangat kolot, tapi akan sangat bagus jika persahabatan kita di bisnis berubah menjadi keluarga.” Ucap Tuan Lee.

“ Maksudmu?”

“ Aku berpikiran akan lebih baik jika kita menjodohkan mereka berdua.”

“ Menjodohkan mereka?” Tanya Tuan Im.

“ Ya. Aku melihat putraku Seunggi, semenjak kehadiran Yoona, ia terlihat sangat bahagia, apalagi jika berada disamping Yoona. itu sebabnya aku berpikiran untuk menjodohkan mereka. Itupun jika kau setuju.” Ucap Tuan Lee. Tuan Im terdiam sejenak. Pikirannya melayang entah kemana.

“ Eottohke?” Ucap Tuan Lee tiba-tiba. Hal ini membuat Tuan Lee tersadar dari lamunannya.

“ Eo? Aku pikir perjodohan adalah hal yang bagus.”

“ Ini baru pemikiranku saja. Bagaimana dengan Yoona, apakah dia akan menerima jika kita menjodohkan mereka?”

“ Entahlah.” Ucap Tuan Im datar. Ia menatap pada Yoona yang kini berjalan mendekat padanya, meninggalkan Lee Seunggi.

“ Anyyeonghaseyo tuan Lee.” Ucap Yoona sambil membungkukkan badannya.

“ Annyeonghaseyo Yoona.” Ucap tuan Lee ramah. Yoona lalu mendekat ke appanya

“ Appa, aku ingin pulang.” Bisik Yoona pada Tuan Im. Tuan Lee yang melihat itu hanya tersenyum.

“ Mwo? Secepat ini kau ingin pulang.” Ucap Tuan Im. Yoona yang mendengar hal itu langsung menunduk karena menurutnya suara appanya sangat besar untuk ukuran berbisik. Yoona melirik pada Tuan Lee yang tersenyum melihat tingkahnya.

“ Appa, pelan-pelan.” Bisik Yoona lagi. “ Ne, aku sudah ngantuk, aku ingin pulang.” Bisik Yoona lagi.

“ Tapi appa masih ingin berbincang dengan Lee-ssi. Mana Siwon? Kau pulang duluan dengannya.” Ucap Tuan Im.

“ Entahlah, sepertinya oppa sedang sibuk bersama wanita-wanita itu.” Ucap Yoona sambil menunjuk pada sekumpulan wanita bule yang bersama Siwon.

“ Aish, anak itu.” Gerutu Tuan Im. Lee Seunggi yang merasa ditinggalkan oleh Yoona tadi kini berjalan menghampiri mereka.

“ Kau ingin pulang Yoona?” Tanya Tuan Lee. Yoona hanya mengangguk pelan.

“ Kalau begitu, Seunggi saja yang mengantarmu. Iya kan Seunggi.” Ucap Tuan Lee.

“ Ne, biar oppa saja yang mengantarmu pulang.” Giliran Lee Seunggi berucap.

“ Tapi oppa, ini kan acaramu? Bagaimana bisa kau. . .”

“ Gwaencanha, pesta ini tidak akan berakhir hanya jika aku tidak ada.” Ucap Seunggi memotong kalimat Yoona. Yoona lalu melirik ke appanya.

“ Kau pulanglah duluan, biar Seunggi yang mengantarmu.” Ucap Tuan Im.

“ Ne, Gomapsemnida Seunggi oppa.” Ucap Yoona. dan tidak usah dipertanyakan lagi bagaimana lebarnya senyum Seunggi sekarang.

“ Kalau begitu, kami pergi dulu.” Ucap Seunggi sesaat sebelum meninggalkan Ayahnya dan tuan Im. Sementara Yoona sekal lagi harus merasakan kecanggungan bersama Seunggi.

Di perjalanan tak banyak percakapan yang terjadi. Kebanyakan mereka hanya diam, Yoona larut dalam pikirannya sendriri, namun dilain hal Seunggi tak hentinya mencuri pandang ke Yoona disampingnya.

Begitu sampai di depan rumah Yoona, Seunggi dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Yoona. Yoona merasa tidak enak juga dierlakukan seperti itu.

“ Gomawo oppa sudah mengantarku.” Ucap Yoona pelan sesaat turun dari mobil.

“ Ah Gwaencanha. Seharusnya oppa yang harus berterima kasih atas kedatanganmu di ulangtahunku.” Ucap Seunggi lembut. Yoona hanya tersenyum kecut.

“ Kalau begitu, aku masuk dulu. Oppa annyeong.” Ucap Yoona lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Seunggi. Seunggi masih memandangi Yoona yang berjalan ke rumahnya sampai pada langkah kesekian ia membulatkan tekadnya dan. .

“ Yoona. . .” Panggil Seunggi yang seketika menghentikan langkah Yoona. ia berbalik menatap Seunggi dengan tatapan Tanya.

“ hmm?”

Seunggi agak gelagapan harus berkata apa. Sementara Yoona tetap berdiri mematung di tempatnya menanti jawaban Seunggi.

“ Ada sesuatu yang oppa ingin katakan.” Ucap seunggi pelan. Ia lalu berjalan mendekati Yoona.

“ Mengatakan apa?” Tanya Yoona. seunggi sudah berdiri di hadapannya.

Seunggi menarik nafasnya dalam, mencoba meyakinkan hatinya bahwa yang akan ia katakan adalah benar. Dan kemudian. . .

“ Aku mencintaimu Yoona.” Ucap Seunggi lembut sambil menatap kedalam mata Yoona. Sebuah kalimat yang membuat Yoona terdiam. ia menatap Seunggi dengan tatapan kaget. Namun dilain hal Seunggi menanti kata yang akan diucapkan Yoona.

“ Wae?” Tanya Yoona tegas. Ekspresi Seunggi langsung berubah saat mendengar ucapan Yoona. kini giliran dia yang tak tahu harus berkata apa. Ia menggaruk tengkuknya sesaat.

“ Molla. Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan sekarang padamu. Dan aku sendiri tidak yakin kapan aku mulai benar-benar mencintaimu Yoona. “ Ucap Seunggi lembut. Yoona terdiam tak tahu harus berkata apa lagi. Hal inilah yang paling tidak diharapkan oleh Yoona. ia takut Seunggi akan mencintainya, karena jika itu terjadi Yoona tahu ada hati yang akan terluka menerima kenyataan yang ada.

“ Mianhe Yoong kalau oppa mengatakan hal ini tiba-tiba. Oppa hanya ingin kau tahu Yoong. oppa merasa tidak tahan lagi harus memendam perasaanku padamu. Dari semua kedekatan kita selama ini, aku menyadari bahwa aku sangat mencintaimu Yoong. saranghae.” Ucap Seunggi lembut sambil menggenggam lembut tangan Yoona.

Yoona semakin kalut. Ini seharusnya tidak terjadi. Tapi ia tahu bahwa Seunggi berkata jujur padanya. Ia tahu Lee Seung gi tulus mencintainya. Juga Appa dan Siwon yang pasti sangat mendukung hubungan mereka. Namun semuanya tidak semudah itu. jujur Yoona juga menyukai Seunggi sebagai sahabat yang selalu ada disampingnya selama ini. Saat ia butuh seseorang, Seunggi selalu menemaninya. Namun perasaan cinta tidak bisa dipaksakan. Cinta Yoona hanya untuk satu orang. Seseorang yang telah membuatnya merasakan cinta sepenuhnya walaupun pada akhirnya ia harus merasakan sakit yang luar biasa karena orang itu. ya, yang ia cintai hanyalah seorang Lee Donghae, suaminya. tanpa terasa Air mata Yoona jatuh mengingat akan semua hal itu.

“ Yoona wae? Mengapa kau menangis?” Seunggi dengan refleks langsung mengelus lembut pipi Yoona untuk menghapus air matanya.

“ Semuanya tidak semudah yang kau pikirkan oppa. Aku sudah. . .”

“ Menikah. Aku tahu.” Potong Seunggi. Mata Yoona membesar karena kaget dengan ucapan Lee Seunggi. Ekspresi Yoona seakan mengatakan darimana kau tahu?

“ Aku tahu dari Siwon. Dan aku tahu semua yang terjadi dengan rumah tanggamu.” Ucap Seunggi. Yoona terdiam mendengar hal itu. tenggorokannya sakit menahan tangisnya.

“ Lalu mengapa kau masih mencintaiku disaat kau tahu aku sudah menjadi milik orang lain?” Ucap Yoona terisak.

“ Aku tidak tahu, aku juga merasa sangat lancang karena mencintaimu. Oppa tidak tahu jika kau mungkin masih sangat mencintainya, yang aku tahu kau dan dia sudah tidak bersama Yoong.”

Yoona tertunduk. Semua yang dikatakan Seunggi benar. Ia masih sangat sulit menghilangkan rasa cintanya pada Donghae, bagaimanapun itu.

“ Yoona aku mohon. Beri aku kesempatan untuk membuatmu bahagia Yoong. jika mungkin sekarang kau masih mencintai orang lain, aku akan menunggu. Aku akan menunggu sampai kau mencintaiku. Oppa akan melakukan yang terbaik untukmu agar kau juga bisa mencintaiku. Hanya beri aku kesempatan Yoong.” Ucap Seunggi memohon. Ia kembali menggenggam erat tangan Yoona.

Yoona menatap kedalam matan Seunggi. Ia melihat ketulusan disana. Haruskah ia mencoba? Haruskah ia mencoba melupakan cintanya pada Donghae dan memulai membuka hatinya untuk Lee Seunggi.  Benar apa yang dikatakan Seunggi, walaupun ia masih mencintai Donghae, tapi kenyataannya mereka sekarang tak bersama. Saling mengetahui kabar pun tidak. Apakah cinta masih harus dipertahankan jika orang yang dicintainya telah menghianati cintanya? Telah membuatnya merasakan sakit yang luar biasa?

“ Yoong, kau mau kan memberi oppa satu kesempatan?” Tanya Seunggi. Yoona menatap dalam wajah Seunggi. Sesaat kemudian ia mengangguk lemah. Hal itu seketika membuat Seunggi menyunggingkan senyum lebarnya. Sontak ia menarik Yoona kedalam pelukannya, merasakan aroma tubuh wanita yang sangat dicintainya, bahkan sebelum Yoona mengenalnya. Ia tak percaya bisa memeluk Yoona seperti ini, walapun dalam hatinya juga ia merasa lancang mencintai Yoona. tapi Yoona sendiri telah membuka hatinya untuknya.

Dilain hal Yoona hanya terdiam, tak membalas pelukan Seunggi. Pikirannya jauh melayang. Apakah ia betul-betul harus menghapus cintanya pada Donghae suaminya? ia merasa sakit jika harus melakukan hal itu, namun melihat Seunggi yang begitu tulus mencintainya, sepertinya ia harus membuka hatinya untuk Seunggi, walaupun ia tahu itu akan sangat berat. Ia tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, ia hanya ingin hatinya tidak akan merasakan rasa sakit dari cintanya.

*******

2 Years Later

Seoul, South Korea

Sudah beberapa kali ponselnya berdering, namun namja itu masih tidak mencoba membuka matanya. Terik matahari pagi yang masuk ke ruangan itupun tak kunjung membuatnya bangun dari tidurnya. Ia masih terlelap, mencoba mengabaikan suara telepon yang sedari tadi menganggu tidurnya. Apa ia tidak tahu aku masih sangat lelah? Rungutnya dalam hati. Dan sekali lagi, ponselnya kembali mengeluarkan bunyi nyaring, tanda seseorang menelpon. Namja itu masih mencoba mengabaikannya, membiarkannya mengeluarkan bunyi nyaring. Sampai akhirnya ia tidak tahan lagi dan akhirnya ia bangun dan mencari ponselnya. Namun begitu ia menemukan ponselnya, saat itu juga nada panggilannya berhenti. Ia lalu menyentuh layar touch-sreennya. Beberapa panggilan tak terjawab dari orang yang sama. Namun bukannya marah atau bagaimana, namja itu malah tersenyum melihat siapa penelponnya barusan.

Donghae lalu bangun dan turun dari ranjangnya. Ia kemudian berjalan ke arah balkon dan membuka tirainya. Seketika angin pagi kota seoul menerpa tubuhnya. Dirasakannya sejuk, angin musim semi kota seoul memang sangat sejuk. Ditambah lagi pemandangan kota seoul yang dilihat dari apartemennya itu membuat matanya sudah tersegarkan pagi ini. Setelah puas menikmati sejuknya angin pagi kota Seoul, ia lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi di apartemen itu.

Donghae menatapi wajahnya di depan cermin, ia sedikit mengelus dagu, rahang  dan lehernya yang kini tampak hitam karena ditumbuhi rambut-rambut halus. Donghae lalu mengoleskan krim cukur di sekeliling wajahnya kemudian mulai menggerakkan pisau cukurnya di seluruh tempat yang ditumbuhi rambut-rambut halus di wajahnya.  Setelah selesai membersihkan wajahnya, Donghae kemudian mengoleskan aftershave cream di wajahnya untuk mencegah infeksi. Donghae langsung merasakan sensasi dingin di pipinya dengan menepuk-nepuk kedua pipinya.

Flashback

Suasana sore hari yang cerah membuat sepasang suami istri yang tengah bermalas-malasan diatas sebuah karpet yang digelar di sebuah balkon yang dipenuhi dengan pot bunga serta isinya yang membuat hati semakin tenang jika melihatnya *ituloh kayak balkonnya di my girlfriend is a gumiho*. Yoona dan Donghae tampak sedang tertawa bahagia entah karena mereka bercerita hal yang lucu atau lainnya. Donghae membentangkan lengannya untuk Yoona jadikan bantal sehingga Yoona berada dalam dekapan Donghae sambil menikmati indahnya aurora yang terlukis di langit sore. Donghae memejamkan matanya untuk merasakan semilir angin yang berhembus. Melihat hal itu, Yoona bangun dan menatap Donghae yang memejamkan matanya. Tersungging senyum manis di wajah Yoona melihat suaminya yang bertingkah seperti itu. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Donghae namun Donghae masih belum menyadarinya. Yoona memandang lekat wajah Donghae sambil tersenyum. Perlahan wajah Yoona semakin mendekat dan akhirnya sebuah ciuman hangat mendarat di pipi Donghae. Donghae yang kaget langsung membuka matanya dan mendapati Yoona yang tengah tersenyum manis di hadapannya.

“ Ya, kau mulai nakal ya?” Ucap Donghae sambil tersenyum pada Yoona.

“ oppa, saranghae^^ “ Yoona kemudian melengkungkan kedua lengan diatas kepalanya yang membentuk bentuk hati.

Donghae lalu menarik Yoona mendekat dan mencium hangat pipi Yoona yang tentunya membuat pipi Yoona merah merona. Kini jarak wajah keduanya sangat dekat. Tiba-tiba Yoona sedikit menjauhkan wajahnya dari Donghae kemudian mendekatkannya lagi, mendekatkan lagi dan menjauhkan lagi seperti sedang mencari-cari sesuatu di wajah Donghae.

“ Wae??” tanya Donghae melihat tingkah Yoona yang aneh.

Yoona masih saja menghirup dan merasakan aroma Donghae di wajahnya.

“ Oppa, apa yang kau pakaikan di wajahmu?”

“ Mwo?” Tanya Donghae bingung.

“ Aroma ini?”

“ Oh, oppa tadi mengoleskan krim cukur. Wae?”

“ Aroma ini, aroma ini sepertinya aku sudah sangat lama tidak merasakannya. Aroma ini mengingatkanku saat aku kecil.”

“hmm??” Donghae tersenyum kecil.

“ Dulu appa sangat sering memakai krim cukur yang beraroma sama seperti yang oppa pakai.”

“ Jongmal?” Tanya Donghae antusias

“ Ne, dan aku sangat menyukai jika appa memakainya. Aroma ini seakan mengantarkanku masuk ke dunia mimpi yang penuh kebahagiaan.” Ucap Yoona sambil tetap menyunggingkan senyum manisnya. Yoona pun kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Donghae dan kemudian merasakan aroma wajah Donghae yang membuat hidung Yoona menyentuh setap lekuk wajah Donghae.

“ Kalau kau menyukainya, oppa akan selalu memakainya untukmu.” Ucap Donghae yang kemudian mendekap lembut tubuh Yoona lalu mengecup pucuk rambut Yoona.

Flashback End

Donghae tersenyum kecil mengingat kembali saat-saat kebersamaanya dengan Yoona. Ya Yoona istri yang sangat dicintainya, sudah dua tahun terakhir dia pergi entah kemana. Donghae sama sekali tak menemukan keberadaan Yoona. dua tahun yang mungkin bagi orang kebanyakan adalah waktu yang singkat, namun bagi Donghae 2 tahun adalah waktu yang sangat lama. Ia rasakan hari berjalan sangat lambat, seakan-akan sengaja menyiksanya untuk merasakan detik demi detik yang ia lewati tanpa kehadiran Yoona di hidupnya. Dua tahun yang mampu membuatnya menangis hanya dengan memikirkan rumah tangganya.

Memang begitu banyak orang yang datang dan pergi di kehidupannya dua tahun terakhir, membuatnya begitu banyak merindukan orang lain. Yuri yang juga menghilang entah kemana, yang membuatnya kembali dari Hongkong dengan tangan kosong, juga Jessica yang kedua kalinya meninggalkannya.

Donghae berjalan keluar dari kamar mandi. Ia mencoba mengeringkan rambutnya dengan menggosok-gosokkan handuk di kepalanya. Ia lalu berjalan mendekati cermin. Seketika matanya membesar membaca sebuah tulisan pada kertas yang tertempel di cermin itu.

“ Oppa, kau tidak akan lupa untuk makan siang bersamaku kan?  Tadi malam kau sudah tidur, dan aku tidak mau membangunkanmu. Oh ya, aku menaruh jaketmu yang aku pinjam waktu itu di atas buffet. Gomawo oppa. Aku tunggu di Café HongDae jam 1 siang. Okey. Annyeongg^^”

Tiffany

Senyuman tersungging di bibir Donghae sesaat setelah membaca tulisan Tiffany.

“ Tentu aku tidak akan lupa nona Hwang.” Ucap Donghae. Ia lalu segera berpakaian rapi untuk memulai harinya dengan bekerja. Pekerjaan yang mungkin menjadi dambaan banyak orang mengingat besarnya perusahaan tempatnya bekerja sebagai pimpinan public relation departmen di Hwang company, Donghae tidak begitu menginginkan jabatan itu, namun karena pemilik perusahaan itu sendiri, tuan Hwang yang menawarkannya pada Donghae, ia tidak mau menolak, tanpa bermaksud memanfaatkan keadaan.

***

Los Angeles, USA

Lee Seunggi berjalan memasuki sebuah halaman rumah. Ia kembali tersenyum mendapati  seorang yeoja ditaman itu sedang asyik menata bunganya, nampaknya ia tidak sadar akan kehadirang Seunggi.

Seunggi pun berjalan perlahan mendekati yeoja itu, sampai akhirnya ia berdiri tepat dibelakan yeoja itu, lalu ia mengatupkan tangannya tepat dimata yeoja itu, menutup matanya dari belakang.

“ Ya! Nuguji? “ Ucap yeoja itu. Seunggi tetap diam tak mau menjawab. Sampai akhirnya yeoja tersebut terdiam dan …

“ Seunggi oppa?” Ucapnya. Seunggi lalu melepaskan tangannya. Seketika yeoja itu berbalik. Seunggi menyambut yeoja itu dengan senyum termanisnya.

“ Ne, Yoong. coba tebak, oppa membawa apa?” Ucap Sunggi sambil memasang ekspresi penuh kejutan. “ Mwoeyo?” Ucap Yoona sambil menyunggingkan senyumnya penasaran.

“ Ta-da!!” Ucap seunggi antusias sambil memperlihatkan beberapa lembar tiket pesawat dengan tujuan Korea.

Melihat hal itu, senyum Yoona seketika pudar. Seunggi yang menyadarinya pun langsung menurunkan tiket itu.

“ Wae Yoong? Kau tidak suka?” Tanya seunggi. Yoona seketika menyunggingkan senyumnya kembali pada Seunggi. Ia menggeleng mendengar pertanyaan Seunggi.

“ Aniyo. Aku hanya sedikit kaget.” Ucap Yoona pelan, yang membuat Seunggi mendesah lega.

“ Kita berangkat lusa Yoong, tidak apa-apa kan?” Tanya Seunggi lembut. Yoona mengangguk saja. Sepertinya ia sedang tidak bersemangat pada percakapannya dengan Seunggi. Tiba-tiba Seunggi mendekapnya, jujur Yoona sangat kaget dengan perlakuan Seunggi.

“ Aku tahu disana kita akan bertemu dengannya, dengan suamimu. Aku tidak tahu akan bagaimana nantinya, tapi aku akan selalu ada disampingmu Yoong. sedikit lagi, kita hanya perlu menyelesaikan masalah kecil ini.” Ucap Seunggi sambil terus mendekap Yoona. namun dilain hal, Yoona hanya diam, saat ini ia sangat ingin mendorong Seunggi untuk melepaskan pelukannya. Ia sudah muak dengan semua ini, tapi harus bagaimana lagi. Hal inilah yang diinginkan Appa, Siwon dan mungkin dirinya sendiri. Ia menangis, menangis mengingat semua kisah hidupnya, mengingat yang akan terjadi nanti di Korea.

Flashback

“ dalam waktu dekat ini, kita akan kembali  ke Korea.” Ucap Tuan Im datar membuat Yoona sedikit kaget dengan ucapan Appa. Siwon yang ada diruangan itu pun terlonjat kaget.

“ Mwo?” Yoona bertanya-tanya, baru kali ini Appanya itu membahas tentang Korea, apalagi dia mengatakan kami akan kembali kesana? Apakah Appa sudah berubah?

“ Ne, Seunggi juga akan ikut.” Ucapnya lagi membuat Yoona menautkan alisnya.

“ Untuk apa?” Tanya Yoona bingung.

“ Apa salahnya jika tunanganmu ikut? Lagipula dengan begitu, perceraianmu akan lebih cepat selesai, dan kau tidak usah mengingat lelaki brengsek itu lagi.”

JGER!!

Bagaikan petir disiang bolong, Yoona kaget setengah mati mendengar ucapan Appanya barusan. Ia tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya. Bercerai katanya? Bagaimana mungkin, ia masih sangat mencintai Donghae, walau bagaimanapun perlakuan namja itu padanya. Air matanya mulai mengepul di sudut-sudut matanya.

“ Appa. . .” Ucap Siwon yang segera dibalas dengan tatapan tajam dari Appanya. Tuan Im lalu kembali pada Yoona yang berdiri mematung dengan air mata yang mengalir di pipinya.

“ Aku pikir kau sudah dewasa Yoona, jangan kembali lagi ke masa-masa saat kau masih mengaharapkan namja brengsek itu. kau sekarang sudah bertunangan dengan Lee Seunggi dan sebentar lagi akan menikah dengannya. Dan sekaranglah waktunya kau menyelesaikan semua urusanmu dengan namja itu.” Tuan Im lalu berjalan mendekati Yoona. dipegangnya lembut pundak putrinya itu.

“ Appa yakin inilah yang terbaik untukmu Yoong. kau harus melupakan namja itu dan memulai hidup baru dengan Seunggi.  Dia adalah lelaki yang tepat untukmu Yoong, dan appa yakin kau akan mencintai Seunggi, cepat atau lambat.” Ucap Appa Yoona. ia tak berkata apa-apa, hanya air matanya yang jatuh membasahi pipinya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan begitu saja, semuanya tidak segampang membalikkan telapak tangan, bagaimana mungkin ia melupakan setiap memorinya bersama Donghae, sementara dia sudah menorehkan kenangan yang akan melekat sampai kapanpun. Yoona tidak bisa, ia tak sanggup. Menghapsu rasa cintanya pada Donghae adalah hal yang mustahil baginya.

Flashback End

***

Donghae mempercepat langkahnya memasuki sebuah café di kawasan HongDae. Sesekali ia melirik jam tangannya.

“ Dia pasti akan marah membuatnya menunggu.” Ucap Donghae. Sesampainya di dalam café, ia melihat sekeliling mencoba menemukan orang yang sedari tadi menunggunya. Dan disana, di sudut di dekat jendela ia menemukan gadis itu tengah duduk menunggu. Donghae tersenyum kecil lalu berjalan mendekat ke meja gadis itu.

“ Oppa, kau terlambat.” Ucap Tiffany ketus.

“ Ah Mianhe, oppa baru selesai rapat tadi.” Donghae lalu duduk di kursi di depan Tiffany.

“ huh, selalu saja.” Tiffany memperlihatkan wajah kesalnya, yang justru membuat Donghae tersenyum gemas melihat Tiffany.

“ Mianhe.” Ucap Donghae lagi yang entah bagaimana sanggup meluluhkan Tiffany.

“ Pelayan.” Panggil Tiffany sambil melambaikan tangannya pada pelayan yang berdiri tak jauh di depannya. Dengan sigap pelayan tersebut kini sudah berdiri di hadapan Donghae dan Tiffany.

“ ku ingin pesan ice cream strawberry dan. . . Jus Capucino untuk Donghae oppa.” Ucap Tiffany yang langsung dicatat oleh si pelayan.

“Kau tahu oppa, tempat ini adalah café dengan jus capucino terbaik. Aku sengaja mengajakmu kesini untuk merasakannya. Aku yakin pasti oppa akan suka.” Ucap Tiffany diringin dengan senyumnya yang manis. Donghae yang duduk di depannya pun ikut tersenyum melihat gadis cantik di depannya ini. Gadis yang selama dua tahun terakhir selalu bersamanya. Gadis yang hadir dan membuatnya tersenyum, sejenak melupakan kisah hidupnya yang hancur. Melihat senyum Tiffany, Donghae kembali teringat pada percakapannya dengan Tuan Hwang –Ayah Tiffany- dua tahun lalu di Taiwan.

Flashback

“ Kau benar Donghae-ah. Seorang ayah tentu harus sayang pada anaknya, melindunginya, mengobati rasa sakitnya. Apalagi putriku tiffany tidak seperti gadis yang lain, dia berbeda. Kau tahu itu kan Donghae?” Donghae menggeleng.

“ Apa yang membuat putri anda special Tuan Hwang?” Tanya Donghae. Senyuman tuan Hwang seketika pudar mendengar ucapan Donghae. Lalu Tuan Hwang seolah member isyarat pada Changmin untuk menjelaskannya pada Donghae.

“ Hyung, kau tahu kan kalau Tiffany adalah pasienku?” Tanya Changmin pada Donghae yang seketika menautkan alisnya.

“ Tentu saja.” Jawab Donghae ringan.

“ Dan Hyung tahu penyakit apa yang dialaminya?” Tanya Changmin lagi. Donghae seketika berpikir. Benar, Dia tidak pernah menanyakan hal itu pada Changmin sebelumnya. Sebenarnya penyakit apa yang diderita Tiffany, dia terlihat sehat-sehat saja.

“Tiffany menderita penyakit demensia.” Ucap Changmin. Sementara Tuan Hwang sedikit tertunduk.

“ Demensia?” Donghae masih bingung dengan istilah-istilah kedokteran yang digunakan Changmin.

“ Demensia adalah istilah untuk mendeskripsikan kumpulan gejala yang bisa disebabkan oleh berbagai kelainan yang mempengaruhi otak. Perjalanan penyakit demensia biasanya dimulai secara perlahan dan makin lama makin parah, sehingga keadaan ini pada mulanya tidak disadari. Terjadi penurunan dalam ingatan, kemampuan untuk mengingat waktu dan kemampuan untuk mengenali orang, tempat dan benda. Dan pada situasi tertentu, penderita akan melupakan memori lamanya.” Tutur Changmin.

“ Mwo?” Ucap Donghae seakan berbisik. Ia masih mencoba mencerna semua ucapan Changmin

“Gejala awal biasanya adalah lupa akan peristiwa yang baru saja terjadi tetapi bisa juga bermula sebagai depresi, ketakutan, kecemasan, penurunan emosi atau perubahan kepribadian lainnya. Seorang penderita demensia memiliki fungsi intelektual yang terganggu dan menyebabkan gangguan dalam aktivitas sehari-hari maupun hubungan dengan orang sekitarnya. Dan jika tidak segera diobati, akibatnya akan sangat fatal. Alzheimmer.” Jelas Changmin. Donghae termangu, tidak percaya pada apa yang barusan dikatakan Changmin. Ia tidak pernah menyangka bahwa Tiffany menderita penyakit separah itu.

“ Sekarang kau sudah tahu kan Donghae-ah. Putriku berbeda.” Ucap Tuan Hwang lirih.

Donghae sedikit mengangguk. “ Bagaimana bisa?” Ucapan Donghae meluncur begitu saja.

Tuan Im kembali memperbaiki posisi duduknya. Ia kini menyanderkan tubuhnya pada sofa. Mencoba mengingat kejadian yang telah merubah hidup anaknya.

“ Kau tahu sendiri kan bahwa penyakit yang diderita Tiffany bukanlah penyakit bawaan, melainkan ada seseuatu yang menbuatnya seperti itu.”

Tuan Hwang terdiam sejenak. Donghae dengan serius mendengarkan begitupun dengan Changmin disampingnya yang juga terlihat antusias dengan cerita tuan Hwang.

“ Tiffany dulu pernah sangat mencintai seorang namja. Dia baik, pintar dan sopan. Aku sangat mempercayainya, bahkan aku membiarkan Tiffany bertunangan dengannya. Namun rupanya aku salah. Satu waktu namja itu menyakiti putriku, hingga akhirnya Tiffany mengalami kecelakaan dan membuatnya sakit seperti sekarang. Saat itu aku sadar, bahwa namja itu sama sekali tidak bisa menjaga putriku. Dan aku tidak akan membiarkan putriku bersama orang yang hanya bisa menyakitinya.” Tutur Tuan Hwang. Di matanya terdapat kemarahan saat mengucapkan kata ‘namja itu’. melihat hal itu Donghae teringat pada sikap tuan Im padanya. Melihat kemarahan Tuan Hwang pada namja yang menyakiti putrinya mengingatkannya pada Tuan Im yang begitu membencinya saat mengetahui bahwa Yoona sangat sakit melihat perbuatannya. Semarah itukah Tuan Im padanya? Batin Donghae.

“ Donghae –ssi” Ucapan Tuan Hwang seketika membuat Donghae tersentak menyadarkannya dari lamunannya. Ia lalu beralih pada Tuan Hwang.

“ Selama dua tahun terakhir, Tiffany menderita penyakit itu. kian hari kian parah. Dan itu membuatku sangat terpuruk jika harus melihat putriku seolah-olah sudah lupa bagaimana cara untuk bahagia. Aku sudah membawanya ke dokter di berbagai belahan dunia, tapi penyakitnya sangat susah disembuhkan jika bukan dari dalam diri Tiffany sendiri.” Ucap Tuan hwang serius pada Donghae di hadapannya.

“ Maksudnya?”

Tuan Hwang menarik nafas sejenak.

“ Aku ingin kau mendampingi Tiffany.” Ucap tuan Hwang mantap. Alis Donghae menyatu tanda kaget bercampur kebingungan.

“ Aku tidak mengerti, apa maksud anda sebenarnya tuan Hwang? Mengapa anda memanggilku datang kemari?”  Tanya Donghae serius. Ia harus tahu.

“ Tiffany sangat berubah setelah bertemu denganmu. Ia banyak tersenyum, seolah menemukan kembali semangat hidupnya. Itu semua karena dirimu Donghae.” Jelas tuan Hwang.

“ Apa yang anda harapkan dariku tuan? Apa anda ingin aku menyembuhkan putri anda?” Ucap Donghae stengah bergurau.

“ Iya.” Ucap Tuan Hwang yakin. Namun Donghae semakin bingung dengan sikap tuan Hwang.

“ Jangan bercanda Tuan hwang.” Donghae tertawa mendengar ucapan-ucapan Tuan Hwang yang menurutnya mustahil.

“ Aku tidak bercanda Donghae.” Donghae terdiam. dari ekspresi tuan Hwang yang serius, sepertinya dia tidak sedang bercanda.

“ Anda sendiri menagatkan bahwa Tiffany sudah dibawa ke berbagai dokter namun tetap tak bisa disembuhkan. Tapi sekarang anda tiba-tiba mengatakan bahwa aku bisa menyembuhkannya. Berpikir logis, bagaimana aku bisa melakukannya?” Ucap Donghae  yang menurutnya semuanya semakin ngawur saja.

“ Hyung, penyakit seperti ini bisa disembuhkan hanya dengan terapi mental dari orang-orang terdekatnya atau orang yang bisa membuatnya merasa bahagia. Secara perlahan, penyakit ini akan sembuh, walaupun butuh proses yang tidak sebentar.” Jelas Changmin. Donghae semakin bingung dengan ucapan Changmin. Dia pikir siapa dirinya, dan siapa Tiffany. Mana mungkin dia bisa menyembuhkan penyakit parah seperti itu? mana mungkin Tiffany suka dengannya padahal mereka bertemu hanya beberapa kali. Dan ia tak lupa tujuan utamanya datang ke Taiwan adalah untuk mencari Yuri, bukan untuk mengobati pasien Changmin.

“ Tiifany sangat ingin ke Korea, tapi aku tahu diasan begitu banyak memori kelam Tiffany. Aku tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja. Oleh karena itu, aku sangat memohon padamu untuk menemaninya di Korea. Kau bersedia kan Donghae-ssi?

“ Tuan Hwang, aku pikir aku tidak bisa melakukannya.”

“ Tolong jangan berkata demikian. Melihat perubahan Tiffany, kaulah satu-satunya harapanku untuk bisa melihat Tiffany sembuh. Apa kau betul-betul tidak mau menolong orang yang butuh bantuanmu Donghae-ssi?”

Mendengar ucapan tuan Hwang, Donghae menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. “ Bukan begitu Tuan.”

“ Aku sangat berharap padamu Donghae-ssi. Aku sangat memohon dengan sangat padamu, tolong temanilah Tiffany, hanya sampai dia sembuh.”

End Flashback

Donghae masih terdiam menatap Tiffany di hadapannya. Tiffany yang sekarang sangat berbeda dengan Tiffany yang ditemuinya di Taiwan dua tahun yang lalu. Mungkin sekarang Tiffany sudah bisa dikatakan sembuh, namun Changmin mengatakan yang menjadi masalah adalah ada beberapa memorinya yang hilang, entah itu memori tentang apa Donghae tidak tahu. dan ia sendiri sepertinya tidak penasaran untuk mencari tahu.

“ Jadi, apa yang ingin kau tanyakan pada oppa?” Tanya Donghae mencoba mengubah suasana. Dan benar saja senyum Tiffany langsung merekah mendengar ucapan Donghae, membuat matanya yang indah melengkung kebawah membentuk eye smile.

“ Oppa, kapan kau akan mengajakku kerumahmu? Bukankah kau sudah berjanji?” Ucap Tiffany bersungut. Benar saja, Donghae belum pernah mengajak gadis ini kerumahnya. Selama ini yang Tiffany tahu hanyalah apartemennya, ia sangat jarang kembali kerumah. Mungkin karena sebelumnya rumah itu berpenghunikan seseorang yang dicintainya, dan saat orang itu sudah tidak dirumah itu lagi, suasana rumah itu pun berubah, dan hal itulah yang sangat dibenci Donghae. Ia tak sanggup berada dirumahnya lama-lama. Ia tidak terbiasa dengan ketidak hadiran Yoona dirumah itu. itulah sebabnya ia lebih memilih tinggal di apartemen.

“ Setelah kita dari Jepang, bagaimana?” Tawar Donghae.  Tiffany berpikir sejenak.

“ Hmm, okey.  appa sudah mengurus semuanya di Jepang kan?” Tanya Tiffany sambil memainkan sendok ice creamnya.

“ Ne, kita hanya tinggal menemui kolega Showa Coorporation.”

Donghae sadar bahwa ia mendapatkan posisi penting di Hwang company karena Tiffany, tapi ia juga tak meminta kan? Toh dengan bantuan Donghae juga, Tiffany sekarang bisa sembuh bahkan kembali berkarir bersamanya di perusahaan ayahnya. Tapi jika itu untuk menyembuhkan penyakit Tiffany, Donghae tulus melakukannya.

****

2 Days Later

Tokyo, Japan

“Senang bisa bekerjasama dengan perusahaan anda Donghae-ssi” Ucap Tatsuyama san –kolega bisnis Hwang Comp- sambil menjabat tangan Donghae. Donghae membalasnya disertai senyum tersungging di bibirnya.

“ Sama-sama. Kami berharap Showa Coorp bisa menjadi mitra bisnis terbaik kami.” Balas Donghae. Tatsuyama san hanya tersenyum. Ia lalu beralih pada Tiffany yang berdiri disamping Donghae. Ia menjabat tangan Tiffany sambil tersenyum. Tiffany pun membalas dengan hal yang sama.

“ Kalian terlihat sangat serasi. Di awal aku mengira kalian berdua sepasang kekasih.” Ucap Tatsuyama san pada Donghae dan Tiffany. Wajah Tiffany langsung merah mendengar hal itu.

“ Ah, anda bisa saja Tatsuyama-san. Hahaha “ Ucap Donghae. Tiffany sedikit mencuri pandang ke arah Donghae dengan wajah memerahnya.

“ Aku tidak bercanda, aku pikir kalian akan sangat serasi sebagai suami istri.”

Gulp! Mata Tiffany membesar mendengar ucapan Tatsuyama-san. Ia yakin wajahnya sudah seperti kepiting rebus, ia bahkan merasa malu jika harus memandang ke Donghae sekarang. Sementara Donghae menanggapi ucapan Tatsuyama-san dengan senyuman.

“ hhehhe.. . Tatsuyama-san bisa saja. Dia bercandanya keterlaluan.” Ucap Tiffany mendesah mendudukkan badannya pada kursi sesaat setelah Tatsuyama-san meninggalkan mereka berdua di restoran tempat pertemuan mereka.

“ Menurutku itu wajar, melihat kebersamaan kita. Bukankah kita terlihat seperti sepasang kekasih?” Goda Donghae sambil menyunggingkan senyuman mautnya. Seketika wajah Tiffany kembali memerah. Ia menunduk tak sanggup melihat ke arah Donghae. Melihat hal itu, Donghae tak mampu lagi menahan tawanya.

“ Ya! Oppa! Kau mau main-main denganku?” Ucap Tiffany ketus.

“ Wae? Kau tidak dengar ucapan Tatsuyama-san? Kita terlihat sangat serasi sebagai pasangan suami isteri.” Tambah Donghae. Ia memang sangat suka menggoda Tiffany, membaut gadis itu memperlihatkan wajah kesalnya yang menurutnya sangat manis. Seketika Tiffany terdiam. ia menerawang, teringat akan satu hal.

“ Mengapa kau sangat suka membuatku kesal oppa?” sambung Tiffany dengan ekspresi kesal.

“ Karena wajahmu sangat lucu saat kesal. Sama seperti istriku. Hahaha.”

Tiffany langsung terdiam. ia terpaku pada ucapan Donghae. Membuatnya merasa jauh dari Donghae, sangat jauh. Kembali ia mengingat Donghae sering mengucapkan kata istriku. Itu berarti dia sudah menikah. Tapi dimana? Dimana istrinya, selama ini Donghae oppa tinggal sendiri di apartemen.

“ Oppa. Apa benar kau sudah menikah?” Tanya Donghae langsung. Ekspresi Donghae berubah. Ia mengangguk mengiyakan pertanyaan Tiffany.

“ Dimana dia? Kenapa aku tidak pernah melihatnya? Apa dia sedang berlibur?” Ucap Tiffany ragu-ragu. Ia takut ucapannya akan salah.

Donghae tersenyum kecut. “ Aku tidak tahu.” Ucap Donghae datar. Membuat Tiffany menautkan alisnya bingung.

“ lalu?”

Donghae mendesah ringan.

“Aku telah menyakitinya, sangat dalam. lalu dia pergi dan tidak memberitahukanku kemana ia akan pergi.” Ucap Donghae lirih. Tiffany bisa melihat kesedihan mendalam di wajah Donghae membuatnya mengurunkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut.

“ Aku juga pernah merasa sangat tersakiti.”ucapan Tiffany seketika membuat Donghae menatap Tiffany dengan tatapan bingung.

“ Bahkan sampai sekarang aku masih merasakannya.” Sambung Tiffany seolah mengingat satu kenangan yang sangat membekas baginya.

“ Siapa yang menyakitimu?” Tanya Donghae penasaran. Jujur, baru kali ini ia melihat Tiffany seperti itu, seolah-olah berada dalam kesedihan yang dalam.

“ mengapa kau merasa sakit?”

“ Aku tidak tahu.”Jawab Tiffany. Wajahnya terlihat berpikir, mencoba mengingat sesuatu.

“ Aku tidak ingat.” Ucap Tiffany bingung. Mata Donghae membesar. Ia tidak boleh bertanya lebih lanjut. Itu akan membuat kondisi Tiffany memburuk jika ia membuatnya berpikir keras. Ia harus segera mengalihkan perhatian Tiffany.

“ Sudahlah. Setiap orang pasti pernah merasakan sakit. Tidak usah dipikirkan. Lebih baik kita kembali ke hotel, besok kita akan pulang ke Korea.” Donghae lalu beranjak dan mengajak Tiffany meninggalkan restoran tersebut.

***

“ Kau sudah siap Yoong?” Tanya Siwon pada Yoona yang kini tengah duduk di ruang tunggu keberangkatan Los Angeles Airport. Yoona tak segera menjawab. Ia hanya mendesah pelan.

“ Semuanya akan baik-baik saja kan oppa?” Ucap Yoona lirih. Siwon kaget mendengar ucapan Yoona. seketika ia memandang Yoona.  ia sedikit terkejut melihat Yoona yang kini sudah menangis. Melihat hal itu, Siwon langsung mendekap Yoona.

“ Aku takut oppa.” Ucap Yoona lagi dalam tangisnya.

“ Kau tidak usah takut Yoong. Oppa disini.” Ucap Siwon sambil mengelus lembut rambut Yoona. Yoona masih saja terisak. Saat ini ia sangat bingung, tak tahu apa yang akan dilakukannya di Korea. Ia tahu, kepulangannya ini akan membuka luka lamanya. Bagaimanakah Donghae sekarang? Bagaimanakah hidupnya setelah ia pergi? Apakah dia bahagia, apakah dia sudah menemukan wanita lain? Atau apakah dia juga sama menderitanya dengan dirinya selama dua tahun ini? Lalu bagaimanakah reaksi Donghae saat bertemu dengannya nanti? Mengetahui bahwa ia pulang untuk bercerai dengannya karena telah memiliki tunangan? Semua pikiran itu bermunculan di kepala Yoona, membuatnya belum siap jika harus bertemu dengan Donghae, walaupun dalam hatinya ia sangat merindukan sosok yang sangat dicintainya itu.

Dari kejauhan, Lee Seunggi menyaksikan saat Yoona menangis. Ia tahu, bahwa sampai saat ini Yoona masih belum membuka hatinya untuknya. Namun justru itu yang semakin membuatnya tertantang. Ia akan berusaha membuat Yoona mencintainya.

“ Seperti apakah dirimu, Lee Donghae?” Bisik Seunggi sendiri.

***

“ Ah, akhirnya sampai juga. Lelah sekali, padahal Cuma Jepang. ” Ucap Tiffany begitu melihat langit Korea di bandara Incheon.  Mereka barusaja kembali setelah 2 hari menghabiskan waktu mereka untuk bertemu kolega di Jepang.

“ Oppa palli.” Tiffany lalu merenggangkan tangannya lebar-lebar. Donghae yang melihat tingkah Tiffany hanya tersenyum lalu mengacak-acak lebut rambut Tiffany. Sementara sekali lagi Tiffany merasakan  detak jantungnya berjalan cepat saat Donghae melakukan hal itu.

“ Kenapa kau sangat terburu-buru?” Tanya Donghae. Tiffany langsung menyunggingkan senyumnya mendengar hal itu.

“ Agar bisa cepat berkunjung kerumahmu oppa.”

“ Ah geurae?” Tiffany mengangguk antusias.  Ingin rasanya Donghae mencubit pipi Tiffany saat melihatnya sekarang.

“ Kaja.” Ucap Dongha lalu merangkul Tiffany dan kemudian berjalan menuruni tangga pesawat.

Disaat yang bersamaan, pesawat yang ditumpangi Yoona, Siwon dan Seunggi mendarat.  Begitu pintu pesawat terbuka, Yoona langsung menghirup dalam-dalam udara Seoul yang sudah dua tahun tidak dirasakannya. Ia harus menunggu selama itu untuk bisa kembali ke Korea, tempat yang begitu berarti baginya.

“ Wah, akhirnya sampai juga. Rasanya sudah sangat lama aku tidak kesini.” Ucap Siwon. Seunggi mengikut dibelakangnya.

“ Yoona kaja.” Ajak Siwon mengajak Yoona menuruni tangga pesawat, begitupun Seunggi. Ketiga orang ini lalu berjalan menuju terminal kedatangan. Setelah mengambil barang bawaan, Siwon , Yoona dan Seunggi  pun segera berjalan hendak keluar dari bandara. Tak ada hal yang berarti sampai akhirnya Siwon tiba-tiba berhenti.  Pandangannya tertuju pada orang orang yang keluar dari terminal kedatangan lain. Ia terus memperhatikan orang-orang yang ada disana. Ia sangat yakin baru saja ia melihatnya. Tidak mungkin matanya sudah rabun. Ia yakin melihat gadis itu.

“ Oppa wae?” Tanya Yoona pada Siwon yang kini berdiri dengan ekspresi sedang mencari seseorang.

Pandangan Siwon terus tertuju pada arah yang sama. Apa aku hanya salah lihat? Apa itu hanya fatamorgana, atau pengaruh karena berada diatas pesawat sangat lama?

“ Siwon-ah. Ada apa? Apa yang kau lihat?” Tanya Seunggi sambil sedikit menyenggol Siwon. Akhirnya Siwon tersadar. Ia memegang keningnya.

“  Sepertinya aku salah lihat.” Ucap Siwon lesu.

“ Haus sekali.” Ucap Yoona pelan.

“ Kalau begitu, oppa belikan minuman ya, kalian tunggu disana. Okey.” Ucap Seunggi yang kemudian langsung berjalan ke sebuah kios Starbucks di bandara, sementara Siwon dan Yoona menunggu di tempat lain.

“ Anda pesan apa tuan?” Tawar pelayan pada Donghae yang kini berdiri di depan kios Starbucks

“ dua gelas strabucks dingin.” Pesan Donghae. Disaat yang bersamaan, Seunggi tiba di kios itu juga. Ia lalu berdiri di samping Donghae. Sesaat keduanya saling melempar senyum saat mata mereka bertemu.

“ Anda tuan?” Tanya pelayan, kini pada Seunggi.

“ tiga gelas dingin.” Ucap Seunggi.

Hening. Tidak ada percakapan yang terjadi diantara dua namja ini sampai Tiffany tiba-tiba datang dari belakang dan menepuk bahu  Donghae.

“ Oppa, kenapa lama sekali?” Tanya Tiffany.

“ Tunggu, sebentar lagi. Oppa juga baru memesan.”

Seunggi yang berdri disamping Donghae dan Tiffany tak bereaksi. Yah, hanya pemandangan biasa melihat sepasang kekasih kan? Batin Seunggi.

“ Ini pesanan anda tuan.” Pelayan lalu memberikan dua gelas starbucks dingin pada Donghae dan Tiffany. Sementara Seunggi harus menunggu sebentar untuk pesanannya. Donghae dan Tiffany segera meninggalkan kios tersebut,  keduanya kembali asyik bercanda , sampai tiba-tiba. . .

“ Tunggu!”

To be continued

****

Catatan : kalo punya niat buat coment, jangan sungkan untuk menuliskannya dibawah. Yang masih malu-malu, mau nulis coment tapi takut typo atau lebih parahnya kaga tau mau nulis apa, pikir-pikirlah dulu, aku tunggu coment kalian di lain waktu dan kesempatan… Wassalam^^ *Klik like juga gapapah*

po

Title       : Memento Part 5

Author  : Kid Kaito

Cast       : Lee Donghae, Im Yoona , Kwon Yuri, Lee Dongwook, Choi Sooyoung, Jessica Jung

Genre   : Romance

Rating   : PG-15

Note      : Annyeonghaseyo readersku yang tersayang. Lama ga ngeposting aku jadi merasa bersalah juga sama readers semua, makanya aku mau minta maaf atas kelamaan update FF ini, mudah mudahan masih pada ingat jalan ceritanya ya, atau kalo ada yang udah lupa, gak mudeng lagi sama jalan ceritanya, jangan khawatir, tinggal baca ulang ajah part sebelumnya *jiah*. Daripada banyak bacot, mendingan kita langsung ajah cekidot, semoga readers semua pada suka part ini yah^^ selamat membaca~~

 

 

MEMENTO

 

 

“ keretakan di tulang kaki anda masih memerlukan waktu untuk bisa benar-benar pulih, kemungkinan bulan depan baru anda bisa berjalan tanpa bantuan tongkat.” Ucap dokter serius namun tetap berkesan ramah.

“ Tapi ini tidak parah kan dok?” Tanya Donghae khawatir.

“ Asal kau menjaga istrimu untuk tidak terlalu banyak menggerakkan kakinya Donghae-ssi.” Ucap Dokter sambil melirik ke Yoona disertai senyuman kecil. Donghae dan Yoona pun ikut tersenyum karena ucapan dokter.

“ Itu pasti dokter. Gamsahabnida.”

Di depan bangunan rumah sakit, Donghae segera menyetop sebuah taxi.

Memang menjadi sebuah kebiasaan bagi Donghae jika mengantar Yoona kerumah sakit atau bepergian dengan Yoona, ia lebih memilih untuk naik taxi dibanding berkendara sendiri, mungkin Yoona masih trauma jika Donghae yang menyetir. Bisa dilihat sekarang  Yoona masih terlihat sangat takut naik mobil, ia dengan cepat meraih lengan Donghae dan memeluknya erat selama perjalanan pulang.

Malamnya, Saat Yoona tengah duduk di ruang tengah sambil menonton Tv, tiba-tiba Donghae datang membawa sebuah baskom berisi air hangat. Ia lalu meletakkannya di dekat kaki Yoona.

“ Apa yang akan oppa lakukan dengan air itu?” Tanya Yoona begitu melihat Donghae. Donghae hanya tersenyum.

“ Oppa akan melakukan ini.” Donghae lalu mengangkat pelan kaki Yoona dan memasukkannya ke dalam baskom berisi air hangat itu. Yoona sempat meringis kesakitan saat Donghae tiba-tiba menyentuh kaki Yoona yang cedera.

“ Ini akan sangat bagus untuk penyembuhan kakimu.” Ucap Donghae sambil mengelus-elus lembut kaki Yoona. Yoona hanya memandangi semua perlakuan Donghae.

“ Oppa, menurutku ini terlalu. . .”

“ Ssstt? Aku hanya ingin istriku cepat sembuh.” Ucap Donghae memotong kalimat Yoona. Yoona kembali terdiam.

“ Mianhe. . . Mianhe Yoona. Oppa yang menyebabkan semua ini, kalau saja hari itu oppa berkonsentrasi menyetir, semua ini pasti tidak akan terjadi.” Ucap Donghae yang sontak membuat Yoona merasa sakit.

“ Oppa benar-benar bodoh, membiarkanmu berada dalam kecelakaan. Mianhe Yoona.” Ucap Donghae sambil terus mengelus lembut kaki Yoona, matanya memerah menahan air matanya.

“ Oppa Geumanhe!” pekik Yoona. seketika Donghae menghentikan kegiatannya, dan beralih memandang Yoona yang kini sudah menangis.

“ Arasso.” Kata Donghae lembut.

“ Oppa aku mohon jika kau tidak ingin menyakitiku, jangan bicarakan soal kecelakaan itu lagi.” Ucap Yoona menangis.

“ Mianhe Yoona. . .” Ucap Donghae. Yoona lalu meletakkan kedua tangannya di pundak Donghae dan mengelus lembut  bahu suaminya itu.

“ Oppa, aku tidak pernah menyalahkanmu, jadi jangan selalu meminta maaf padaku oppa.” Ucap Yoona. ia lalu memeluk Donghae, menyandarkan kepalanya di bahu Donghae.

*******

“ Bagaimana kau bisa mengalami kecelakaan? Apa kau baik-baik saja? Kau yakin hanya kakimu yang sakit?” Tanya Sooyoung bertubi-tubi begitu melihat Yoona. ia kini sedang berkunjung kerumah Yoona setelah sekian lama menghilang.

“ Bisa kau menanyakan hal satu per satu? Lagipula kemana saja kau selama ini? Kenapa baru sekarang kau datang menjengukku?” Tanya Yoona balik pada sahabatnya itu. ia seolah-olah marah, padahal dalam hatinya ia sangat bahagia dikunjungi oleh Sooyoung.

“ Aku sendiri merasa kalau aku jahat Yoong, aku baru bisa mengunjungimu sekarang. . . Mianhe. . . Aku baru dari Jepang, sedang mempersiapkan butikku disana.”

“ Wah, chukae.. .” Ucap Yoona antusias yang hanya dibalas senyuman dari Sooyoung.

“ Jadi beritahu aku kenapa kau sampai mengalami kecelakaan?” Wajah Sooyoung kembali serius.

“ Emm. . . Mobil kami menabrak pembatas jalan.” Ucap Yoona ragu-ragu. Mendengar hal itu, Sooyoung langsung heboh.

“ Mwo? Bagaimana bisa? Apa yang membuat mobil kalian bisa. . . Aigo. . . Apa Donghae oppa tidak berkonsentrasi menyetir? ” Ucap Sooyoung sambil memandang ngeri pada Yoona. Yoona hanya bisa tersenyum kecut.

“ Semua orang bisa mengalami kecelakaan kan Sooyoung-ah.” Ucapnya.

“ Geurae…” Ucap Sooyoung lemah. Sooyoung kemudian mengalihkan pandangannya pada sekeliling rumah.

“ Rumah ini sangat besar, apa kau tidak takut ditinggal sendiri dirumah ini jika Donghae oppa bekerja?” Tanya Sooyoung tiba-tiba.

“ Mwo? Tidak juga.” Ucap Yoona santai.

“ Maksudku kau tahu sendiri kan kalau rumah ini punya cerita tentang penghuni sebelumnya.” Ucap Sooyoung. Ia ragu-ragu berucap.

“ Maksudmu Jessica?”

“ itu salah satunya.”

“ Ya! Jangan menakut-nakutiku Sooyoung-ah.”

“ Aniyo. Aku hanya takut kau tersesat jika kau sendiri di rumah sebesar ini Yoong. Hahaha. . .” Sooyoung lalu tertawa renyah menggoda sahabatnya. Yoona pun ikut tertawa dengan lelucon Sooyoung.

“ Oh ya aku hampir lupa. Apa kau punya Koran bekas atau semacamnya?” Tanya Sooyoung.

“ Untuk apa?”

“ Aku memiliki yayasan dan kebetulan kami sedang giat memanfaatkan barang bekas untuk di daur ulang. Bagaimana, kau punya?”

“ Molla. Mungkin ada diruang bawah tanah.” Ucap Yoona datar.

“ Rumah ini punya ruang bawah tanah?” Tanya Sooyoung antusias.

“ Semacam gudang, tapi aku belum pernah kesana.”

“ Kalau begitu aku temani, sekalian kau perlu mengetahui rumahmu lebih detail kan?” Ucap Sooyoung.

Sooyoung yang semangat dengan cepat berjalan duluan, tak sadar kalau kaki Yoona sedang sakit.

“ Ya! Choi Sooyoung. Kau jangan terlalu cepat, kau tidak lihat aku kesulitan berjalan.” Ucap Yoona ketus. Sooyoung segera berbalik dan menghampiri Yoona.

“ Mianhe. Aku lupa. Sini aku bantu.” Sooyoung lalu menggandeng Yoona ke ruang bawah tanah. Agak sulit bagi Yoona untuk menuruni anak tanngga menuju ke basement. Namun karena Sooyoung terlihat sangat antusias, ia tak mau menolak permintaannya. Lagipula dengan begini Yoona lebih bisa mengetahui sudut-sudut di rumahnya, apalagi kali ini ia ditemani Sooyoung.

Akhirnya mereka sampai di basement rumah itu. cukup luas. Yoona memandang sekeliling, baru kali ini ia ke tempat ini. Tak banyak barang yang ada disana. Dengan cepat Sooyoung menemukan Koran bekas yang ia cari. Begitu mendapatkannya, ia langsung mengajak Yoona kembali. Lagipula siapa yang ingin berlama-lama berada di ruang bawah tanah? Namun dalam waktu yang singkat itu, Yoona merasa ada sesuatu di basement itu, entah apa namun Yoona masih penasaran dengan tempat itu. terlebih lagi sekilas ia melihat sebuah ruangan lain di basement itu. entah apa isinya namun semua itu membuat Yoona bertanya-tanya.

****

Donghae sedang sibuk membereskan berkas perusahaannya di ruang kerja dirumahnya saat tiba-tiba ponselnya berdering. Ia dengan cepat melihat si penelpon yang masuk.

“ Yoboseyo?” Ucap Donghae

“ Yoboseyo Hyung.”

“ Ne Sehun-ah. Ada apa?”

“ Bagaimana kabarmu Hyung?”

“ Aku baik-baik saja.”

“ Bagaimana dengan noona, aku menghubungi ponselnya tapi tidak aktif.”

“ Kau ingin bicara dengannya?”

“ Ne.”

“ tunggu, akan kubawakan ke Yoona.”

Donghae lalu berjalan ke arah kamarnya. Disana Yoona sedang berada di depan cermin menyisir rambut panjangnya. Melihat hal itu Donghae langsung tersenyum. Ia lalu mendekati Yoona dan memeluknya dari belakang, merasakan aroma harum dari tubuh Yoona. Yoona sampai dibuat kaget karena ulah Donghae.

“ Ada apa?” Tanya Yoona

“ Ada seseorang yang ingin berbicara.” Donghae lalu menempelkan ponselnya di telinga Yoona, lalu meletakkan dagunya di bahu Yoona seolah-olah ingin ikut mendengar percakapan Yoona.

“ Yoboseyo?”

“ Noona, bogoshipeo.” Ucap Sehun di diseberang.

“ Sehun-nie. Bagaimana kabarmu?”

“ Baik. Noona juga kan? Lukamu sudah sembuh?”

“ Masih dalam tahap penyembuhan. Tapi sudah baikan.”

“ Syukurlah. Noona, aku tahu kau kesepian jika Donghae hyung bekerja kan? Jadi aku akan mengirimkan hadiah agar kau tidak kesepian lagi.”

“ Mwo? Hadiah apa?”

“ Surprise. Tunggu saja. Annyeong.”

“ Ya! Sehun-ah.” Sambungan telepon terputus. Donghae lalu menaruh ponselya di saku celananya. Dia kemudian kembali memeluk Yoona.

“ Kau wangi sekali.” Ucap Donghae seraya merasakan aroma tubuh Yoona.

“ Jeongmal?” Tanya Yoona. Donghae mengangguk. Ia lalu mengecup lembut leher Yoona yang membuat Yoona merasa geli.

“ Akh oppa hentikan.” Pekik Yoona. Donghae kemudian mengangkat tubuh Yoona ke tempat tidur, namun Donghae tidak membaringkannya. Donghae duduk di tepi ranjang dengan Yoona dipangkuannya, Yoona melingkarkan tangannya pada leher Donghae. Sedetik kemudian bibir keduanya bertemu. Saling melepas kerinduan akan kemesraan keduanya.

“ Yoona, satu minggu kedepan kita tinggal di apartemenmu saja yah.” Ucap Donghae yang seketika membuat wajah Yoona terlihat sedikit kaget.

“ Wae?”

“ Oppa hanya ingin menginap di tempat itu. terasa sangat nyaman.” Ucap Donghae, ia terlihat ragu.

“ Apa rumah ini sudah tidak nyaman bagimu?” balas Yoona, Donghae terlihat tak bereaksi.

“ Aniyo. Tempat ini adalah tempat yang paling nyaman.” Ucap Donghae datar. Yoona terdiam menatap mata suaminya yang sayu. Dielusnya lembut pipi Yoona, kemudian ia mendekap istrinya itu.

“ oppa tahu kau merindukan tempat itu sayang.” Ucap Donghae setengah berbisik tepat di telinga Yoona.

“ Sangat merindukannya oppa.” Ucap Yoona, ia lalu menyandarkan kepalanya di bahu Donghae, mencoba mencari kenyamanan, tapi walau bagamanapun dalam hatinya, ia masih merasakan sesuatu yang kadang membuatnya sangat takut.

*****

 

1 Week Later

Setelah satu minggu menginap di apartemennya, akhirnya Yoona dan Donghae kembali ke rumah mereka. Sebenarnya Yoona masih ingin berlama-lama di apartemennya sendiri, karena ia merasa lebih nyaman berada disana. Tapi karena kesepakatan hanya satu minggu akhirnya dia harus kembali ke rumah besarnya. Meskipun begitu, selama satu minggu di apartemennya, pikiran Yoona tak bisa lepas dari basement di rumahnya. Ia begitu penasaran dengan isi ruangan dalam basement itu. hal itu juga yang membuatnya harus cepat kembali ke rumah.

“ Oppa punya kejutan untukmu.” Ucap Donghae begitu keduanya sampai di depan pintu.

“ Kejutan apa?” Tanya Yoona bingung.

“ Kau lihat sendiri.” Donghae menyunggingkan senyumnya.

Yoona POV

Donghae oppa membuka pintu rumah perlahan. Jujur saja saat ini aku kaget melihat rumah yang baru saja aku tinggal selama seminggu namun semua tampak berubah di penglihatanku. Dekorasi, wallpaper, cat semuanya berubah. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Donghae oppa sengaja memindahkan semua barang-barang kami yang ada di kamar atas ke lantai satu. Begitupun dengan semua yang ada di dalam kamar tersebut, semua sepereinya terlihat baru saja dibeli.

“ Mengapa semuanya berubah?”

“ Oppa sengaja merubah semua ini karena oppa pikir kita butuh suasana baru.” Ucapnya tersenyum kecil

“ Dan oppa sengaja memindahkan kamar kita kebawah agar kau tidak usah naik turun tangga lagi sampai kakimu betul betul sembuh.” Sambungnya lagi.

Aku masih asyik memandangi ruangan di depanku. Aku tak percaya Donghae oppa melakukan semua ini.

“ Bagaimana, kamu menyukainya? jika kau tidak suka, kita bisa menggantinya.” Mendengar ucapannya, aku dengan cepat menggeleng.

“ Aniyo. Aku sangat menyukainya oppa. Aku sangatmenyukai semua perubahan yang ada di rumah ini.

“ Ah, padahal oppa sangat khawatir kau tidak akan menyukainya. Gomawo sayang.”

“ Aku seharusnya yang harus berterima kasih oppa.” Ia kemudian memelukku hangat. Kurasakan aroma tubuhnya yang khas.

“ Oppa, bagaimana jika kita mengundang Dongwook oppa dan Yuri eonni makan malam. Kita sudah lama tidak bertemu dengan mereka kan?” Ucapku. Seketika Dongha oppa melepaskan pelukannya dan menatapku.

“ Mengundang mereka, untuk apa?” raut Tanya terpancar dari wajahnya. Aku mengangguk menginyakan pertanyaannya.

“ Anggap saja sebagai perayaan dekorasi baru rumah kita.” Kusunggingkan senyumku padanya.

“ Bagaimana? Oppa setuju kan?” Ucapku sedikit manja. Bisa kulihat ekspresinya yang sangat sulit ditebak, namun bisa kupastikan ia memikirkan sesuatu yang lain saat ini.

Dengan wajah ragu, Donghae oppa lalu mengangguk kecil tanda mengabulkan permintaanku.

“ Gomawo oppa.”

End Yoona Pov

“ Guk! Guk! Guk!” suara anjing yang tiba-tiba terdengar dari dalam rumah mengagetkan Yoona dan Donghae.

“ Suara anjing?” Ucap Yoona dengan nada bertanya ke Donghae.

“ Oppa hampir lupa memberitahukanmu. Tadi ada seekor anjing yang dikirim kesini, dari Sehun.” Ucap Donghae.

“ Benarkah?” Tanya Yoona antusias.

“ Dan ada sebuah surat bersamanya.” Donghae lalu berjalan ke arah sebuah laci yang ada disudut lalu mengambul sebuah amplop danmenyerahkannya pada Yoona. Yoona dengan cepat membuka amplop tersebut dan membaca surat di dalamnya.

“ Noona, aku pikir noona akan kesepian dirumah jika Donghae hyung sedang bekerja, jadi aku kirim Bada. sekarang noona tidak akan kesepian lagi karena aku menyuruh Bada untuk menemanimu. Dia akan sangat senang berteman dengan Noona dan Donghae hyung.”

Sehun

Yoona tersenyum membaca surat dari adiknya. Bada segera berlari ke Donghae dan berputar-putar di kaki Donghae. Donghae lalu mengelus-elus bulu bada yang lembut.

“ Nah sekarang kau harus menuruti apa yang aku katakan. Tugasmu yang paling utama adalah menjaga istriku yang cantik itu, Aracci.” Ucap Donghae pada Bada. Bada menggonggong Seakan mengerti apa yang Donghae katakan.

“ Anjing pintar.”

***

Malam harinya, Yuri dan Lee Dongwook pun berkunjung kerumah Yoona dan Donghae. Yuri tak lupa membawa bingkisan untuk Yoona.

Saat ini, keempat orang tersebut berada di meja makan. Yoona dan Yuri terlihat mendominasi percakapan, sedangkan kedua bersaudara Donghae dan Dongwook terlihat tak mengucapkan sepatah kata pun, mereka hanya sesekali ikut tersenyum jika mendengar percakapan Yuri dan Yoona.

“ Aku sangat kaget saat pertama kali masuk tadi, semuanya tampak berubah.” Ucap yuri

“ Donghae oppa yang merubah semuanya.”

“ Wae?” Tanya Yuri.

Yoona seakan mengisyaratkan Donghae untuk menjawab.

“ Aku hanya ingin merubah suasana, dan sekaligus membuang kesialan-kesialan di rumah ini.” Ucap Donghae tenang sekilas melirik ke arah Lee Dongwook. Yoona sedikit kaget mendengar jawaban Donghae begitupun Yuri. Dilain hal, Dongwook yang duduk disamping Yuri nampak balik menatap ke arah Donghae.

“ yah hal itu sangat penting, suasana rumah jika tidak cocok dengan penghuninya akan membuat tidak nyaman.” Ucap Dongwook santai sambil sesekali menyantap pudding di depannya.

Sesaat kemudian Dongwook beralih ke Yoona “ kau yang mengusulkan warna dinding rumah ini Yoona?” Ucapnya. Seketika Yoona menggeleng

“ Donghae oppa yang memilih semua.” Ucap Yoona. alis Dongwook seketika naik mendengar jawaban Yoona.

“ Benarkah? Wah aku tidak menyangka Donghae sendiri yang ingin mengubah cat, wallpaper dan semua ini.” Ucap Yuri terkekeh.

“ Bagaimana dengan kakimu Yoong, apakah sudah baikan?” Tanya Dongwook

“ Hampir sembuh total, tapi aku beberapa hari kedepan aku masih harus menggunakan tongkat.”

“ Kau jangan terlalu banyak menggerakkan kakimu dulu, masih rawan kan?” Ucap Dongwook memperlihatkan wajah khawatir.

“ Ne.” Ucap Yoona pelan.

“ Dan kau jangan sungkan menelpon Yuri jika kau kesepian dirumah besar ini.” Ucap Dongwook lagi.

“ Betul Yoong. Jika Donghae pergi bekerja dan kau sendiri dirumah ini, telepon aku, jika aku tidak sibuk di Bakery aku pasti akan berkunjung kesini.” Giliran Yuri yang berucap.

“ Gomawo eonni.” Ucap Yoona bahagia. Ia lalu melirik Donghae yang ada disampingnya. Sedari tadi Donghae hanya diam mendengarkan percakapan mereka, dan sama sekali tak ada maksud untuk masuk ke percakapan. Ada apa sebenarnya? Apaka Donghae oppa masih belum akrab dengan Hyungnya sendiri? kembali aku teringat cerita dari Eomma (Nyonya Lee) sewaktu ia berkunjung.

“ Sejak kecil mereka berdua sudah berpisah. Saat SD, Dongwook tinggal bersama neneknya di Mokpo sedang Donghae ikut kami ke Seoul. Setelah SMP, Dongwook kemudian bersekolah di Seoul, tapi Donghae malah ingin sekolah di Busan. Dongwook kuliah di Jepang dan Donghae di China. Sempat Donghae melanjutkan kuliahnya juga di Jepang, tapi setelah Dongwook kembali ke Korea. Jadi mereka memang tak pernah lama tinggal bersama. Mungkin karena itulah keduanya masih belum akrab sampai sekarang. Itu juga salahku yang memisahkan mereka dari kecil.”

“ Sudah berapa lama Yuri Eonni dan Dongwook oppa menikah?” Tanya Yoona memecah keheningan. Yuri Eonni langsung menaruh sendok pudingnya begitu mendengar pertanyaan Yoona.

“ Bulan depan adalah ulang tahun pernikahan kami yang ke 6.” Ucap Yuri girang. Dongwook disampingnya pun ikut tersenyum.

“ Oh ya?”

“ Dan kau tahu Yoong, selama 5 tahun ini Dongwook oppa hanya mengajakku ke restoran yang itu itu saja.”

“ Itu karena masakannya enak sayang, kau juga menyukainya kan?” Ucap Dongwook manja. Jujur aku kagum pada mereka berdua yang begitu mesra, walaupun aku masih yakin Donnghae oppa lebih romantic dari Hyungnya, tapi Donghae oppa bukan tipe orang yang akan mengumbarnya di depan orang lain, tidak seperti Dongwook oppa. Kurasa disitu perbedaan mencolok mereka.

Malam semakin larut, acara makan malam pun berakhir. Kini Yoona dan Donghae tengah berbaring diatas tempat tidur, menghangatkan diri dibawah sebuah selimut, Yoona berada dalam dekapan Donghae, menjadikan lengan Donghae sebagai bantalnya, sedang satu lengannya lagi menggenggam tangan Yoona yang ada diatas dadanya. Keduanya masih terjaga, menatap langit-langit.

“ Oppa…”

“ Hmm?”

“ Dongwook oppa dan Yuri eonni sangat mesra ya?” Ucap Yoona pelan, kembali membayangkan keromantisan Yuri dan Dongwook tadi.

“ Wae? Apa aku kurang mesra?” Goda Donghae.

“ Aniyo. Aku hanya berharap hubungan kita seperti mereka yang selalu mesra.”

“ Geurae?” Donghae oppa membalas dengan nada malas.

“ Keundae… apa mereka belum punya anak? Padahal sudah hampir 6 tahun mereka menikah.”

“ Siapa bilang? Mereka punya anak kok.” Ucap Donghae. Yoona sedikit kaget mendengar ucapan suaminya.

“ Benarkah? Siapa namanya? Kenapa tidak pernah diajak?”Tanya Yoona penasaran. Donghae lalu mengelus-elus rambut Yoona dengan tangannya yang dijadikan bantal oleh Yoona, sementara tangan yang satu tetap menggenggam tangan Yoona yang ada di dadanya, seakan ingin memperdengarkan detak jantungnya pada Yoona. hal itu membuat Yoona semakin nyaman menyandarkan kepalanya di lengan suaminya itu.

“ Lee Jun Hyun, umurnya empat tahun, dia tinggal bersama orangtua Yuri. Yuri dan Dongwook Hyung menitipkannya karena merasa akan sulit menjaga Jun Hyun jika mereka harus bekerja. Tapi Jun Hyun tetap sering bermalam dirumah Dongwook Hyung.” Tutur Donghae. Yoona manggut-manggut mendengar penjelasan Donghae.

“ he, aku baru tahu itu.” Ucap Yoona terkekeh.

“ Geurae?” Ucap Donghae lembut.

Kemudian keduanya terdiam. larut dalam keheningan. Hanya suara nafas mereka yang terdengar. Sebelum Yoona kembali mengeluarkan pertayaan pada suaminya.

“ lalu bagaimana denganmu oppa?” Tanya Yoona pelan.

“ Hmm?”

“ Apakah dia pernah mengandung?” Ucapan Yoona keluar begitu saja, membuat Donghae sejenak terdiam.

“ Jessica, apa dia pernah hamil?” Kembali Yoona bertanya. Ia tak tahu mengapa ia begitu lancang bertanya seperti ini, tapi tidak ada salahnya kan jika ia hanya ingin tahu masa lalu suaminya bersama istri terdahulunya.

“ Tidak pernah.” Jawab Donghae singkat membuat Yoona kini menatap suaminya. Ekspresinya datar.

“ Wae?” Tanya Yoona lagi membuat dirinya merasa semakin lancang, tapi dilain hal ia tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.

“ Jessica selalu mengatakan masih belum siap memiliki anak. Ia selalu mengatakan hal seperti itu.” Donghae menarik nafas sejenak. Ia kemudian melanjutkan kalimatnya.

“ Ia selalu mengatakan kalau dia dan aku masih muda, masih punya banyak wajtu untuk memiliki anak. Untuk apa cepat-cepat memiliki anak jika kau masih ingin menikmati waktu berdua.” Donghae berbicara dengan nada sangat pelan. Yoona diam di lengan Donghae mendengarkan setiap perkataan Donghae.

“ Kesalahanku yang terbesar adalah menuruti apa yang dia katakan, tidak tahu bahwa kebersamaan kami hanya sesaat. Apa yang dikatakan Jessica salah, nyatanya dia begitu cepat berlalu.”

Yoona menghembuskan nafasnya berat. Ia lalu memperbaiki posisi kepalanya.

“ Aku tidak mau mengulangi kesalahanku lagi Yoona. aku sudah terlalu banyak menunda, aku ingin cepat memiliki anak darimu sayang.” Ucap Donghae sambil menatap mata Yoona. mendengar hal itu seketika Yoona mengembangkan senyum manisnya.

“ Tentu oppa. Aku juga tidak akan menunda hal itu.” Ucap Yoona yang dibalas senyuman dari Donghae. Donghae lalu menarik Yoona kedalam pelukannya, meresap rambut Yoona, merasakan aroma tubuhnya. Mencoba menikmati setiap detik kebersamaan mereka.

***

“Yoona, jangan terlalu banyak menggerakkan kakimu.” Ucap Donghae sambil memasang sepatu di kakinya. Yoona berdiri disampingnya sambil membawa jas kerja Donghae. Setelah selesai memakai sepatunya, Donghae lalu berdiri di hadapan Yoona. Yoona kemudian memakaikan jas yang tadi dibawanya ke Donghae. Tak lupa ia memperbaiki dasi suaminya itu.

“ Yoona. . .” Ucap Donghae pada Yoona yang tengah memperbaiki dasinya.

“ hmm?” Ucap Yoona pelan. Donghae sedikit menarik nafas.

“ Jangan ke ruang bawah tanah lagi, kalau ada yang kau butuhkan disana, tunggu sampai oppa ada dirumah.”Ucap Donghae serius. Sontak Yoona segera memandang Donghae dengan tatapan yang seakan mengatakan “ Darimana kau tahu aku dari sana?”

“ Oppa tidak ingin kakimu terluka lagi sayang, jadi oppa mohon kau jangan kesana lagi. Aracci?” Donghae mengelus lembut pucuk kepala Yoona.

“ Kau mau berjanji pada oppa tidak akan ketempat itu lagi kan?” Tanya Donghae lagi. Yoona kelihatan berpikir, namun kemudian mengangguk pelan mengiyakan permintaan Donghae. Melihat hal itu, senyum segera tersungging di wajah tampan Donghae. Sementara Yoona hanya tersenyum kecut. Ia seakan tak sadar dan mengangguk begitu saja. Dalam hati ia tak ingin menuruti permintaan Donghae karena jujur ia sangat penasaran mengenai gudang di ruang bawah tanah itu. dan pertanyaan terbesarnya darimana Donghae tahu bahwa ia pernah kebawah? Ia sangat yakin tidak ada cctv dirumahnya. Dan apa sebenarnya yang ada di ruangan itu? mengapa Donghae tidak ingin ia datang ke tempat itu? pertanyaan-pertanyaa bermunculan begitu saja di kepala Yoona.

“ Kalau begitu, oppa berangkat dulu ya.” Secepat kilat Donghae mengecup pipi Yoona kemudian segera berjalan ke mobilnya. Sesaat kemudian mobil Donghae perlahan menjauh dan menghilang dari pandangan Yoona. ia tetap berdiri di teras rumahnya sampai gonggongan Bada mengagetkannya yang sedang melamun.

“ Anjing nakal.”

****

Yoona melemparkan bola itu ke sudut-sudut rumahnya. Reflex Bada pun segera mengejar bola itu, menggigitnya lalu kembali membawanya ke Yoona. Bada melakukan gerakan-gerakan aneh seakan meminta Yoona kembali melemparkan bola tersebut. Mengerti akan permintaan Bada, sekali lagi Yoona melemparkan bola itu ketempat yang sama. Begitupun bada yang segera berlari memungutnya dan kembali membawanya pada Yoona. kegiata inilah yang dilakukan Yoona untuk melupakan kebosanannya yang teramat sangat dirumah. Bermain dengan Bada anjing Sehun yang dpinjamkan padanya. Hanya kegiatan inilah yang bisa membuat Yoona tertawa sendiri melihat tingkah Bada yang lucu. Bada adalah sejenis anjing penjaga yang cukup besar, membuat Yoona sedikit merasa terlindungi karena kehadirannya.

Bada kembali mengonggong meminta Yoona melemparkan bola.

“ Kau masih mau bermain?” Tanya Yoona. seolah mengerti apa yang Yoona katakan, bada mengoggong seakan menjawab iya.

“ Baiklah.. aku akan melemparkannya lagi.” Kemudian Yoona melemparkan bola kecil di tangannya. Cukup jauh dan sepertinya menggeleinding ke tangga yang menuju ke ruang bawah tanah. Bada dengan cepat mengejar bola itu. agak lama Yoona menunggu namun Bada tak kembali juga. Dan Yoona khawatir jika Bada turun ke ruang bawah tanah.

“ Bada…” Panggil Yoona.

“ Bada… kembali..” Panggil Yoona lagi, namun bada tak kunjung datang. Hal ini membuat Yoona sedikit khawatir. Ia lalu berdiri dan mengambil tongkatnya. Mencoba melangkah walaupun dengan susah payah dan bantuan tongkat.

“ Bada. . .” Panggil Yoona. terdengan suaran Bada mengonggong. Seperti berasal dari ruangan bawah tanah. Yoona mencoba mempercepat langkahnya yang kini mendekat ke tangga menuju ruang bawah tanah.

“ Bada…” Lagi Yoona memanggil dan lagi ia mendengar suara Bada menggonggong dari bawah. Kini Yoona sudah berada di tangga menuju ruang bawah tanah. Masih terngiang ditelinganya saat Donghae melarangnya ke ruanga dibawah. Tapi Bada ada dibawah sekarang, bagaimana kalau ada yang terjadi padanya? Dengan terpaksa ia harus melanggar janjinya pada Donghae untuk tidak mendekati ruangan itu lagi.

Perlahan Yoona mencoba menapakkan kakinya di setiap anak tangga menuju ke ruang bawah tanah. Ia harus sangat berhati-hati menjaga agar kakinya yang sakit tidak terbentur. Ia bisa mendengar suara Bada yang mengonggong. Akhirnya ia sampai juga diruang bawah tanah. Perasaannya tidak enak. Ia merasa berada di bagian lain dirumahnya. Ruangan ini memancarkan aura yang berebda, begitu asing baginya. Ingin rasanya ia segera berlari meninggalkan ruangan ini, namun ia masih belum menemukan Bada. Kemana perginya anjing nakal itu? batin Yoona.

“ Bada. . .” Panggil Yoona. sedetik kemudian, Bada segera menghampirinya dengan bola yang digigitnya. Segera ia letakkan di depan Yoona.

“ Kemana saja kau anjing nakal.” Ucap Yoona sedikit kesal. Kemudian pandangan Yoona segera beralih ke sekelilingnya.

Tidak ada hal aneh dari ruangan bawah tanah ini. Hanya ada beberapa barang bekas yang tersusun disini. Namun tak jauh dari tempat Yoona berdiri, terdapat sebuah pintu yang menuju ke sebuah ruangan lain di basement itu. tampak seperti sebuah kamar besar. Yoona tampak memandangi ruangan di depannya, mencoba menebak apa isinya. Muncul niat di dalam hatinya untuk memeriksa apa dibalik pintu itu, namun ia segera teringat janjinya pada Donghae.

“ Kita tidak akan kesana kan Bada?” Ucap Yoona pada Bada yang kini berputar-putar di kakinya. Sesaat kemudian, Bada melompat dan berlari mendekati pintu di depannya. Yoona sempat kaget melihat tingkah anjing itu.

“ Bada andwae.” Ucap Yoona. Bada kini sudah berada di depan pintu dan berputar-putar di depannya seakan meminta Yoona untuk membuka pintu itu.

“ Sigh. . . Anjing nakal.” Yoona lalu mengangkat tongkatnya dan berjalan mendekat ke pintu tempat Bada. Ia menarik nafasnya dalam. Detak jantungnya semakin cepat, entah mengapa ia sedikit ngeri dengan ruangan di depannya, tapi kini rasa penasarannya seakan mengalahkan semua itu.

Yoona masih berpikir apakah ia harus membuka pintu di depannya? Ia takut akan terjadi hal yang tidak ia inginkan, tapi dilain hal ia juga sangat penasaran, apa sebenarnya yang ada di dalam ruangan ini? Dan mengapa juga Donghae tidak ingin jika ia mendekati ruang bawah tanah ini?

“ Donghae oppa akan marah jika tahu kita melakukan ini.” Ucap Yoona pada Bada disampingnya. Perlahan ia meraih ganggang pintu di depannya. Ia menelan ludahnya tanda gugup, kemudian memutar ganggang pintu tersebut.

“ Eo? Tidak terkunci.” Ucap Yoona refleks. Ia lalu menarik nafas sejenak mencoba mengumpulkan keberaniannya. Perlahan ia mendorong pintu itu untuk terbuka. Dan akhirnya, ia benar-benar membuka ruangan itu. Bada dengan cepat melompat memasuki ruangan itu, dan tentu saja membuat Yoona kaget. Namun yang membuatnya sangat shock adalah apa yang kini dilihatnya sendiri. Ia hampir saja tak percaya apa yang kini ada di depan matanya. Ia berdiri mematung memandangi semua barang bahkan foto di depannya.

“ Jessica. . .” Ucap Yoona entah itu sadar atau tidak saat melihat begitu banyak gambar Jessica di depannya. Lemari, buffet dengan segala isinya, sofa dan masih banyak lagi barang lain yang sepertinya semuanya adalah milik Jessica.

Perlahan Yoona melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. ia memandangya sekeliling. Jika digambarkan, ruangan ini hampir penuh dengan segala macam barang, dari yang besar seperti lemari dan buffet sampai pada hal terkecil seperti aksesoris.  Yoona lalu mendekati sebuah meja dengan segala aksesoris diatasnya. Ia lalu mengambil sebuah cermin kecil yang sangat cantik. Sebuah inisial “J” tertulis dibalik cermin itu.

“ J, untuk Jessica.” Ucap Yoona pelan. Tak jauh dari meja itu, tersusun rapi album foto. Yoona lalu mengambil sebuah album dan membukanya. Halaman pertama album itu tertulis kata “ Lee Donghae and Jung Jessica”. Membaca tulisan itu saja sudah membuat hati Yoona seakan tercabik. Hatinya sakit. Perlahan ia membuka lembaran album itu. album itu penuh dengan foto keseharian Jessica dan Donghae saat berumah tangga dulu. Keduanya tampak sangat bahagia. Tak terasa air mata Yoona jatuh membasahi album foto di depannya. Ia lalu menutup album itu. ia menangis, hatinya terasa sangat sakit. Pandangannya lalu tertuju pada sebuah foto ukuran besar yang menempel di dinding. Foto pernikahan Donghae dan Jessica. Ia menatap foto itu dengan air mata yang tak henti mengalir di pipinya.

“ Apa karena ini kau melarangku mendekati tempat ini?” Ucap Yoona pada foto Donghae.

“ Karena semua ini milik Jessica?” Ucapnya lagi terisak. Jujur Yoona juga merasa marah pada Donghae. Mengapa ia harus menyembunyikan hal seperti ini padanya. Kini ia baru sadar mengapa tidak ada satupun barang milik Jessica di rumah, ternyata semuanya Donghae simpan di ruang bawah tanah, seakan menyimpan semua kenangan Jessica di ruangan ini. Dan tak ingin satu orangpun tahu, bahkan untuk Yoona sendiri.

lagi Bada mengonggong dan membuat Yoona tersentak, ia kemudian berdiri. Bada belum berhenti mengonggong, sepertinya ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Dan kelihatannya dari dalam perapian. Yoona berjalan mendekati Bada, mencoba mencari tahu apa yang dilihat anjing itu. Bada kemudian tiba-tiba masuk ke perapian, ia terlihat marah. Yoona mempercepat langkahnya.

“ Bada apa yang kau lakukan? Kembali!” Ucap Yoona tegas.

“ Keluar dari perapian itu!” Pekik Yoona. namun sepertinya Bada tidak mendengar, ia tetap dalam perapian. Seakan menggali sesuatu. Tiba-tiba seekor tikus besar melompat dari dalam perapian yang kemudian segera dikejar oleh bada. Sontak hal tersebut membuat Yoona kaget.

“ Jadi rupanya kau mengejar tikus itu?” Ucap Yoona lagi. Yoona sedikit berjongkok mencoba melihat ke perapian. Sepertinya ia mendengar sesuatu yang jatuh saat Bada melompat dari perapian itu. dan betul saja, sebuah buku yang jatuh entah darimana di dalam perapian itu dan entah bagaimana buku itu sampai tersimpan disana. Yoona lalu mengambil buku itu. nampak seperti sebuah buku harian.

“ J?” Ucap Yoona membaca inisial yang tertulis disampul buku itu. ia lalu menebak pasti buku tersebut adalah milik Jessica.

Yoona kemudian berjalan ke sofa membawa buku yang ia temukan tadi. Entah mengapa ia sangat penasaran dengan isi buku tersebut. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa yang tertutupi debu itu. namun tampaknya Yoona seakan mengabaikan debu-debu yang bertebaran di sekitarnya. Perhatiannya kini tertuju pada sebuah buku di tangannya, lebih tepatnya sebuah buku diary, diary miliki Jessica istri Donghae yang telah meninggal, apalagi dia meninggal dengan kecelakaan yang menurutnya tidak wajar, jatuh dari tangga?

Saat kau tiba-tiba menemukan buku diary milik istri terdahulu suamimu yang telah meninggal, siapa yang tidak akan penasaran untuk membuka diary itu? hal itu terjadi pada Yoona. kini buku diary Jessica sudah ada di tangannya. Buku yang akan menjawab segala pertanyaannya tentang istri terdahulu suaminya itu, mungkin jawaban dari pertanyaan yang tidak akan pernah diberitahu oleh Donghae. Mungkin ia akan menemukan penyebab kematian Jessica, walaupun Donghae sudah memberitahukan penyebab kematian Jessica padanya, namun melihat gerak gerik Jang Geunsuk, polisi yang menangani kematian Jessica telah membuat Yoona tidak begitu percaya pada cerita suaminya. ia hanya ingin memastikan bahwa Donghae bukanlah orang yang telah membuat istrinya meninggal. apakah Jessica benar-benar meninggal karena sebuah kecelakaan saja? Atau ada sesuatu rahasia besar yang disembunyikan Donghae darinya.

Ini merupakan kesempatan Yoona untuk mengenal siapa sebenarnya Jessica, siapa sebenarnya sosok yang sangat dicintai Donghae itu. ia berharap Jessica menuliskan semua itu di diary yang kini ada di genggaman Yoona.

Dengan hati yang berdebar, Yoona membuka diary milik Jessica tersebut. Diari yang berwarna violet dengan gambar bunga mawar di sampulnya.

“ From the heart of someone who love him. . . Lee. . .”

Kalimat pertama yang dibaca Yoona sesaat setelah membuka buku tersebut.

“ Lee? Apakah itu untuk Lee Donghae?” Ucap Yoona sendiri.

Tak lama Yoona mengamati tulisan tangan Jessica tersebut. Tulisannya nampak halus dan rapi, menggambarkan seorang wanita yang anggun. Yoona kemudian membuka lembaran berikutnya. Sebuah tulisan yang cukup panjang. Yoona mulai membaca tulisan tangan Jessica itu.

28 February 2009

Apakah kau orangnya? Apakah kau orang yang bersamanya sekarang? Apakah karena itu sebabnya kau datang mencariku?

Jika kau tidak membaca tulisan ini lima atau atau tujuh tahun dari sekarang, maka kemungkinan aku sudah meninggal, mungkin dibunuh.

Tolong jangan marah karena buku harian ini mungkin tidak banyak berisi kejutan dariku, dari kehidupanku. Tapi jika kau memiliki buku harian ini karena kau datang mencari tahu tentangku, dan kau cukup pintar serta memiliki pemikiran yang sama denganku sehingga bisa menemukan buku harian ini, atau bahkan kau malah menemukan buku harian ini secara kebetulan… aku mohon, bisakah kau membakar buku harian ini sebelum kau membacanya? Aku mohon. . .

Aku tidak ingin orang lain tahu tentang hal itu. aku bermaksud untuk menulis di buku harian ini semata-mata hanya untukku saja. Aku tahu seharusnya aku membakar buku harian ini. Tapi jika aku melakukan itu, seperti aku membunuh diriku sendiri. Dan dalam segala hal yang telah kulakukan, segala hal yang telah kulewati, aku tidak akan pernah bermaksud untuk bunuh diri. Karena itulah aku tidak sanggup membakar buku harian ini. Mungkin kau bisa.

Aku berkata” mungkin” karena jika kaulah orang yang bersama Donghae oppa sekarang, maka kau tentu ingin tahu tentangnya, kau ingin tahu apakah dia benar-benar berbahaya sehingga mungkin dialah orang yang membunuhku. . . jadi karena aku tidak ingin kau mengalami hal yang sama, aku tidak akan menyalahkanmu karena membaca buku harian ini.

Tak banyak hal yang bisa aku katakan, aku berharap kau tidak merasa kasihan padaku. Aku telah menjalani hidupku  meskipun aku merasakan sakit yang luar biasa, tapi aku juga merasakan cinta yang sangat indah. Mungkin orang lain bisa hidup panjang, namun ia tidak pernah merasakan cinta. Itu sebabnya aku adalah orang yang beruntung.

Aku berharap kau selalu baik baik saja, siapapun dirimu

Love

Jessica

Yoona menarik nafas dalam. ia merasa ada sesuatu yang menahan nafasnya. Sebuah tulisan pada lembaran pertama buku harian Jessica yang membuatnya tercengang. Kata demi kata yang tertulis di kertas itu ia cerna baik-baik. Tulisan yang memunculkan seribu satu pertanyaan di kepala Yoona. tulisan yang membuatnya kembali berpikir ulang tentang pernikahannya. Membuatnya berpikir orang seperti apa Lee Donghae yang kini menjadi teman tidurnya setiap malam. Apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Jessica? Mengapa ia seolah-olah menyudutkan Donghae, suaminya sendiri? Atau apakah ada kisah lain yang akan dituliskannya di lembaran-lembaran buku diari tebal yang belum dibuka Yoona? Dan pertanyaan terbesar yang muncul di kepala Yoona adalah siapa sebenarnya Jessica?

“ Ggukk!!” Suara Bada membuat Yoona tersentak dari lamunannya. Suara mobil Donghae terdengar samar-samar.

“ Donghae oppa? Aish. . .” Yoona segera beranjak dari tempat duduknya dan menyisipkan kembali buku harian Jessica di sela-sela batu di perapian. Ia lalu dengan cepat meninggalkan ruang bawah tanah itu, Bada mengekor di belakangnya. Ia mencoba bersikap senormal mungkin. Memastikan ia tidak terlihat dari ruang bawah tanah dan dengan lancang telah membaca buku harian orang lain.

Di pikirannya kini tertuju pada buku harian itu. buku harian yang ia yakin akan membuka semua hal yang tertutupi darinya. Dan mungkin akan membuatnya mengenal Jessica, seseorang yang telah menyisakan sebuah cerita tentang masa lalu suaminya, Lee Donghae.

***

Note : Yak, itu diah sebuah part 5 dari FF serial memento. Gak tau lagi mo ngomong apa, Cuma nitip pesan sama readers semua, silahkan coment di kolom dibawah jika anda merasa penasaran atau ada yang kecewa dan nanya ini kenapa begini kenapa begitu? Silahkan tulis pertanyaan anda dibawah. Atau mungkin lagi malas ngetik, silahkan anda menekan kotak yang bertuliskan “like” . taengkyu^^ à yaelah, formal banget dah ni author bahasanya

dsf

Title     : Wake Me Up When September Ends

Author : Kid Kaito

Cast     : Donghae,Yoona, Taeyeon, Wooyoung, Yunho, Seo Eunseo

Genre  : Thriller, Family, Oneshoot

Rating : PG-15

Note    : uwaa…hari ini aku betul-betul mau minta maaf sama readers karena udah ngebuat menunggu lama dari update-an FF ku, jadi sebagai permintaan maaf, aku sengaja publish FF ini juga. Ini FF oneshoot keduaku loohh *Gak ada yang nanya*. Dari judulnya, readers semua pasti ngebayangi lagunya Greenday kan?? Iya kan? by the way, Ada yang pernah nonton filmnya Sandra Bullock yang Premonition? Kalau ada berarti udah tahu gimana jalan cerita dari FF ini. Jadi ff ini itu ceritanya adaptasi dari flim Premonition, kayak di Korea yang suka adaptasi drama misalnya Boys over Flowers atau To the beautiful You, nah aku buat FF yang premonition versi YoonHaenya, judulnya minjem judul lagu Greenday *hadoh, author gak kreatif banget*. FF ini agak bergenre Thriller gitu, juga kayaknya agak membingunkan deh plus kepanjangan menurutku buat dijadiin FF oneshoot sama ajah sama judulnya yang kepanjangan, tapi mo gimana lagi, mau dipenggal jadinya nanggung, yaudah aku publish aja sekalian semua. . . hohoho. . . tapi gak papah, makin panjang makin lama readers mantengin blog-ku ..huwahahaaha.. . mudah-mudahan readers semua pada suka. Selamat membaca^^

WAKE ME UP WHEN SEPTEMBER ENDS

11 september

Gadis itu melingkari angka 11 tanggalnya dengan spidol. Ia tersenyum sumringah sesaat kemudian.  Ia lalu berdiri mendekati cermin dan mulai menyisir rambutnya. Kemudian dengan cekatan mempoles wajahnya dengan peralatan make-up yang membuatnya semakin terlihat cantik.

“ Tada!!” Ucap Donghae saat membuka penutup mata Yoona.  sebuah rumah dengan halaman indah kini ada di depan mata. Yoona tampak kaget bercampur bahagia melihat rumah tersebut.

“ kau menyukainya?”

Yoona dengan cepat mengangguk. “ Tentu saja oppa, aku sangat menyukainya. Gomawo oppa.” Sesaat kemudian Yoona larut dalam pelukan Donghae.

“ kita akan hidup bahagia dirumah ini Yoong. Kau pasti akan senang berkebun di halaman belakang. Dan anak-anak kita akan sangat suka bermain di atas rumput yang indah itu.”

***************

Sinar matahari pagi yang hangat menemubus masuk ke dalam sebuah ruangan bercat krem lembut. Sorang wanita yang masih berbalut selimut di atas tempat tidur langsung menggeliat saat merasakan sinar matahari menerpa wajahnya. Ia meraba-raba tempat tidurnya mencari seseorang yang tadi malam tidur dengannya, namun ia tidak lagi menemukan orang tersebut. Ia lalu bangun duduk di tempat tidurnya dan meraih tanggal yang ada di meja di samping tempat tidurnya.

“ 11 September.” Ucapnya pelan.

Ia lalu bangkit masih dengan pakaian tidurnya dan berjalan keluar kamarnya.

“ Oppa. . . Donghae oppa. . .” Panggilnya pelan, namun tak ada yang menjawab.

Ia mendekati meja yang ada di ruang tengah. Diraihnya remot lalu menyalakan TV yang ada diruangan tersebut. Secarik kertas yang ada di samping remot tersebut menarik perhatiannya. Ia kemudian meraihnya.

“ Yoong, oppa berangkat lebih awal hari ini. Saranghae.”

Yoona mendengus kecil membaca memo itu. Sesaat kemudian, ia meletakkan memo diatas meja lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.

Yoona menikmati harinya sebagai istri seorang Lee Donghae. Awalnya Yoona yang bekerja sebagai seorang guru les merasa ragu akan sanggup menjadi istri rumahan, karena sebelum menikah, ia sangat suka berada diluar rumah, entah itu untuk urusan pekerjaan maupun urusan lainnya.

“ Yoong, kau tidak usah capek-capek bekerja, oppa yang akan memenuhi segala kebutuhanmu.”

Itulah yang dikatakan Donghae sesaat setelah mereka menikah. Donghae tidak terlalu setuju jika ia bekerja, walaupun itu hanya mengajar tambahan untuk anak-anak. Namun karena Yoona tetap meminta untuk menjadi guru les, Donghae akhirnya mengabulkan permintaan Yoona. Yoona juga menjadi nyaman menjadi guru les karena ia menjadi tidak kesepian, ia mengajar putri dari Taeyeon, sahabatnya sendiri.

Segala prediksi Yoona tentang kehidupan yang membosankan menjadi istri rumahan ternyata salah, ia sangat menikmatinya. Seperti pagi ini, ia sibuk membersekan rumah, mencuci dan banyak lagi. Yoona sibuk membersihkan kaca sebelum suara telepon membuatnya menghentikan pekerjaannya.

Yoona lalu berjalan mendekati telepon yang berdering itu.

“Yoboseyo?”

“eomma.” suara seorang bocah terdengar memekik di telinga Yoona. ia tersenyum mengetahui siapa penelponnya.

“ nde jiho?” Ucap Yoona dengan nada menyerupai anak kecil.

“ Jiho akan pulang, tapi setelah halmoni membuatkan susu cokelat untuk jiho..” Ucap Jiho lengkap dengan gaya anak kecilnya.

“ Ndee, kalau begitu, eomma akan buat kue untuk menyambut Jiho.”

“ Yang enak ya eomma, banyak cokelatnya.”

“Siip.”

“ Jiho tutup teleponnya ya. Annyeong.”

“ Annyeong.” Yoona kemudian menutup teleponnya masih dengan senyum tersungging di bibirnya. Berbicara dengan Jiho, anaknya bersama Donghae yang masih berumur 5 tahun memang selalu membuatnya seakan kembali ke masa-masa kecilnya yang bahagia. Setelah itu, Yoona kembali membereskan rumah. Sambil membersekan rumah, Yoona mendengarkan voice mail yang masuk. Seperti biasa, banyak voice mail yang tidak terlalu penting seperti ajakan makan oleh teman-temannya dan sebagainya.

“ Yoona, sayang dengar. . .”

Suara Donghae mengehentikan kegiatan Yoona. sebuah Voice mail dari Donghae.

“ Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. . .” Suara Donghae terdengar berat, ragu-ragu berucap. Yoona mendekat ke telepon. Tak biasanya Donghae bersikap seperti ini.

“ emm… kau ingat gadis kemarin. . . dia. . .” Yoona mendengarkan dengan seksama. Apa sebenarnya yang ingin disampaikan Donghae?

“ Aku ingin menjelaskan semuanya padamu. . . jadi. . . tunggu, apa itu kau?” selesai. Sebuah voice mail Donghae yang membuat Yoona bertanya-tanya. Ia lalu menelpon kembali Donghae namun sepertinya tak dijawab. Yoona justru meninggalkan sebuah voice mail untuk Donghae.

“ Oppa, aku sudah mendengar pesanmu, dan aku tidak tahu apa yang oppa bicarakan.” Yoona menarik nafas sejenak.

“  Telepon aku. Okey.” Yoona menutup teleponnya. Ia masih memikirkan voice mail misterius Donghae. Namun kemudian ia kembali melanjutkan kegiatannya, membereskan rumah. Ditengah-tengah Yoona kembali melanjutkan kegiatannya, bel pintu berbunyi. Yoona segera membuka pintu. Di didapatinya seorang berpakaian seragam polisi tengah berdiri sambil memegang sebuah map. Ekspresinya tampak datar.

“Selamat pagi” Sapa seorang petugas polisi sesaat setelah aku membuka pintu. Ekspresinya dingin.

“ Selamat pagi.” Ucapku membalas sapaannya. Sebenarnya aku terkejut dengan kedatangan petugas polisi di pagi hari. Dan aku tahu bahwa jika seorang polisi tiba-tiba mengetuk pintumu dengan ekspresi dingin, aku yakin ada sesuatu yang terjadi, dan hampir dari semua itu adalah kejadian buruk.

“ Nyonya Lee?. . .”

“ Ya.”

“  Im Yoona?”  Tanyanya lagi meyakinkan. Aku mengangguk mengiyakan.

“ Saya Kim Yesung dari kepolisian.” Kata-katanya terhenti, ia mendesah sejenak.

“ Sumai anda, Lee Donghae mengalami kecelakaan.”

Aku terdiam mencoba mencerna kembali ucapan petugas di depanku ini. Ia menatapku dengan tatapan iba. Tiba-tiba saja Seperti ada sesuatu yang meremas-remas hatiku dan sangat perih.

“ Nyawanya tak dapat tertolong. Suami anda meninggal saat itu juga.”

Sebuah kalimat yang sanggup membuatku sakit sesakit-sakitnya di dalam hatiku. Seumur hidup, aku belum pernah merasakan rasa sakit seperti ini. Donghae oppa meninggal katanya?  Kulihat petugas itu berbicara banyak di depanku, namun sepertinya aku tidak bisa mendengar apa-apa lagi. Dan sudah tak bisa kutahan lagi air mataku yang jatuh bercucuran. Aku ingin menangis meraung, tapi entah kenapa mulutku seakan tercekat. Aku berusaha untuk berucap, namun tak bisa. Kulihat polisi itu masih memandangku dengan tatapan penuh kesedihan.

“ Kapan?” aku menguatkan diri untuk bersuara.

“ Kemarin.”

Apa yang dikatakan petugas di depanku ini? Donghae oppa meninggal kemarin? Bukankah dia menelponku tadi? Petugas ini pasti salah, Donghae yang ia maksud pasti bukan Donghae oppa.

“ Kemarin? Tapi dia menelponku tadi. Anda pasti salah, Donghae yang anda maksud bukan suamiku.”

Aku bersikeras dan seakan berteriak di hadapannya, namun justru Ia kembali menatapku dengan tatapan penuh prihatin. Sekakan-akan ia turut berduka sedalam-dalamnya atas apa yang terjadi pada diriku, ya pada diriku, bukan Donghae oppa.

“ Maafkan aku nyonya, tapi ini kenyataannya.”

Ucapannya lembut tiba-tiba membuatku mempercayai apa yang dikatakannya barusan. Otakku seakan-akan menerima sebuah informasi yang menyakitkan itu. Tatapannya membuatku semakin yakin dengan apa yang ia katakan. Donghae oppa benar-benar meninggal dalam sebuah kecelakaan. Ya, seperti yang petugas katakan, ini adalah sebuah kenyataan, kenyataan bahwa Donghae oppa meninggal, kenyataan yang tak mungkin bisa aku ubah.

“ Masih ada yang ingin anda tanyakan?” Ucapnya lagi mengembalikan kesadaranku. Aku menggeleng. Ia kemudian tersenyum kecil lalu pergi dari hadapanku. Aku yakin dia mengucapkan sesuatu padaku tadi sebelum ia pergi, entah itu ucapan selamat tinggal atau ucapan turut berduka. Namun kembali aku seakan tak bisa mendengar apa-apa. Hanya air mataku yang tak hentiya mengalir, menangisi sebuah kenyataan bahwa Donghae oppa telah pergi untuk selama-lamanya.

*******

Malam ini, eomma, Taeyeon eonni, Jiho dan Wooyoung oppa –Suami Taeyeon-  datang untuk menemaniku di rumah yang besar, kami duduk di ruang tengah. Semuanya tampak sangat bersedih, tak ada perakapan.  Jiho tak selincah biasanya, ia terus saja meringkuk di pelukanku, walaupun masih belum mengerti apa-apa mungkin Jiho bingung mengapa semua orang kelihatan sedih. Ia juga tidak menyebut-nyebut appa-nya dari tadi, entah mengapa. Begitupun dengan Hyena, putri dari Taeyeon eonni, ia tidak mau turun dari pelukan appa-nya. Ingin sekali aku mengajak Jiho untuk bermain-main agar aku melupakan kejadian yang menimpa Donghae oppa, namun sepertinya tak mungkin. Sekeras apapun aku mencoba untuk menenangkan diri, tak bisa menghapus semua memori tadi pagi saat polisi datang mengetuk pintu membawa berita yang paling tidak ingin aku dengar. Kini tak ada lagi Donghae oppa, akankah aku bisa bertahan? Aku memeluk erat foto Donghae oppa.

“ Yoona, kau tidurlah dulu.” Ucap eomma disampingku. Ia tampak sangat berbeda dengan eomma yang aku kenal, ia tampak sangat lelah, aku tahu eomma sangat kaget dan sedih menerima berita bahwa Donghae oppa meninggal. Tapi saran eomma saat ini sangat tidak berarti bagiku.

“ Aku sedang tidak ingin tidur eomma.”

“ Eomma hanya ingin kau memiliki tenaga untuk upacara pemakaman besok.” Ucap eomma. Air mataku kembali mengalir deras mendengar ucapan eomma. Baru saja aku dan Donghae oppa menikmati saat-saat bersamanya, tertawa  bersama. Kini apa yang eomma katakan, upacara pemakaman Donghae oppa.

“ Imo benar Yoona, kau sebaiknya istirahat.” Kini giliran Taeyeon eonni yang berucap. Apakah mereka tidak mengerti perasaanku? Bagaimana mungkin aku pergi tidur disaat seperti ini?

Kembali kupandangi foto Donghae oppa. Ia tersenyum sangat manis difoto. Tapi senyuman itu seperti pisau yang mengiris-iris hatiku. Kenyataan ini sungguh menyakitkan, kenyataan bahwa aku tidak akan pernah melihat senyum Donghae oppa lagi. Kusandarkan kepalaku di sofa, mengistirahatkannya sejenak. Entah kenapa aku merasa sangat lelah. aku memejamkan mataku, berharap jika aku terbangung nanti, Donghae oppa masih hidup, dan tidak akan pernah meninggalkanku seperti ini.

***********

 

Another  Day

Yoona terbangung dari tidurnya. Rasa lelah yang teramat sangat langsung menyerangnya. Ia baru tersadar bahwa ia berada di kamarnya, seingatnya tadi malam ia tertidur di sofa. Akh, Pasti Wooyoung oppa yang memindahkanku.

Kulihat foto pernikahanku dengan Donghaee oppa yang terpajang di meja disamping tempat tidur membuatku kembali merasakan rasa sakit yang luar biasa. Hari ini upacara pemakan Donghae oppa.

Sudah jam 8 pagi. Mungkin eomma dan Taeyeon eonni sudah bangun. Aku berjalan keluar kamar. Sepi, tak ada suara. Aku membuka pintu kamar eomma, namun tak ada orang, begitupun dengan Taeyeon eonni, dan Wooyoung oppa serta Jiho dan Hyena. Kemana mereka semua? Akh mungkin dibawah.

Aku berjalan menuruni tangga. Kudengar sayup-sayup suara, namun sepertinya bukan suara orang yang aku kenal. Ada satu hal yang membuatku kaget. Mengapa tas kerja Donghae oppa berada di dekat tangga? Begitupun dengan jasnya yang berada disamping tas kerjanya. siapa yang mengeluarkan semua barang-barang Donghae oppa?

Aku berjalan pelan ke arah dapur, kulihat TV di dapur menyala. Kulangkahkan kakiku sekali lagi mendekat ke dapur. Seseorang disana, duduk membelakangiku. Aku semakin mendekat. Oh, Tuhan, apakah aku bermimpi? sekarang aku tercekat, akankah hal seperti ini terjadi?  Kulihat Donghae oppa sedang menonton TV sambil meminum secangkir kopi hangat, hal yang menjadi kebiasaannya sebelum berangkat kerja. tapi tunggu, bukankah Donghae oppa sudah. . .

“ Oppa.” Ucapku spontan seolah berbisik melihat Donghae oppa.

“ Yoong?” Ucapnya saat menyadari kehadiranku. Aku masih berdiri mematung tak mampu berkata-kata. Dia betul-betul Donghae oppa. Aku tidak sedang bermimpi kan?

“ Yoona? ada apa?” Tanyanya lagi. Kutarik nafas panjang. Kupegang kepalaku yang masih terasa sakit.

Donghae oppa kemudian berdiri dan menghampiriku.

“ Ada apa sayang? Kau mimpi buruk?” Ucapnya sambil memegangi pipiku.

“ Aku bermimpi sangat buruk oppa.” Ucapku. Ia memandangku sambil tersenyum. Sepertinya aku memang bermimpi buruk, sangat buruk. Memimpikan Donghae oppa meninggal. Oh Tuhan aku sangat membenci mimpiku itu.

“ Kau mungkin kelelahan sayang.”

Aku mengangguk. Mungkin perkataan Donghae oppa benar. Aku terlalu sibuk sampai aku bermimpi sesuatu yang sangat buruk.

“ Appa!” pekik seorang bocah. Jiho berlari ke pelukan Donghae.

“ Kau semakin berat saja jagoan.” Ucap Donghae sesaat menggendong Jiho. Melihatnya begitu aku merasa senang, entah mengapa aku selalu merasa bahagia melihat Donghae dan Jiho bersama.

“appa akan membelikanku mobil-mobilan kan kalau Jiho bisa dapat nilai sepuluh di sekolah.”

“ Ne, appa akan membelikan Jiho yang paling besar.” Ucap Donghae

“ Jeongmal. Appa ayo cepat antar Jiho supaya Jiho dapat nilai sepuluh. ” Jiho tersenyum lebar memperlihatkan lesun pipinya. Ia sangat menggemaskan.

“ sebelum pergi salam sama eomma.” Donghae menurunkan Jiho yang seketika berlari ke pelukanku. Sedetik ia mencium pipi  kananku. Lalu dia kembali ke gendongan Donghae oppa.

“ Anak pintar.” Ucap Donghae oppa.

“ kalau begitu, oppa berangkat kerja dulu yah.” Sebuah kecupan mendarat di pipiku. Donghae oppa kemudian mengambil jas serta tas kerjanya lalu meninggalkan rumah. Kepalaku terasa sangat sakit, tapi mengapa mimpiku tentang Donghae oppa terasa sangat nyata.

************

“ Aku bermimpi mendapat kabar dari seorang polisi bahwa Donghae oppa sudah meninggal Taeyeon-ah. Dan mimpi itu terasa sangat nyata. Saat itu aku tak tahu harus berbuat apa-apa.” Ucap Yoona. kini ia sedang berada di sebuah toko bunga. Berbincang dengan pemiliki toko yang tidak lain adalah Taeyeon sahabatnya.

“ Jangan terlalu dipikirkan. Mimpi adalah bunga tidur. Bukan hal yang aneh jika kau bermimpi buruk.” Ucap Taeyeon sembari memeriksa kumpulan bunga indah di depannya.

“ Tapi mengapa perasaanku tidak enak? Aku selalu teringat mimpi itu.”

“ Sudahlah. Kau seperti orang yang tak pernah bermimpi buruk saja.”

Yoona terdiam. Ia kembali mengingat mimpinya yang menakutkan. Dan memikirkannya saja sudah membuat Yoona sangat takut, apalagi jika menjadi kenyataan.

“ atau. . .” Ucapan Taeyeon terputus. Nampaknya ia ragu-ragu mengatakan apa yang ingin dikatakannya.

“ Yoona, rumah tanggamu baik-baik saja kan? Apa kau sedang bermasalah dengan Donghae oppa?”

Yoona tampak berpikir, kemudian ia kembali tersenyum.

“ Donghae oppa adalah suami yang sempurna Taeyeon-ah. Aku merasa sangat beruntung bisa menjadi istrinya.”

“ Baguslah kalau begitu.”

Beberapa saat kemudian, Yoona tampak meninggalkan toko Taeyeon dengan mobil yang dikemudikannya sendiri. Di sepanjang perjalanan pikirannya tak bisa lepas dari mimpinya. Tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan penuh melintas di depannya. Spontan Yoona menginjak rem mobilnya  sampai ia sedikit terdorong kedepan. Ia menarik nafas panjang. Mobil tadi hampir saja mencelakakannya. Melihat mobil Yoona yang kini terparkir di tengah jalan, sebuah mobil polisi pun berhenti. Seorang polisi nampak menghampiri mobil Yoona.

“ tadi itu hampir saja.” Ucap polisi itu sambil berjalan menghampiri mobil Yoona.

“ Yah, benar, mobil itu harus. . .” Ucapan Yoona terhenti saat menyadari polisi yang kini berdiri di samping mobilnya sambil tersenyum. Yoona menatapnya kaget.

“ Apa semuanya baik-baik saja agasshi?” Tanya polisi itu.Yoona melirik nama petugas itu. Kim Yesung, bukankah dia dalam mimpi Yoona, polisi yang memberitahukanku bahwa Donghae  meninggal?

“ Agasshi?”

“ ya, semuanya baik-baik saja. Aku hanya kaget tadi.” Ucap Yoona tampak bingung.

“ Anda harus berhati-hati, agar tidak ada yang terluka. Bukan begitu agasshi?’ ia kembali tersenyum. Yoona hanya mengangguk.

“ Gomawo.” Yoona lalu kembali melajukan mobilnya. Ia masih bingung, mengapa ia harus bertemu petugas itu? membuatnya semakin khawatir saja.

*******

Malam itu, di meja makan Yoona tampak tak mengunyah satu sendok pun makanannya. Ia hanya diam memandangi Donghae yang ada di depannya. Entah mengapa ia sangat takut mimpinya itu adalah kenyataan. Tapi melihat Donghae oppa yang sekarang sehat bugar di depannya, Yoona kembali mengusap kepalanya, berpikir bahwa ia sangat bodoh mempercayai mimpi buruknya itu. bagaimana mungkin Donghae meninggal sementara sekarang ia bersama suaminya itu. Donghae yang sedari tadi menyadari bahwa Yoona tidak memakan makananya pun bereaksi.

“ Yoona, sayang. Mengapa kau tidak memakan makananmu?”

Yoona terperanjat pada pertanyaan Donghae.

“ ah, tidak. Aku hanya sedang tidak berselera oppa.”

“ Ada apa? Dari tadi pagi kau murung? Apa ada masalah?”

Yoona menggaruk kepalanya yang sebenranya tidak gatal. Entah mengapa ia linglung.

“ Sepertinya aku terlalu lelah.”

“ Kalau begitu, sekarang kau istirahat. Biar oppa yag membereskan meja makan. Oke.” Ucap Donghae tersenyum. Yoona hanya mengangguk. Ia pun kemudian berjalan ke tempat tidur, mencoba melupakan mimpi buruk yang seharian menghantuinya.

***************

 

Another Day

Yoona terbangun dengan kepala yang sangat sakit. Ia bangun dan duduk ditempat tidurnya. Ia kembali tidak mendapati keberadaan Donghae disampingnya. Apakah ia sudah berangkat kerja? ada sesuatu yang membuat Yoona bingung, mengapa banyak obat tidur di meja disamping ranjangnya? Ia merasa tidak pernah mengonsumsi semua itu. apakah Donghae yang melakukannya? Bahkan terdapat beberapa lembar kertas hasil robekan buku entah dari mana, Juga melihat kamarnya yang berantakan, juga pakaian yang dipakainya bukan pakaian yang dipakainya tadi malam. Siapa yang melakukan semua ini?

Yoona dengan cepat beranjak dari tempat tidur, ia keluar dari kamar mencoba mencari keberadaan Donghae.

“ Oppa. . . Donghae oppa.” Teriak Yoona. ia lalu membuka kamar yang ada di lantai dua rumahnya. Tidak ada orang lain selain dirinya.

Ia kemudian berjalan menuruni tangga. ia terkejut mendapati begitu banyak orang dirumahnya, ada eomma, Wooyoung, Taeyeon dan masih banyak lagi. Dan anehnya semuanya memakai pakaian hitam, dan menatap iba pada Yoona yang baru saja muncul, ekspresi mereka seakan menggambarkan kesedihan yang dalam. Mereka juga tampak berbisik-bisik sesaat melihat kedatangan Yoona.

“ Yoona, sayang kau sudah bangun?” Ucap eomma yang segera menghampiri Yoona.

“ Apa yang terjadi? Dimana Jiho?” Ucap Yoona. semua orang makin menatap iba pada Yoona.

“ Yoona, Jiho baik-baik saja. sebaiknya kau kembali tidur. Kau butuh istiahat.” Giliran Taeyeon yang berucap.

“ Aku tidak butuh tidur dan aku tidak butuh istirahat. Dimana Donghae oppa?” Ucap Yoona kasar. Ia sangat jengkel dengan perlakuan orang-orang disekitarnya.

“ Yoona kau sebaiknya istirahat, semuanya akan baik-baik saja.”

“ Semuanya tidak baik-baik saja eomma.”

Eomma menarik nafas panjang. Ia mencoba memeluk Yoona namun segera ditepis olehnya. Taeyeon sama, air matanya kini jatuh melihat Yoona.

“ Dimana Donghae oppa?”

“ Donghae sudah meningal Yoona. hari ini adalah pemakamannya.” Ucap eomma. Seketika Yoona tercekat.

Apa maksud eomma? Apa yang dikatakannya? Bukankah tadi malam Donghae oppa baik-baik saja, mengapa tiba-tiba seperti ini? Ada yang tidak beres.

“ Tidak mungkin. Apa yang kalian bicarakan. Donghae oppa tidak meninggal.” Yoona kemudian meninggalkan orang-orang itu. ia sangat tidak menyukai bagaimana oang-orang dirumahnya melihatnya seperti melihat orang stress.

Sementara eomma, dan Taeyeon sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Mereka juga menderita melihat Yoona yang seperti itu. sudah tidak seperti Yoona yang biasa, ceria.

Yoona berjalan ke halaman. Disana ia melihat Jiho sedang bermain sendiri. Yoona menghampirinya, seketika Jiho berlari ke pelukan Yoona.

“ Apa yang kau lakukan disini sayang?” Ucap Yoona pada Jiho.

“ Eomma, kemana appa akan pergi?” Ucap Jiho polos. Seketika Yoona tercekat

“ Eomma tidak tahu sayang.”

“ Appa akan pergi jauh, tapi kenapa dia tidak bilang ke Jiho eomma? Appa sudah janji akan membelikan mobil yang besar.”

“ Kenapa appa harus pergi?” Tanya Yoona pada Jiho. Yoona mencoba untuk tetap tidak menangis di depan Jiho.

“ Karena appa sudah meninggal.” Jiho menjawab dengan entengnya. Mungkin anak seumuran Jiho tidak tahu apa arti dari kata meninggal, namun mendengar hal tersebut dari mulut Jiho sendiri sudah membuat hati Yoona seakan diremas-remas sakitnya.

Yoona terperanjat mendengar perkataan Jiho. Air matanya menetes, hatinya sakit. Haruskah ia menerima kenyataan ini lagi?

“ Siapa yang bilang?”

“ Halmoni, Taeyeon Imo, juga Hyena. Semuanya menangis.”

Hati Yoona semakin terasa sakit. Ia lalu memeluk Jiho. Ia tak bisa lagi membendung air matanya.

“ Kemana appa? Kenapa dia pergi?” Ucap Jiho dalam pelukan Yoona.

“ Dia ke tempat yang sangat jauh Jiho.” Ucap Yoona terisak.

***********

Di depan gerbang pemakaman, sebuah mobil perlahan mendekat. Yoona, Eomma, Jiho, Taeyeon, Wooyoung dan Hyena dan masih banyak lagi sudah berada di sana. Yoona berdiri menunggu Jenazah Donghae dibawa dari rumah sakit. Begitu mobil itu sampai Yoona hendak pergi menghampiri mobil pembawa jenazah Donghae namun segera ditahan oleh Taeyeon.

“ Mau kemana kau Yoona?”

“ Ada sesuatu yang harus aku bereskan. Kalian duluan saja masuk.” Ucap Yoona sambil terus memandangi mobil ambulans.

“ Apa lagi yang akan kau perbuat? Sebaiknya kita masuk bersama-sama.” Ucap taeyeon mendesak.

“ Banyak hal yang tidak beres disini eonni. Dan aku harus memastikan semua.

“ Yoona, geumanhe!” Pekik Taeyeon.

“ Aku mau memastikan bahwa mayat yang ada di dalam peti itu adalah Donghae oppa.”

“ Yoona, kau sudah gila.” Pekik Taeyeon.

“ Aku bilang kalian duluan saja masuk.” Ucap Yoona berteriak. melihat hal itu, Taeyeon tidak bisa lagi menahan Yoona untuk mendekati mobil pembawa jenazah.

“ Selamat siang nyonya Lee. Kami sudah membereskan semuanya.” Ucap petugas pembawa jenazah begitu Yoona datang. Namun Yoona mengabaikannya.

“ Buka petinya.” Ucap Yoona tegas. Petugas itu nampak terkejut dengan ucapan Yoona.

“ ne?”

“ Buka petinya aku bilang.” Yoona mulai berteriak. melihat hal itu, eomma mendekat mencoba menenagkan Yoona.

“ Yoona apa yang kau lakukan?” Tanya eomma. Yoona tetap mengabaikan.

“ Nyonya Lee, anda tidak bisa…”

“ BUKA SEKARANG!!” Pekik Yoona

“ YOONA!” Kini giliran eomma yang berteriak. suasana semakin kacau saja.

Petugas pengantar jenazah tidak tahu harus berbuat apa. Namun semestinya peti jenazah tidak boleh dibuka lagi. Mereka terus menahan permintaan Yoona sehingga suasana semakin tak terkendali, pertikaian pun tak bisa dihindarkan.

“ Kalau kalian tidak mau melakukannya, biar aku sendiri. MINGGIR!!.” Yoona mencoba mendorong petugas untuk menjauh, namun petugas tak memudahkan Yoona untuk melakukan itu. mereka terus berupaya untuk menahan aksi Yoona

Yoona mencoba menerobos beberapa petugas utuk melihat peti jenazah Donghae. Disaat yang bersamaan, petugas itu juga hendak menurunkan peti jenazah Donghae. Karena terdesak oleh Yoona, petugas itu tak sengaja menjatuhkan peti Jenazah.

ANDWAE!!

“ KYAAAA!!” Teriak eomma begitu melihat peti yang terbuka. Keadaan tubuh Donghae sangat mengenaskan. Dengan cepat, petugas menutup kembali. Yoona yang melihat hal itu seketika terdiam mencoba mencerna apa yang baru saja dilihatnya, mayat itu benar-benar Donghae. Kini semua hal yang dikatakan orang-orang betul. Donghae sudah benar-benar meninggal, dan mau tidak mau Yoona harus menerima kenyataan itu.

Setelah insiden tadi, akhirnya pemakaman Donghae pun terlaksana. Yoona, Taeyeon, eomma dan semua orang yang ikut mengantar kini berdiri tenang mendoakan Donghae. Namun saat semua orang tengah khusyuk berdoa, ada satu hal yang lagi-lagi membuat Yoona gelisah. Ia melihat seorang wanita dari kejauhan tengah memperatikan mereka. Melihat hal itu, Yoona kembali ingin menghampiri wanita itu.

“ Yoona, kau mau kemana lagi?” Cegah eomma saat Yoona kembali beranjak pergi.

“ Ada sesuatu yang harus kubereskan.” Ucap Yoona dan melangkah pergi. Orang-orang memandang Yoona yang tiba-tiba pergi. Eomma dan Taeyeon hanya bisa mengusap dada dengan tingkah Yoona.

Yoona berjalan mendekat wanita yang sedari tadi memperhatikannya. Namun begitu wanita itu melihat Yoona yang mendekat, ia pun segera berlari ke mobilnya. Melihat hal itu, Yoona pun mempercepat langkahnya.

“ Hey, tunggu.” Teriak Yoona. ia kini berlari mencoba menahan kepergian wanita itu.

“ Tunggu, siapa kau?” Pekik Yoona lagi. Kini ia sudah sangat dekat dengan wanita itu, namun cepat wanita itu masuk ke mobilnya. Yoona dengan cepat menahannya pergi.

“ Tunggu, siapa kau?” Ucap Yoona.

“ Aku harus segera pergi.” Ucap wanita itu takut-takut.

“ tunggu dulu..”

“ Aku turut berduka cita atas kematian suamimu.” Ucap wanita itu. Yoona melihat wajah wanita itu, matanya sembab seperti habis menangis. Apakah dia juga menagisi Donghae?

“ tolong katakan padaku siapa kau?” Kini Yoona memohon.

“ Kita baru saja bertemu kemarin, kau tidak ingat?”

“ Tidak.”

“ Aku harus pergi.”

“ Tunggu.”

Mobil wanita itu kini telah melaju meninggalkan Yoona yang masih berdiri mematung. Ia semakin bingung, kepalanya sakit. Mengapa semua ini harus terjadi padanya? Mengapa ia terbangun dan melihat semuanya berubah? Terbangun dan tiba-tiba mendapati suaminya meninggal, dan kini wanita asing yang mengaku pernah bertemu dengannya. Membuat kepala Yoona serasa mau pecah. Semua orang-orang disekitarnya pasti sudah menganggapnya gila.

*****************

Yoona membuka pintu kamarnya. Ia sejenak membaringkan tubuhnya diatas kasur empuknya. Ia merasakan kepalanya sangat sakit. Ia lelah, sangat lelah menghadapi hidupnya yang membingungkan. Ia merasa akan benar-benar menjadi orang gila jika terus seperti ini.

Tak sengaja Yoona menyenggol botol obat tidur yang ada di meja disamping tempat tidurnya. Puluhan biji obat tidur pun berhamburan keluar dari tempatnya. Yoona lalu menggapai botol obat tidur itu. ia masih ingat tadi pagi obat tidur ini sudah ada di meja, sesaat setelah ia bangun. Yoona lalu membaca tulisan yang ada dibotol itu.

“ Dr. Jung Yunho.” Ucap Yoona pelan saat membaca tulisan yang ada di botol tersebut.

“ Obat ini berasal dari dokter Jung Yunho. Tapi siapa dia?” Yoona makin bingung saja dengan kejadian-kejadian yang dialaminya. Ia kembali mengingat tentang dokter Jung Yunho namun tetap tak ia ingat pernah berurusan dengan dokter itu. begitu pula pada kertas robekan yang ada di dekat botol obat itu, Yoona lalu membuka kertas yang sepertinya diremas-remas itu. ia semakin bingung membaca ternyata itu adalah alamat dan nomor telepon kantor dari dokter Jung Yunho. Siapa sebenarnya dokter itu, dan mengapa ada orang yang menghubunginya?

“ Eomma.” Pekik seorang boca yang langsung membuyarkan lamunan Yoona. seketika ia tersenyum begitu melihat Jiho tengah berdiri di pintu kamarnya. Jiho lalu berlari memeluk Yoona.

“ Mau eomma buatkan patbingsoo?” Tawar Yoona. namun Jiho menggeleng.

“ Eomma, Jiho tidak mau sendiri.” Ucap Jiho.

“ Tentu saja Jiho tidak akan sendiri, eomma akan selalu bersama Jiho.”

“ Tapi appa tidak.” Kembali ucapan Jiho membuat hati Yoona terasa sangat perih.

“ Eomma juga akan pergi seperti appa?”

“ Tidak sayang, siapa yang bilang?”

“  orang yang bersama halmoni bilang begitu.”

“ Halmoni? Halmoni ada disini?”

Jiho mengangguk.

“ Halmoni datang dengan seorang Ahjeossi.”

Yoona terdiam. siapa Ahjeossi yang dimaksud Jiho? Yoona pun segera beranjak menuju ruang tamu. Dan benar, ada eomma dan seorang pria tinggi dengan pakaian rapi tengah duduk di sofa diruang tamu. Selain itu, masih ada lagi dua pria yang lainnya. Begitu menyadari kedatangan Yoona, pria tinggi itu langsung berdiri.

“ Yoona-ssi. Bagaimana keadaanmu?” Tanya pria itu.

“ Ada apa kalian semua ada dirumahku. Siapa kau?” Ucap Yoona. pria itu tampka tersenyum kecut mendengar ucapan Yoona. Jiho terus mengenggam kuat tangan eommanya.

“ Yoona kau tenang dulu. Jiho sayang ayo ikut halmoni.” Ucap eomma. Jiho masih enggan melepaskan genggamannya pada tangan Yoona.

“ Eomma, ada apa ini?”

“ Yoona, eomma sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Kau tidak boleh seperti ini. Relakanlah kepergian Donghae, Masih ada Jiho yang butuh perhatianmu.” Ucap eomma yang justru membuat Yoona semakin bingung saja.

“ Yoona, aku pikir kita harus pergi sekarang.” Ucap pria yang kini berdiri di hadapan Yoona.

“ Mwo? Apa maksudmu? Mengenalmu saja tidak, bagaimana bisa kau memintaku untuk ikut bersamamu.” Ucap Yoona yang mulai emosi.

“ Aku dokter Jung Yunho Yoona. kemarin kau datang ke klinik ku.” Ucap pria yang mengaku sebagai Dr. Jung Yunho.

“ Kau dokter Jung Yunho?” Tanya Yoona, seketika pria itu mengangguk. Yoona merasa ia sudah gila, mengapa hal ini bisa terjadi? Bahkan berulang-ulang. Orang asing yang mengaku pernah bertemu dengannya. Pasti ada jawaban dari semua ini.

“ Ayo Yoona-ssi, kita kerumah sakit.” Ucap dokter Yunho.

“ Tidak, aku tidak sakit dan aku tidak butuh kerumah sakit. Kalian pikir aku gila? Aku tidak mau ikut denganmu.”

“ Yoona, sadar sayang. Jangan bersikap seperti ini. Serahkan Jiho.” Ucap Eomma.

“ Tidak! Aku tidak mau! Eomma sama saja, eomma menganggapku gila kan? Aku tidak gila eomma!” Pekik Yoona.

“ Eomma tahu sayang. Jiho kemari sayang.” Jiho yang masih enggan pun akhirnya dipaksa melepaskan genggamannya pada Yoona. Jiho menangis tidak ingin dipisahkan dengan eommanya. Yoona pun tak mau diperlakukan seperti itu. ia hendak mengambil Jiho dari gendongan eomma namun segera ditahan oleh dua orang pria yang datang bersama dokter Yunho.

“ LEPASKAN AKU!!”  Yoona meronta-ronta minta dilepaskan namun sia-sia saja, tenaganya jauh kalah dibanding dua pria kekar yang kini menyeretnya keluar dari rumahnya sendiri. Kemudian mereka memasukkan paksa Yoona kedalam mobil dokter Yunho.

“ AKU SUDAH BERJANJI PADA JIHO UNTUK TIDAK MENINGGALKANNYA!! LEPASKAN AKU!! “ Yoona menangis begitu mobil tempatnya berada kini perlahan meninggalkan rumahnya, meninggalkan Jiho yang juga tengah menangis untuk menyusul eommanya.

Begitu sampai dirumah sakit, Yoona langsung ditidurkan di sebuah ranjang yang memiliki begitu banyak pengikat. Yoona lalu diikatkan pada ranjang itu sehingga Yoona tak bisa berbiuat apa-apa. Seluruh badannya kini terikat di ranjang itu. namun ia masih terus meronta. Tak lama kemudian dokter Yunho menghampirinya sambil membawa sebuah jarum suntik.

“ Apa sebenarnya yang akan kau lakukan padaku?” Tanya Yoona.

“ Seperti yang kau inginkan Yoona-ssi, kau ingin terbebas dari mimpi-mimpi burukmu kan?”

“ Mimpi buruk?”

“ Ya, kau menceritakan semanya padaku kemarin, tentang suamimu yang meninggal.”

Kepala Yoona sangat sakit jika harus kembali memikirkan ucapan dokter Yunho. Ia merasa belum pernah menemui dokter ahli jiwa ini sebelumnya. Sesaat kemudian dokter Yunho mengarahkan jarum suntiknya ke lengan kanan Yoona, melihat hal itu Yoona kembali meronta

“ Apa yang kau bicarakan, lepaskan aku!” Yoona meronta-ronta, namun sekeras apapun ia mencoba pada akhirnya cairan yang ada di dalam jarum suntik itupun mengalir lancar kedalam kulitnya. Perlahan pandangannya kabur, begitupun pendengarannya yang kian mengecil.

“ Semuanya akan baik-baik saja.” Sayup-sayum ia mendengar dokter Yunho mengucapkan hal itu sebelum Yoona betul-betul tak sadarkan diri.

***

 

Another Day

Pagi itu Yoona kembali terbangung di tempat tidurnya. Kali ini lain, kepalanya tak begitu sakit. Begitu terbangung ia sangat kaget, ia masih mengingat dengan jelas saat terakhir ia tak sadarkan diri di rumah sakit bersama dokter Yunho, tapi mengapa ia tiba-tiba berada dikamarnya sekarang?

Samar-samar Yoona mendengar suara shower dari kamar mandi. Siapa yang mandi di kamarnya? Tidak ada orang lain selain dirinya, bukankah Donghae sudah dimakamkan? Tidak mungkin kan dia kembali hidup. Yoona perlahan berjalan mendekat ke kamar mandi. Dari balik tirai, ia melihat seseorang tengah sibuk menggosokkan sabun ke seluruh badannya. Dengan perasaan ragu-ragu Yoona mendekati tirai itu. ia menguatkan mentalnya menyibak tirai di depannya. Di hitungan ketiga dengan sekali hentakan ia menarik tirai itu. betapa terkejutnya Yoona mendapati orang yang sedang mandi tersebut adalah Donghae.

“ Oppa?” Ucap Yoona seolah berbisik. Donghae terlihat sangat kaget melihat Yoona yang kini berdiri di depannya saat ia tengah mandi.

“ Ada apa Yoong?” Ucap Donghae kaget. Yoona tak menjawab. Ia langsung menghambur memeluk Donghae yang berada dibawah shower. Yoona pun ikut basah, namun ia tak memperdulikannya ia tetap memeluk Donghae dari belakang.

“ Sayang, sepertinya aku harus menyelesaikan mandi-ku dulu.” Ucap Donghae terkekeh.

“ 3 menit, hanya tiga menit oppa biarkan aku memelukmu seperti ini.”

“ kau basah sayang.” Ucap Donghae lagi.

“ Aku tidak peduli.” Yoona tetap memeluk Donghae. Ia sangat merindukan hal seperti ini. Ia masih ingin menikmati aroma tubuh Donghae. Ia masih ingin mendengar detak jantungnya. Ia ingin melampiaskan semua rasa rindunya pada suaminya itu.

“ Ada apa sayang?” Ucap Donghae.

“ Aku sangat merindukanmu oppa. Kau seperti baru saja pergi dari tempat yang sangat jauh, tempat yang tak bisa aku gapai.”

Mendengar hal itu, Donghae berbalik. Perlahan dikecupnya bibir Yoona dalam. Lalu Donghae kembali memeluk Yoona ditengah guyuran air.

“ Jangan pernah meninggalkanku lagi oppa. Kau harus berjanji tidak akan meninggalkanku.” Ucap Yoona dalam pelukan Donghae, begitu eratnya pelukannya sampai Yoona bisa dengan jelas mendengar detak jantung Donghae.

“ Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu.” Ucap Donghae meski masih bingung dengan sikap Yoona.

***

Pagi itu, Yoona Donghae dan Jiho tengah duduk menikmati sarapan pagi. Yoona tampak sangat bahagia melihat Donghae dan Jiho di depannya. Ia berharap mimpi buruk yang selama ini dialaminya hanyalah benar-benar mimpi buruk dan tidak akan pernah kembali lagi.

“selesaikan sarapanmu cepat Jiho.” Ucap Yoona pada Jiho yang tampak mengaduk-aduk sarapannya.

“ Appa, kapan kita akan pergi memancing? Hyena bilang kemarin dia pergi bersama appanya.”

“ Besok, kita juga akan pergi, eomma akan membuat makanan lalu kita akan piknik bersama.”

“ Jeongmal?” Tanya Jiho antusias.

“ Tentu saja.” Ucap Donghae sambil mengusap pucuk kepala anak laki-lakinya itu.

Yoona sangat bahagia melihat Donghae dan anaknya Jiho begitu akrab. Kalau diperhatikan wajah Jiho sangat mirip dengan Donghae, mungkin saat kecil dulu Donghae sama persis dengan Jiho, terutama mata dan bibir mereka, Jiho mewarisi mata indah ayahnya.

“ Eomma akan buat makanan enak untuk piknik kan?” Ucap Jiho. Yoona dengan cepat mengangguk. Seketika wajah Jiho memancarkan kebahagiaan.

“ Ayo jagoan, kita harus segera berangkat kesekolah atau kita akan terlambat.” Ucap Donghae. Dengan cepat Jiho menghabiskan makanannya dan segera berlari ke pelukan Donghae.

“ Sebelum pergi, salam ke eomma.” Donghae lalu berjalan mendekati Yoona dengan Jiho di gendongannya. Dengan cepat Jiho mengecup pipi Yoona. Donghae tersenyum melihatnya.

“ Kalau begitu, kami berangkat dulu.” Sebuah kecupan mendarat di pipi Yoona sesaat sebelum Donghae menaiki mobilnya. Perlahan mobil itupun menjauh, Yoona tetap memandanginya. Namun tiba-tiba kepalanya terasa sakit. Ia seolah-olah melihat dirinya berlari di jalan tol sambil menangis. Saat itu juga, perasaan Yoona sangat tidak enak. Ia seakan tersadar bahwa apa yang selama ini dialaminya adalah kenyataan. Ia dengan cepat berlari mengambil buku kuning dan merobek selembar kertas yang berisikan alamat lengkap seorang dokter ahli jiwa sekaligus psikiater Dr. Jung Yunho.

***

Kini Yoona tengah berdiri di depan sebuah klinik. Terdapa tulisan Dr. Jung Yunho di depan klinik tersebut. Yoona lalu berjalan memasuki klinik tersebut. Ia mendapati seorang dokter muda tengah sibuk mengatur file diatas menjanya.

“ Annyeonghaseyo.” Sapa Yoona ramah. Dokter itu tampak sedikit kaget dengan kedatangan Yoona, namun sedetik kemudian ia tersenyum hangat pada Yoona.

“ Annyeonghaseyo.” Balas Dokter itu.

“ Saya Im Yoona.” Ucap Yoona

“ Saya dokter Jung Yunho. Ada yang bisa saya bantu Yoona-ssi?”

“ Anda mengenalku?” Ucap Yoona. ekspresi dokter Yunho tampak berubah. Ia lalu tersenyum kecil.

“ apakah kita pernah bertemu sebelumnya?.” Ucapnya sambil menggeleng kecil. Mendengar hal itu, Yoona tersenyum. Ia tahu bahwa hal ini harus terjadi.

“ Saat aku bangun, aku menemukan dia sudah meninggal. Dan saat aku bangun lagi dihari berikutnya, ia hidup lagi.” Ucap Yoona yang kini tengah duduk di sebuah sofa di ruangan dokter Yunho. Dokter Yunho duduk didepannya.

“ Orang-orang mengenalku dan mengatakan bahwa aku pernah bertemu dengannya, padahal aku sama sekali tak tahu.”

“ Orang-orang seperti aku?” potong dokter Yunho.

“ Ya.”

“ itu merupakan hal yang rumit.” Ucap Dokter Yunho. Yoona mengangguk.

“ bagaimana sampai hal itu terjadi?”

“ Aku tidak tahu, aku tidak bisa menjelaskannya. Itu terjadi begitu saja. Aku rasa ada seseorang yang mencoba membuatku gila.”

“ Siapa dan kenapa?” Tanya Dokter Yunho.

“ Aku tidak tahu. Kupikir kau seharusnya yang memberitahuku dokter Yunho.” Ucap Yoona. Dokter Yuno tampak tertawa kecil mendengar ucapan Yoona.

“ Aku juga tidak tahu Yoona.” Ucap Dokter Yunho santai.

“ Tapi namamu ada di botol obat itu. kau pikir mengapa aku berada disini?”

“ Untuk meminta bantuanku?” jawab dokter Yunho cepat. Yoona tercekat mendengar ucapan dokter Yunho.

“ Bagaimana perasaanmu saat kau tahu suamimu meninggal?”

“ Mwo?” Yoona memringkan kepalanya bingung mendengar pertanyaa dikter Yunho.

“ Apakah itu kesedihan atau rasa percaya akan hal itu?” Dokter Yunho beranjak lalu menatap keluar jendelanya.

“ Apa maksudmu dokter?”

“ Apa yang kau rasakan adalah hal umum yang dialami oleh seseorang yang bermimpi buruk mengenai kematian seseorang.”

“ Aku tidak bermimpi. Aku bangun dan suamiku sudah meninggal.” Ucap Yoona tegas.

“ Kecuali hari ini kan?” Potong dokter Yunho. Yoona kembali tercekat.

“ Apakah kau memiliki riwayat penyakit kejiwaan di keluargamu?”

“ Tidak.”

“ Bagaimana dengan penyakit kehilangan ingatan secara tiba-tiba, salah perkiraan atau penyakit yang berhubungan dengan ingatan?” Tanya dokter Yunho yang justru membuat Yoona semakin emosi.

“ Aku tidak mengalami semua hal itu. suamiku meninggal karena kecelakaan.”

“ Hal ini bukan karena kecelakaan melainkan hanya khayalanmu saja.”

“ Aku tidak menghayal, suamiku betul-betul meninggal.” Ucap Yoona emosi. Dokter Yunho terdiam mendengar ucapan Yoona. ia lalu melangkah ke meja kerjanya lalu mengeluarkan secarik kertas hendak menulis.

“  aku mengerti apa yang kau rasakan Yoona-ssi.” Dokter Yunho mulai menuliskan sesuatu di kertas tadi.

“ Dan aku ingin memberikan beberapa obat penenang yang penting dan sangat kau butuhkan.”

Yoona tak habis pikir, ia mengira dokter Yunho akan mengerti apa yang ia rasakan. Ternyata sama saja, semua orang pasti menganggapnya sudah gila.

“ Aku juga ingin supaya kau datang kembali besok siang.” Ucap Dokter Yunho. Yoona terkekeh mendengar ucapan dokter Yunho.

***

Yoona kembali memarkirkan mobilnya di depan sebuah gedung kantor tempat Donghae bekerja. Ia sengaja menemui Donghae ingin membicarakan padanya tentang peristiwa yang ia alami selama ini. Ia takut ia akan terlambat hingga mimpi buruknya itu menjadi kenyataan.

Donghae sangat terkejut begitu melihat Yoona yang tiba-tiba masuk keruang kerjanya.

“ Yoona?”

“ Oppa.” Yoona lalu menghambur memeluk suaminya itu.

“ Yoona, sayang ada apa kau kesini?” Tanya Donghae khawatir yang melihat Yoona datang tiba-tiba.

“ Ada hal penting yang harus kita bicarakan.” Ucap Yoona serius.

“ Ada apa? Apa Jiho baik-baik saja?”

“ Jiho baik-baik saja oppa. Tapi ada sesuatu yang salah yang kita bicarakan. Bisakah kita bicara ditempat lain oppa?”

“ Tidak, aku tidak bisa Yoona. aku sedang bekerja.”

“ Aku mohon oppa, sebentar saja.”

“ Tidak bisa Yoona.”

“ Aku mohon. Aku betul-betul perlu membicarakan ini oppa.”

“ Oppa tidak bisa Yoong. Oppa harus presentasi sebentar lagi, dan oppa tidak bisa meninggalkan presentasi itu.” Ucap Donghae.

Disaat yang bersamaan, tiba-tiba pintu ruangan Donghae dibuka oleh seorang gadis cantik. Yoona sedikit terkejut melihat siapa gadis itu.

“ Permisi. Tuan Lee, saatnya presentasi.” Ucapnya ramah, namun ia tak bsa menyembunyikan rasa terkejutnya begitu melihat kehadiran Yoona. begitupun dengan Donghae yang sama-sama terkejut. Yoona lalu mendekati wanita yang tak asing lagi wajahnya. Gadis itu hanya tersenyum canggung saat Yoona berjalan mendekat.

“ Anda siapa?” Tanya Yoona.

“ Saya Seo Eunseo. Anda pasti Nyonya Lee.” Ucapnya sambil menjabat tangan Yoona. Donghae sepertinya menarik nafas dalam saat itu terjadi.

“  Saya Yoona.” Ucap Yoona.

“ Aku pernah melihat foto anda. Sangat senang bisa bertemu denganmu.” Ucap Seo Eunseo lagi. Yoona hanya tersenyum kecut.

“ Dia adalah asisten manager.” Ucap Donghae canggung. Yoona hanya mengangguk.

“ Tuan Lee Donghae adalah seorang pekerja keras. Aku sangat senang bisa bekerja dengannya.” Ucap Seo Eunseo lagi. Donghae hanya terseyum kecil mendengar pujian Eunseo. Sesaat kemudian semuanya diam, suasana sangat terasa canggung.

“ Kalau begitu aku permisi dulu.” Ucap Seo Eunseo lalu meninggalkan Yoona dan Donghae. Perasaan Yoona seakan tercabik melihat gadis barusan.

“ Eo, Yoong… oppa harus presentasi.” Donghae mendaratkan sebuah kecupan di kening Yoona sebelum menyusul Seo Eunseo ke ruang rapat. Yoona hanya bisa memandangi Suaminya yang begitu akrab dengan Seo Eunseo, wanita yang dikejarnya di pemakaman Donghae. Ia masih ingat waktu itu Seo Eunseo terlihat habis menangis. Meskipun sangat sakit rasanya, Yoona yakin bahwa ada sesuatu antara Donghae dengan wanita itu.

***

Yoona berjalan gontai memasuki rumahnya. Jiho nampak berlari di depannya. Ia baru saja menjemput Jiho pulang dari sekolah. Diruang tamu, tak sengaja ia melihat tanggal yang berada di buffet. Menyadari hal itu, Yoona mendekati tanggal itu, dilihatnya baik-baik tanggal itu.

“ 9 September.” Ucap Yoona setengah berbisik. Yoona baru saja menyadari satu hal penting. Dengan cepat dikelurkannya buku gambar Jiho lalu dirobeknya satu lembar. Jiho yang melihat hal itu hanya heran melihat tingkah eommanya. Yoona lalu mulai menggambar sesuatu yang terlihat seperti sebuah tabell.

“ 11 September, 11 september adalah hari dimana aku mengetahui  bahwa Donghae oppa meninggal.” Ucap Yoona sambil menuliskan hal yang sama.

“ 7 September, apa yang terjadi?”

Kulihat Donghae oppa sedang menonton TV sambil meminum secangkir kopi hangat, hal yang menjadi kebiasaannya sebelum berangkat kerja.

“ 7 September Donghae oppa masih hidup.” ia kembali menuliskannya. Lalu ia kembali berpikir mengingat semua kejadian yang dialaminya.

“ Pemakaman? Pemakaman tanggal. . .”

“ Selamat siang nyonya Lee. Kami sudah membereskan semuanya.”

“ Buka petinya.”

“ ne?”

“ Buka petinya aku bilang.”

“ Yoona apa yang kau lakukan?”

“ Pemakaman tanggal 13 september. Apa lagi, apa lagi?” ucap Yoona setengah berbisik. Yoona kembali berpikir keras.

“ Obat tidur! Obat tidur tanggal 8 september.” Yoona dengan tergesa-gesa kembali menuliskan hal yang sama dibuku gambar tadi.

“ Kau dokter Jung Yunho?”

“ Ayo Yoona-ssi, kita kerumah sakit.”

“ Tidak, aku tidak sakit dan aku tidak butuh kerumah sakit. Kalian pikir aku gila? Aku tidak mau ikut denganmu.”

“ Eo, rumah sakit, kerumah sakit tanggal 12 september.”

“ Apa lagi yang terlewat?” Yoona memandangi gambarnya. Ia memperhatikan setiap tanggal yang ditulisnya. Kini tersisa satu tanggal, yaitu tanggal 10 september. Apa yang terjadi pada tanggal itu? Yoona mencoba mengingat kejadian pada hari itu.

“ Nyonya Lee?. . .”

“ Ya.”

“  Im Yoona

“ Saya Kim Yesung dari kepolisian.” Kata

“Sumai anda, Lee Donghae mengalami kecelakaan. Nyawanya tak dapat tertolong. Suami anda meninggal saat itu juga.”

“ Kapan?”

“ Kemarin.”

“ Oh Tuhan.” Yoona tercekat. Ia terdiam memandang apa yang digambarnya. Ia seakan tak sanggup menuliskan kejadian pada tanggal 10 september. Kenyataan yang begitu menyakitkan, bahkan membayangkannya saja membuat hatinya begitu perih. Dengan tangan gemetaran, Yoona mencoba menuliskan kejadian yang terjadi tanggal 10 september.

“ Dongahae oppa meninggal.” Ucap Yoona sambil  menuliskan hal yang sama.

“ 10 september Donghae oppa meninggal.” Ucap Yoona setengah berbisik.

“ Aku pulang.” Suara Donghae membuat Yoona tersentak. Secepat mungkin ia menyembunyikan gambarnya dibawah taplak meja .

“ Yoona, apa yang kau lakukan?” Tanya Donghae .

“ Aniyo oppa. Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” Tanya Yoona basa basi.

“ Melelahkan, seperti biasa.” Donghae sibuk menaruh tas dan jasnya lalu meneguk segelas air putih.

“ Oppa. . . emm.. . bisakah kau tidak masuk kerja besok?” Ucap Yoona ragu-ragu.

“ Mwo? Oppa tidak bisa Yoona, oppa sangat sibuk.”

“ bagaimana jika besok terjadi sesuatu padamu?”

“ Sesuatu terjadi saat aku dalam perjalanan maksudmu, apakah kau ingin aku berhenti bekerja?”

Mendengar ucapan Donghae, Yoona beranjak dan menghampiri suaminya.

“ Oppa, aku mohon jangan berbicara seperti itu. Kita punya anak, kita punya Jiho.” Ucap Yoona menaikkan suaranya, matanya mulai  memerah.

“ mengapa kau mengatakan hal seperti itu, kau pikir aku lupa akan hal itu?” Balas Donghae.

“ Aku tidak mengatakan oppa lupa akan hal itu, aku hanya. . .”

“ Aku tidak pernah melupakannya.”

“ Aku hanya. . .”

“ Lihat kau terlalu khawatir. “

“ Oppa tolong dengar aku!”

“ Hentikan!” Bentak Donghae. Seketika Yoona terdiam, ia mengalah. ia menarik nafas dalam.

“ Hanya satu hal yang aku minta.” Ucap Yoona pelan.

“ Jika besok tanggal sepuluh September, tolong bangunkan aku sebelum oppa berangkat bekerja.” Ucap Yoona. seketika Donghae menautkan alisnya mendengar ucapan Yoona.

“ Jika besok tanggal 10 september?” Tanya Donghae. Yoona mengangguk.

“ Aku tahu ini terdengar konyol, tapi aku mohon bangunkan aku sebelum oppa berangkat kerja.”

“ Kau bercanda? Hari ini tanggal 9 september Yoona, apakah ada yang akan mengubah kenyataan bahwa besok tanggal sepuluh?” Ucap Donghae terkekeh.

“ Berjanjilah oppa akan membangunkan aku!” Ucap Yoona tegas. Donghae tampak terkejut. Ia terdiam sejenak memandang istrinya.

“ Aku berjanji.”

“ Geurae.” Ucap Yoona pelan. Donghae mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian pergi dari hadapan Yoona.

***

Yoona kembali terbangun di sofa di ruang tengah di rumahnya. Tak seperti sebelumnya, ia tahu hal ini akan terjadi. Ditangannya ia memegang foto Donghae. Dipandanginya rumahnya yang tampak berantakan. Begitu banyak tisyu yang berserakan disekitarnya. Dengan cepat ia meraih tanggal di mejanya.

“ 12 september.” Ucapnya setengah berbisik.

“ Yoona kau sudah bangun sayang?” ucap eomma. Yoona tak menjawab. Ia terus memandangi tanggal, ia berpikir kejadian apa yang akan terjadi hari ini? Ia mencari-cari hal yang mungkin terlewatkan di pikiraannya.

“ Anda siapa?”

“ Saya Seo Eunseo. Anda pasti Nyonya Lee.”

“  Saya Yoona.”

“ Aku pernah melihat foto anda. Sangat senang bisa bertemu denganmu.”

“ Seo Eunseo.” Ucap Yoona. ia kemudian beranjak dari sofa. Eomma yang melihat kejadian tu kaget dengan sikap Yoona.

“ Yoona, kau mau kemana? Kita harus kerumah sakit mengurus administrasi mayat Donghae.” Ucap Eomma pada Yoona yang kini tengah menaiki tangga dirumahnya.

“ Ada yang harus aku selesaikan dulu eomma.”

*****

Mobil Yoona berhenti di depan sebuah rumah yang terlalu besar. Ia sejenak memandang rumah itu sebelum melangkahkan kakinya menuju kesana. Dipencetnya bel pintu rumah itu. tak lama kemudian, pintu dibuka oleh seorang wanita cantik dengan mata yang sembab. Wanita itu tampak terkejut dengan kedatangan Yoona. namun sesaat kemudian ekspresinya seolah menunjukkan bahwa ia memang mengetahui hal ini akan terjadi. Beberapa saat keduanya terdiam.

“ Adakah sesuatu yang harus kita bicarakan?” Ucap Yoona bertanya. Wanita di depannya itu tampak menunduk lesu.

“ Sesuatu yang berhubungan dengan suamiku?” Ucap Yoona lagi pada Seo Eunseo. Seo Eunseo menarik nafas panjang

“ Aku akan menceritakan semuanya.” Ucap Seo Eunseo lemah.

“ memang seperti itulah seharusnya.”

***

“ Donghae oppa telah berbohong padaku.”

“ Mwo!?” Ucap Taeyeon kaget. Ia meletakkan cangkir teh di meja di beranda rumahnya.

“ Tunggu dulu, bagaimana kau tahu itu Yoona?”

“ Wanita itu yang memberitahukan semuanya padaku.” Ucap Yoona santai.

“ kapan?” Taeyeon penasaran.

“ Tadi pagi.”

Taeyeon menarik nafas panjang. Mendengar cerita Yoona membuatnya ikut bersedih.

“ Oh, maaf Yoona. Kau pasti sangat shock.” Ucap Taeyeon hati-hati.

“ Tidak. Aku sudah kaget beberapa waktu yang lalu.”

“ Ini sangat buruk Yoona. wanita lain, kecelakaan. . . Donghae oppa. . . Yoong kau harus kuat.”

“ Aku tidak tahu harus bagaimana Tae. Mungkin semua ini memang harus terjadi. “ Ucap Yoona datar yang justru membuat Taeyeon menautkan alisnya.

“ Apa maksudmu?” Tanya Taeyeon kaget.

“ Saat kau belum mengetahui apapun, namun kau sudah dihadapkan pada kenyataan yang tak seharusnya kau alami.”

“ Mwo?”

“ Kami sudah menjalani rumah tangga bertahun-tahun, dan sudah memiliki anak. Tapi aku baru tahu bahwa suamiku adalah seorang pembohong Taeyeon-ah.”

Taeyeon hanya terdiam sambil menatap iba pada Yoona.

Tiba-tiba ponsel Yoona berdering, sebuah panggilan masuk. Ia segera menerima panggilan tersebut.

“ Yoboseyo? Nde. . . oh. . . Gomawo.” Yoona lalu menutup kembali ponselnya lalu menaruh ponsel itu di sakunya.

“ maaf Tae, sepertinya aku harus segera pergi. Ada sesuatu yang harus kuselesaikan.”

“ Nde, hati-hati Yoong.”

***

Yoona berjalan menuju sebuah ruangan di kantor besar itu.  di depan sebuah ruangan, ia berhenti sejenak memastikan ruangan yang dimasukinya benar. Perlahan ia membuka pintu ruangan itu. seketika orang yang ada di dalamnya tersenyum menyambut Yoona.

“ Annyeonghaseyo Nyonya Lee.” Sapa orang itu ramah. Yoona hanya tersenyum. Ia lalu duduk di kursi di depan meja kerja orang tersbut.

“ Aku turut berduka cita atas meninggalnya suamimu Yoona-ssi.”

“ Gomawo Sungmin oppa.” Ucap Yoona pada Lee Sungmin. Ia adalah teman lama Yoona yang kini menjadi notaries Donghae.

“ Aku tidak tahu bahwa Donghae oppa memiliki notaries.” Ucap Yoona. Sungmin tersenyum mendengar ucapan Yoona.

“ Setiap orang memiliki rahasianya masing-masing Yoona-ssi.”

Yoona mengangguk mendengar ucapan Sungmin. Benar apa yang dia katakan, Donghae memiliki banyak hal yang dirahasiakan darinya.

“ Aku menyuruhmu datang karena aku ingin menyampaikan pesan Donghae.”

Yoona mendengarkan dengan seksama.

“ Ia meninggalkan semua hartanya untuk istrinya Im Yoona dan satu-satunya anaknya, Lee Jiho. Ia meninggalkan semuanya untuk kalian. Termasuk apartemen yang baru saja dibelinya.

“ Apartemen? Donghae oppa membeli apartemen?” Tanya Yoona bingung.

“ Ya, Donghae membeli sebuah apartemen mewah empat hari yang lalu.” Ucap Sungmin.

“ Tapi untuk apa?”

“ Aku juga tidak tahu Yoona, dia hanya berpesan agar apartemen itu diberikan pada anaknya Jiho.”

***

Yoona berjalan memasuki ruang tengah rumahnya dengan membawa sekotak ice cream cokelat kesukaan Jiho. Ia tersenyum begitu mendapati Jiho dan eomma tengah asyik bercanda sambil menyusun puzzle.

“ Eomma.” Pekik Jiho yang seketika berlari memeluk eommanya. Yoona lalu mengecup pucuk kepala anaknya.

“ Eomma membawakan ice cream untukmu.” Ucap Yoona seraya memberikan kotak ice cream itu pada Jiho. Jiho sangat senang menerimanya. Ia langsung memnuka ice cream itu. Yoona hanya tersenyum melihat tingkah anaknya. Ia memandang wajah anaknya yang begitu mirip dengan ayahnya, Donghae. Matanya, bibirnya, rambutnya semuanya mirip dengan Donghae. Mungkin beberapa persen saja gen Yoona turun ke Jiho. Ia mengusap-usap kepala anaknya itu.

Malam harinya, Yoona duduk di ranjangnya. Matanya  masih enggan terlelap. Entah mengapa, ia mengambil obat tidur yang ada dilaci mejanya. Ia lalu meminum obat tersebut.disaat yang bersamaan, eomma nampak membuka pintu kamar Yoona.

“ Eomma.” Ucap Yoona pelan.

“ Ne?”

“ Jika aku membiarkan Donghae oppa mati, apakah sama saja jika aku membunuhnya?” Ucap Yoona yang seketika membuat eomma terdiam. ia menatap Yoona dengan tatapan lirih. Air matanya mengepul di sudut-sudut matanya yang tua.

“ Sayang, Donghae sudah meninggal.” Ucap eomma. Yoona seketika menatap eomma tajam saat ia mengatakan hal itu. sesaat eomma tidak berkata apa-apa.

“ Selamat malam sayang.” Eomma lalu meninggalkan kamar Yoona. malam itu, setelah meminum obat tidur, Yoona pun akhirnya bisa melelapkan matanya.

***

 

Another Day

Yoona lagi-lagi terbangung di tempat tidurnya, namun kali ini lain. Disampingnya Donghae masih tertidur pulas. Yoona tak segera bangun, ia masih saja memandangi wajah suaminya yang tertidur. Ia saat ini ingin menangis, ia ingin memandangi wajah suaminya lebih lama lagi karena ia tahu bahwa sekarang adalah saat-saat terakhir ia bisa melihat wajah Donghae.

Suara jam weker mengagetkan Yoona. seketika Donghae menggeliat kemudian ia terbangun. Ia tersenyum begitu mendapati Yoona yang tengah memandanginya.

“ Selamat pagi sayang.” Ucap Donghae lalu mengecup lembut pipi Yoona. Yoona diam saja. Sedetik kemudian Donghae beranjak dan menyibak tirai kamarnya. Yoona terus memandangi setiap apa yang dilakukan Donghae.

“ Hari ini tanggal 9 september.” Ucap Yoona pelan.

“ Yah, tanggal sembilan.”

“ Bukankah oppa dan Jiho hari ini akan pergi memancing? Aku akan buatkan bekalnya, kalian akan berpikinik juga kan?” Tanya Yoona. setiap kali ia berbicara pada Donghae, air matanya terasa ingin jatuh.

“ Ah, aku hampir saja lupa.” Ucap Donghae. Ia lalu beranjak hendak memeriksa peralatan pancingnya. Yoona hanya terdiam melihat tingkah suaminya yang sibuk. Ia pasti akan sangat merindukan saat-saat seperti ini.

“ Jiho, apa kau siap untuk memancing bersama appa?” Ucap Donghae. Seketika Jiho berlari pada gendongan appanya. Entah mengapa hati Yoona terasa sangat sakit melihat kebersamaan Donghae dan Jiho. Ia merasa sangat sakit melihat kebersamaan mereka yang akan segera berakhir.

***

“ Semuanya akan meninggalkan kita Yoona. semuanya akan pergi, termasuk kau, aku dan semua manusia yang ada di dunia ini. Cepat atau lambat semuanya akan terjadi. Tuhan hanya merahasiakan kapan kita akan meninggalkan dunia ini, karena mungkin jika kau mengetahuinya terlebih dahulu, rasa sakit itu akan berkali-kali lipat dari yang seharusnya.”

“ Aku hanya tak habis pikir jika seseorang yang aku cintai meninggalkanku disaat aku belum siap.”

“ Siap atau tidaknya kau ditinggal seseorang itu hanyalah sebuah argument sesaat, pada akhirnya kau akan siap menerima kenyataan yang ada. Tuhan tidak akan memanggil seseorang disaat yang tidak tepat. Terdapat kebaikan dibalik semua itu Yoona, dan kau hanya akan mengetahuinya dan menikmatinya setelah orang yang kau cintai itu tidak ada disisimu. Jadi jangan pernah berpikir bahwa Tuhan tidak adil karena memisahkanmu dengan orang kau cintai. Tuhan selalu adil Yoona.

Yoona terdiam mendengar ucapan Ahjeossi tetangganya. Apa yang dikatakannya betul. Kenyataan bahwa Yoona mengetahui bahwa Donghae akan segera meninggal telah menciptakan rasa sakit yang berlipat ganda. Ia menangis.

***

Sore itu, Donghae dan Jiho baru saja pulang dari memancing. Mereka berdua tampak sangat menikmati kegiatan memancing. Jiho digrndong oleh appanya memasuki rumah, seperti Jiho saat ini tidak mau jauh-jauh dari Donghae. Apakah Jiho juga memiliki firasat bahwa appanya akan segera pergi meninggalkannya? Entahlah.

“ Kalian menikmati memancing hari ini?” Tanya Yoona pada keduanya.

“ Ne, appa juga membelikan balon untuk Jiho. Minggu depan kita memancing lagi ya appa.” Ucap Jiho yang seketika membuat hati Yoona serasa diremas-remas.

“ Okeh jagoan, asal eomma membuatkan bekal yang banyak untuk kita.” Donghae meggoda Yoona. Yona hanya tersenyum kecut.

Malam harinya saat Yoona hendak mengambil piring di lemari, ia tampak kesusahan. Ia berjinjit namun tak bisa meraih piring itu. tiba-tiba Donghae datang di belakangnya dan mengambilkan piring itu. Yoona hanya terdiam.

“ Kalau kau butuh apa-apa, panggil oppa.” Ucap Donghae kemudian mengambil alih kegiatan Yoona menggoreng telur. Yoona kembali lagi merasakan pilu dalam hatinya. Entah bagaimana nantinya, tapi dia pasti akan sangat merindukan saat-saat seperti  ini. Ia terus saja memandangi Donghae yang sibuk menggoreng telur, Donghae banyak bercerita namun Yoona seakan tak mendengarnya. Yoona hanya ingin memandang wajah suaminya itu, merasakan aroma khas tubuhnya.

Setelah makan malam, Yoona dan Donghae duduk di ruang tengah. Donghae sibuk membaca file-file kantornya, namun Yoona di depannya hanya terdiam sambil menatap suaminya. Sesaat kemudian, Jiho datang dengan piyamanya dan langsung menghambur ke pelukan Donghae. Donghae lalu memberikan ciuman selamat tidur pada anak laki-lakinya itu.

“ Selamat malam appa.”

“ Selamat malam sayang.”

Jiho lalu beralih ke Yoona, ia melakukan hal yang sama memeluk dan mencium pipi eommanya.

“ Jiho, berikan appa extra pelukan dan ciuman. Okey.” Bisik Yoona ditelinga Jiho. Jiho mengangguk dan melakukan apa yang Yoona katakan. Ia kembali menghambur ke pelukan Donghae, Donghae terlihat kaget. Namun terlihat tersenyum bahagia pada tingkah Jiho.

“ Untuk apa semua ini?” Tanya Donghae pada Jiho.

“ Eomma bilang kalau Jiho harus memberikan pelukan extra untuk appa.” Ucap Jiho polos.

“ Pelukan extra? Kalau begitu appa akan berikan pelukan extra, ciuman extra. . . “ Ucap Donghae lalu kembali memeluk anaknya itu dengan penuh kasih sayang.

“ nah sekarang Jiho harus segera tidur.” Ucap Donghae.

“ Jiho sayang, kau tidak memberitahu appa kalau Jiho sangat sayang pada appa.”Ucap Yoona. Jiho sejenak tampak berpikir namun kemudian dengan cepat berbalik menghadap Donghae.

“ Aku menyayangimu appa.” Ucap Jiho polos. Hati Yoona kembali sakit melihat moment di depannya.

“ Gomawo jagoan kecil appa.” Ucap Donghae.

Donghae menatap Yoona yang seolah member isyarat padanya.

“ Tidakkah oppa ingin mengatakannya juga.”

“ Mengatakan apa?”

“ Bahwa oppa juga sangat menyayangi Jiho.” Yoona sejenak terdiam. “ Oppa mencintai Jiho bukan?”

Donghae terdiam sejenak mendengar ucapan Yoona.

“ Tentu saja aku sangat menyayanginya.” kemudian Donghae menarik Jiho kedalam pelukannya.

“ kau tahu itukan Jiho. Appa menyayangimu lebih dari apapun di dunia ini.” Ucap Donghae.

“ Eomma juga kan?”

“ Tentu saja sayang, appa sangat mencintai eomma. Appa sangat mencintainya.”

Yoona hanya terdiam melihat semua hal yang terjadi di depan matanya. Perlahan air matanya jatuh mengalir deras di pipinya. Saat ini ia tak sanggup jika harus menerima kenyataan bahwa Donghae akan pergi meninggalkannya dan Jiho. Mngkin Donghae tidak tahu, tapi sekarang adalah saat-saat terakhir ia bisa memeluk dan mengatakan rasa sayangnya pada anaknya.

***

Keesokan paginya Yoona terbangun di kamarnya. Ia tidak mendapati Donghae disampingnya. Menyadari hal itu, Yoona segera menyambar teleponnya dan menghubungi seseorang.

“ Taeyeon..Taeyeon, tanggal berapa sekarang?” Ucap Yoona di telepon.

“ Tangga 10, wae?”

Yoona tak menjawab, ia segera mematikan panggilannya. Ia berlari keluar dari kamarnya mencoba mencari keberadaan Donghae dan Jiho. Di dapur ia menemukan sepucuk surat.

“ Oppa berangkat duluan hari ini mengantar Jiho.”

Setelah membaca tulisan itu, Yoona segera berlari menuju mobilnya. Dengan cepat ia menancap gas mobilnya.

Dilain tempat, Donghae tampak memasuki sebuah ruangan di salah satu kantor. Ia lalu duduk di depan seorang notaries dengan papan nama bertuliskan Lee Sungmin.

“ Okeh semuanya sudah selesai. Apartemen itu atas nama Lee Jiho. Ada lagi yang bisa saya bantu Donghae-ssi.” Tanya Sungmin.

“ Tidak ada. Itu saja. Terima kasih.” Donghae kemudian beranjak meninggalkan ruangan itu. ia lalu menegemudikan mobilnya. Di perjalanan, Donghae dapat telepon dari seseorang. Dibiarkannya telepon itu berdering lama. Donghae ragu menerima panggilan itu.

“ Yooboseyo?”

“ Oppa, aku baru saja menempati apartemennya, sangat nyaman.” Suara wanita  seberang.

“ Aku sudah tidak sabar menanti kedatangan oppa.” Ucapnya lagi. Tak ada jawaban dari Donghae.

“ Oppa. . .”

“ Eunso-ah. . . Mianhe. . . aku tidak bisa melakukan semua ini lagi.”Ucap Donghae lemah.

“ Melakukan apa? Tentang keluargamu?” Tanya Eunseo.

“ hubungan kita.”

Eunseo tercekat. Hatinya sakit mendengar ucapan Donghae.

“ Oppa. . .”

Donghae lalu mematikan panggilannya. Ia tak peduli lagi dengan Eunseo. Sekarang ia hanya memikirkan Yoona dan anaknya Jiho. Ia lalu menelpon kerumah namun tak ada yang menjawab. Karena itu Ia hanya meninggalkan voice mail.

“ Yoona, sayang dengar. . .” Donghae ragu hendak berucap

“ Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. . emm… kau ingat gadis kemarin. . . dia. . .” Donghae menarik nafas dalam.

“ Aku ingin menjelaskan semuanya padamu. . . jadi. . . “ Donghae menghentikan sejenak panggilannya. Sebuaah panggilan masuk dari Yoona

“tunggu, apa itu kau?” Dengan cepat Donghae memencet tombol answer.

“ Yoboseyo, oppa.” Suara Yoona terdengar yang seketika membuat senyum merekah dari wajah Donghae.

“ Saranghae sayang.” Ucap Donghae begitu menjawab telepon Yoona.

Yoona terlihat lega begitu mengetahui Donghae masih menjawab teleponnya.

“ Oppa harus mengatakan sesuatu padamu.” Ucap Donghae

“ tidak apa-apa. Aku sudah tahu semuanya, aku sudah tahu tentang Seo Eunseo.”

Ucapan Yoona seketika membuat Donghae terdiam.

“ Kau sudah mengetahuinya?”

“ Ya, aku bisa menjelaskan semuanya tapi…

“ Sayang dengar. Aku hanya ingin membuat semuanya kembali seperti semula. Aku ingin membuat rumah tangga kita lebih bahagia lagi.”

Yoona tersenyum sumringah mendegar ucapan suaminya. Ia merasa sangat bahagia sekarang.

“ Kau dimana, oppa ingin bertemu denganmu?”

“ Aku melihatmu oppa. Aku ada di depan.”

Donghae dengan cepat menoleh ke jalan di depan, danbenar saja mobil Yoona tampak ada di depannya, dari arah yang berlawanan.

“ Okeh, oppa akan menepi.”

Yoona terharu dengan apa yang terjadi. Ia memohon agar mimpi buruknya tak pernah terjadi. Namun sedetik kemudian ia menyadari bahwa jalan di depannya adalah jalan yang ia lihat dalam mimpinya. Disitu ia melihat dirinya berlari di jalan ini sambil menangis. Perasaannya kembali tak enak.

“ Oppa, kau percaya padaku?” Ucap Yoona di telepon.

“ Tentu saja sayang.” Jawab Donghae.

“ Kalau begitu, berputar arah sekarang.”

“ Wae? Aku tidak mengerti.”

“ Sekarang oppa!” Ucap Yoona tegas. Ia turun dari mobilnya.

“ Karena diminta, Donghae pun dengan cepat memutar arah mobilnya, tapi karena tiba-tiba hampir saja sebuah mobil menghantam mobilnya.

“OPPA!!” Pekik Yoona.

Dengan spontan Donghae menghindar hingga kini mobilnya dalam posisi memalang di tengah jalan.

Ia menarik nafas panjang. “ Woah, hampir saja.”

Ponselnya kembali berdering, namun ia harus menunduk untuk mencari ponselnya yang jatuh, Donghae tak sadar kalau mobilnya kini tengah berada di tengah-tengah jalan.

“ Yoona.” ucap Donghae di telepon begitu ia menemukannya.

“ Oppa kau baik-baik saja?”

“ Gwaencanha.”

“ Syukurlah. Kalau begitu cepat menepi.”

“ Okeh.” Donghae lalu hendak menyalakan mobilnya namun anehnya mobilnya tidak mau menyala. Berulang kali ia mencoba namun tetap tidak mau. Sepertinya mesin mobilnya rusak karena manufer yang tajam dan tiba-tiba tadi. Yoona yang melihat dari kejauhan mobil Donghae tak bergerak membuatnya khwatir.

“ Mengapa Donghae oppa tak menepi?”

Samar-samar terdengar suara truk mendekat. Yoona menjadi begitu khawatir karena mobil Donghae tak kunjung menepi. Ia lalu kembali menelpon Donghae.

“ Oppa, kenapa tidak menepi?” Tanya Yoona khawatir.

“ Sepertinya mesin mobil Oppa rusak Yoona.”

Suara mobil truk itu semakin jelas saja. Membuat Yoona semakin khawatir, apalagi Donghae. Donghae kembali mencoba menghidupkan mesin mobilnya namun tetap tidak bisa, sampai akhirnya sebuah truk besar terlihat dari kejauhan, semakin lama semakin mendekat ke arah mobil Donghae yang memalang ditengah jalan. Melihat hal itu, Yoona menjadi sangat takut.

“ Oppa, cepat keluar dari mobil itu!” Pekik Yoona di telepon. Menyadari sebuah truk hendak menghantam mobilnya, Donghae pun dengan cepat ingin membuka pintu mobilnya. Namun sia-sia, seprtinya semua pintu terkunci otomatis karena kejadian tadi, dan sialnya sepertinya kunci otomatis ini nampaknya rusak dan pintu mobilnya pun tak bisa dibuka. Dengan susah payah Donghae mencoba namun tetap tidak bisa.

“ Oppa, apa yang kau lakukan? Cepat keluar dari mobil.” Yoona berteriak di telepon.

“ Pintunya terkunci Yoong!!” Pekik Donghae. Mendengar hal itu Yoona tak sadar menjatuhkan ponselnya.

“ Oh Tuhan.” Ucap Yoona. ia dengan sekuat tenaga berlari menghampiri mobil Donghae. Air matanya kini mengalir deras dari pipinya. Ia tak mau mimpi buruknya betul-betul menjadi kenyataan.

Truk itu sudah di depan mata. Donghae dengan sekuat tenaga menendang kaca mobilnya agar pecah. Truk semakin mendekat, klakson truk itu pun terus berbunyi melihat mobil Donghae yang memalang. Mungkin karena pengemudi menginjak rem dengan sangat keras agar truk itu berhenti, ban truk itu tak lagi melaju namun karena kecepatan truk sangat tinggi sebelumya membuatnya sangat sulit untuk berhenti mendadak. Dan tak dapat dihindarkan lagi, Truk besar itu menghantam mobil Donghae, menyeret mobilnya dan kemudian meledak.

“ANDWAE!!!” Teriak Yoona begitu melihat mobil Donghae meledak dan hancur berkeping-keping, begitupun Donghae di dalamnya. Ia menangis dengan keras melihat kobaran api di depan matanya. Ia tak pernah menyangka mimpi buruknya itu akan menjadi kenyataan. Ia tak pernah menyangka bahwa Donghae akan meninggal di depan matanya dalam peristiwa seperti ini. Yoona hanya bisa menangis, menangisi kepergian Donghae untuk selama-lamanya. ia hanya berharap bulan september tidak akan pernah datang, atau setidaknya ia tertidur dan akan bangun setelah september berakhir.

END

*****

Catatan : gimana, bingungkan? Bingung doong. . . hohoho. Mian kalo ceritanya gak jelas gitu, tapi emang kayak gitulah ceritanya *loh*. Bagi yang gak suka sad ending, mian karena FF ini berakhir tragis. Entah mengapa FF oneshootku selalu berakhir seperti ini. Kalo ada yang mau marahin author silahkan coment dibawah…^^

mwne poster

 

Title     : Marriage Will Not Expire Part 8

Author : Kid Kaito

Cast     : Donghae,Yoona, Siwon, Kyuhyun, Seohyun, Tiffany, Changmin,Lee Seung Gi

Genre  : Family, Chapter

Rating : PG-15

Note    : Annyeonhaseyo chingudeul^^ Setelah sekian lama menunggu, akhirnya FF yang tak kunjung berkesudahan ini akhirnya muncul juga part delapannya. Mian atas keterlambatan FF ini. Aku juga pengen ngucapin terima kasih banyak sama semua readers yang udah nunggu kelnjutan FF sinetron yang rencananya mau nyaingin serial cinta fitri. Hohoho…. Semoga readers semua pada suka part ini yah, selamat membaca  \^_^/

 

MARRIAGE WILL NOT EXPIRE

 

“ Oppa, tidakkah kau ingin mengucapkan beberapa kata manis padaku. Kau tega sekali.”

Alis Donghae naik saat membaca sms dari Jessica. Memang Jessica sangat suka bersikap manja padanya, tapi mengingat Jessica sedikit menarik diri setelah tahu ia sudah menikah membuat Donghae heran pada sms Jessica.

“ Wae?” Donghae lalu memencet kata kirim di ponsel touch screennya

“ kau betul-betul tidak mau mengucapkan kata selamat tinggal padaku?”

Donghae sedikit menagkap arti sms Jessica. Apakah itu berarti dia akan pergi jauh? Segera ia menguhubungi Jessica.

“ Yoboseyo?”

“ Oppa. . .”

“ Sica, eodisso?”

“ Di bandara. Cepatlah kesini kalau oppa tidak mau menyesal seumur hidup karena tidak mengucapkan selamat tinggal padaku.”

“ Tunggu oppa, ok.” Donghae segera beranjak dari tempatnya dan segera menyambar kunci mobil yang ada diatas meja. Pada Jessica, Ia mungkin sudah tidak memiliki perasaan yang sama seperti saat Jessica dulu pergi, tapi Donghae sudah menganggap Jessica sebagai dongsaengnya sendiri. ia tidak ingin sakit hati lagi saat mendapati Jessica yang tiba-tiba menghilang. Sudah cukup dulu ia tidak melihat Jessica saat meninggalkan Korea, sudah cukup ia tak mengucapkan selamat tinggal pada Jessica.

Donghae berlari saat sudah sampai di bandara. Ia mencari-cari keberadaan Jessica di tengah lalu lalang orang yang sibuk dengan urusan masing-masing. Donghae berputar-putar mencoba menemukan Jessica. Ia tidak mau sampai tidak melihat Jessica yang mungkin tidak akan bisa dilihatnya dalam waktu yang lama. Lama Donghae mencari kesana kemari namun tidak menemukan Jessica. Akhirnya ia kelelahan dan berhenti untuk mengambil nafas. Nafas Donghae terdengar sangat jelas karena sekian lama berputar-putar di bandara. Sejenak ia kembali teringat saat-saat dimana dia melakukan hal yang sama saat Yoona pergi.

“Apa aku terlambat lagi?”

“ Oppa!”

Suara yang sangat ia kenal membuat Donghae berdiri dan berbalik. Ia mendapati Jessica yang tersenyum manis padanya. Donghae seketika tersenyum setelah akhrinya orang yang dicarinya kini berdiri di depannya.

“ Apakah dulu kau juga seperti ini? Berlari kesana kemari?” Ucap Jessica. Donghae hanya tersenyum. Namun tiba-tiba ekspresinya berubah.

“ Sica, mengapa kau tiba-tiba ada ada disini?” Ucap Donghae tegas. Jessica tersenyum mendengarnya.

“ aku mau pulang ke Inggris.” Ucap Jessica santai.

“ Wae?

“ Aku sudah tidak punya urusan disini.”

“ Bukankah kau bilang kau akan lama tinggal disini, mengapa tiba-tiba. . .”

“ Aku datang ke Korea dengan pengharapan besar akan kembali bersama dengan Donghae-ku, berharap dia akan tetap menjadi seseorang yang mencintaiku. Namun sepertinya aku terlambat.” Ucap Jessica lemah. Donghae terdiam.

“ Heh, aku tidak pernah menyangka perubahan besar akan terjadi selama kepergianku. Tapi memang kenyataannya kau telah menjadi milik orang lain oppa.”

“ Sica. . .”

“ Tapi untuk apa aku terus memintamu kembali padaku sementara hatimu telah menjadi milik orang lain. Biarlah, aku relakan kau untuk orang itu.” Ucap Jessica tersenyum.

“ Yoona, namanya Yoona.” Donghae tiba-tiba berucap membuat mata Jessica membesar.

“ Ne, Yoona. nama yang bagus. Seperti apa orangnya sampai membuat seorang Lee Donghae bertekuk lutut padanya?” Donghae hanya tersenyum mendengar ucapan Jessica.

“ Jujur, aku sangat iri padanya oppa. Bisakah kau memperkenalkannya padaku suatu saat nanti?”

Donghae dengan cepat mengangguk. “ Tentu. Kalian berdua pasti akan menjadi teman  yang baik.”

“ We’ll see.”

Tiba-tiba mereka berdua terdiam.

“ Keundae, oppa. . .”

“ Ne?”

“ Kau tidak memberiku hadiah perpisahan?” Ucap Jessica manja membuat Donghae seketika tersenyum manis. Donghae lalu berjalan mendekati Jessica lalu memeluknya dengan hangat.

“ Aku akan merindukanmu, Sica.” Ucap Donghae pelan sambil terus memeluk Jessica.

“ Nado oppa.”

Tiba-tiba Jessica melepaskan pelukan Donghae.

“ Sepertinya aku sudah terlambat, kalau begitu aku pergi dulu ya oppa. Anyyeong.” Jessica lalu berlari sambil menggiring kopernya memasuki ruang keberangkatan. Donghae terus memandangi kepergian Jessica.

“ aku tidak pernah setenang ini melihat Jessica pergi. Masih sangat membekas di benakku bagaimana aku sangat sakit hati saat Jessica perg dului. Hehh, sepertinya Yoona betul-betul mengubah hidupku.”

Donghae memegangi dadanya.

“ Yoona, bogoshipeo.”

*****

Los Angeles, USA

Yoona tengah duduk asyik memandangi jejeran bunga-bunga indah yang tertata rapi di sebuah taman kecil di pekarangan rumahnya. Sesekali ia mendekati bunga itu dan menghirup harum semerbak dari bunga-bunga tersebut. Dengan begitu, perasaan Yoona lebih tenang. Namun dari sekian banyak jenis bunga yang ada disana, terdapat sebuah bunga matahari yang sangat indah, letaknya lebih jauh, seakan disediakan tempat special untuk bunga tersebut. Yoona memandangi bunga tersebut, seakan banyak arti yang tergambar oleh bunga matahari tersebut.

“ Haebaragi (sunflower)” Ucapnya setengah berbisik.  Entah mengapa ia seakan larut memandangi bunga tersebut.

“ CHA!!” Siwon tiba-tiba datang menepuk bahu Yoona. spontan Yoona terperanjat lalu memandang Siwon dengan tatapan jengkel. Siwon hanya terkekeh melihat reaksi Yoona.

“ Wae? Mengapa kau menatap oppamu seperti itu?”

“ Kau hampir saja membuat jantungku copot oppa.” Ucap Yoona jengkel.

“ Hahaha… Mian.” Ucap Siwon terkekeh.

“ Oppa, dari mana?”

“ bertemu dengan teman lama.” Siwon tampak ragu-ragu.

“ Geurae?”

Siwon memandangi adiknya sambil senyum-senyum sendiri, yang justru membuat Yoona merasa aneh.

“ Oppa wae?” Tanya Yoona bingung. Siwon justru kembali tersenyum sampai lesun pipinya terlihat sangat jelas.

“ Aniyo. Kau suka tempat ini?” Yoona mengangguk sambil tersenyum. Hal tersebut tentu saja membuat senyum Siwon semakin lebar saja. Hal itu tampak luar biasa bagi Siwon, ia merasa tindakannya sangat tepat membawa Yoona ke LA, lihatlah sekarang Yoona sudah bisa tersenyum.

“ Yoona, oppa tahu tempat yang menyediakan kopi paling enak disini, kau mau mencobanya?” Tawar Siwon. Yoona tampak berpikir sejenak.

“ kedengaran bagus.” Ucap Yoona yang membuat Siwon kegirangan. Ia segera beranjak.

“ Kau bersiap-siap dulu, oppa tunggu. Okeh.” Ucap Siwon dengan ber-aegyo seolah-olah mengajari anak umur lima tahun . Yoona sampai dibuat tersenyum sendiri dengan sikap oppanya yang sangat perhatian.

@Restoran

Yoona dan Siwon tampak duduk di meja yang berdekatan dengan kaca sehingga mereka bisa melihat orang-orang yang berlalu lalang diluar. Sesekali Siwon Nampak menceritakan lelucon yang membuat Yoona tertawa-tawa. Orang-orang mungkin akan mengira mereka sepasang kekasih melihat keakraban mereka. Memang mengherankan melihat Yoona yang sangat berubah ketika masih berada di Zurich, sekarang Yoona terlihat ceria, sangat kontras dengan keadaannya dulu yang tampak terpuruk. Entah apa yang merubahnya.

Kedua kakak beradik ini Nampak sangat asyik berbincang, terutama Siwon yang sangat bersemangat bercerita tentang pengalaman lucunya, sampai tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Seketika Siwon berbalik. Seorang pria tampak tersenyum mendapati Siwon. Sedetik kemudian mata Siwon membesar *khas Siwon*

“ Annyeong.” Sapa Pria itu pada Siwon. Yoona hanya melihat dengan tatapan kebingungan

“ oh, Seunggi-ah. Lama tidak berjumpa.” Ucap Siwon heboh, ia seketika berdri dan merangkul pria yang bernama Seunggi tersebut.

“ Ayo duduk bersama kami.” Seunggi kemudian duduk di salah satu kursi yang masih kosong di samping Yoona. Siwon sekali lagi tampak tersenyum lebar.

“ Ahh…Seunggi-ah, kau semakin gagah saja, bagamana kabarmu?.” Puji Siwon.

“ Haha. . . Aku baik,kau lihat sendiri kan.” Seunggi nampak melirik Yoona dengan senyum, namun Yoona tak menyadarinya.

“ Oh, ya. Yoona, dia Seunggi temanku, Lee Seung Gi. Dia pemuda yang sukses. . . hahaha. . .” Ucap Siwon. Seketika Yoona agak menundukkan kepalanya sedikit sambil mengucapkan

“ Annyeonghaseyo.” Ucap Yoona yang dibalas sama oleh Lee seung gi.

“ Senang bertemu denganmu Yoona-ssi.” Ucap Seung gi lembut yang hanya dibaas senyuman oleh Yoona.

“ Mengapa kau tiba-tiba ada di restoran di LA? Kau sedang berlibur atau apa?” Tanya Seunggi. Siwon tampak tercekat, ia melirik Yoona disampingnya namun tampaknya Yoona tidak bereaksi apa-apa.

“ Ahhh. . . itu. . ada urusan pekerjaan disini. Hehe.” Ucap Siwon ragu-ragu. Lee Seung gi tampak mengangguk mendengar jawaban Siwon.

Setelah itu, Siwon dan Seung gi pun asyik berceloteh tentang pekerjaan dan sebagainya. Yoona yang sama- sekali tak punya koneksi terlihat sangat bosan. Sesekali Seunggi tampak mencuri pandang pada Yoona lalu kemudian tersenyum sendiri.

“ Seunggi-ah, aku tidak menyangka kita akan bertemu disini. Kapan-kapan berkunjunglah kerumah kami.” Ucap Siwon. Kini ketiganya tampak berdiri.

“ Dengan senang hati Siwon-ah.” Ucap Seunggi. Ia kemudian menatap Yoona sambil tersenyum. Sedetik kedua mata mereka bertemu namun dengan cepat Yoona melirik ke tempat lain. Namun justru Seunggi semakin tersenyum lebar.

“ Kalau begitu, kami duluan.” Siwon menepuk bahu Seunggi sebelum melangkah pergi.

“ Annyeonghigaseyo.” Ucap Yoona sedikit membungkuk lalu mengikuti langkah Siwon. Lee Seung gi masih menatap kepergian mereka berdua. Ia tetap berdiri sambil tersenyum sendiri sampai akhirnya Siwon dan Yoona sudah hilang dari pandangannya. Seunggi lalu duduk dan lagi-lagikembali tersenyum sendiri.

“Im Yoona.” Ucapnya dengan senyum tersungging di wajahnya.

***

Siwon kembali berceloteh saat perjalanan pulang. Mereka memilih untuk berjalan kaki karena Yoona yang ingin menikmati jalan di Los Angeles, sementara Siwon hanya menurut.  Lagipula banyak spot-spot di distrik Hollywood yang akan lebih indah jika dinikmati dengan berjalan kaki.

“ Kau belum pernah bertemu Lee Seunggi sebelumnya?” Tanya Siwon antusias. Yoona mengangguk mengiyakan pertanyaan oppanya.

“ Kalian pernah bertemu, waktu itu saat oppa masih kuliah, dia pernah berkunjung ke rumah. Kau tidak ingat?”

“ Aniyo.” Ucap Yoona datar. Sepertinya ia tidak tertarik dengan pembicaraan oppanya.

“ wah, rasanya sudah sangat lama oppa tidak menikmati berjalan seperti ini di LA.” Ucap Siwon sambil membentangkan tangannya seolah merenggangkan otot-ototnnya.”

“ Geurae? Oppa sering berjalan kaki seperti ini?” Tanya Yoona. Siwon dengan cepat mengangguk. Namun Yoona sepertinya kurang mempercayainya melihat tingkah Siwon di Korea yang tidak mungkin melakukan hal seperti ini di Seoul.

“ Tentu saja aku melakukan hal seperti ini Yoong. Kau hanya tidak mengetahuinya.” Siwon kembali menyunggingkan senyum lebarnya. Mendengar hal itu, Yoona hanya mengangguk.

“ Keundae oppa. . . emm.” Ucap Yoona ragu-ragu. Ia sesekali melirik ke Siwon yang berjalan disampingnya.

“ Hmm?”

Wilshire, oppa. . .” Kini Yoona meremas ujung bajunya, ia sangat tidak enak bertanya seperti ini. Siwon masih terus berjalan walaupun ia juga terlihat kaget mendengar ucapan Yoona meskipun ia tahu bahwa Yoona pasti akan menanyakan hal itu.

“ Oppa . . .tidak kesana?” Siwon tiba-tiba berhenti. Ia memandang ke Yoona sesaat kemudian mengalihkan pandanganya ke jalan di depannya.

“ Oppa. . . kita. . . maksudku oppa ke LA karena dia juga kan oppa?”

Siwon kembali memandang Yoona sambil tersenyum.

“ Tentu saja oppa akan kesana Yoong.”

*****

@Seoul, South Korea

“ MWO? Kau mau ke Taiwan?” Ucap Kyuhyun setengah berteriak. donghae menjadi tidak enak dengan pengunjung kafe yang lain melihat tingkah kyuhyun yang sepertinya menganggu pendengaran mereka.

“ Pelankan suaramu.”

“ Ani, hyung. Untuk apa kau kesana? Aku sudah menyuruh orang professional untuk mencari keberadaan Yuri tapi tetap tidak ditemukan. Sebaiknya kau tidak usah kesana.” Ucap Kyuhyun ngotot, matanya pun ikut melotot, dan Donghae sangat tidak suka dipelototi.

“ YA, Cho Kyuhyun! Jangan melotot kepadaku.” Ucap Donghae keras karena sudah tidak tahan dengan tingkah Kyuhyun. Alhasil orang disekeliling merekapun kembali terusik.

“ Lihat siapa sekarang yang berteriak.” Kyuhyun dengan senyum penuh kemenangan.

“ Tapi Hyung, lebih baik kau tidak usah kesana.” Kembali Kyuhyun serius.

“ Wae?”

“  bukankah sudah kubilang tadi, aku sudah menyuruh orang professional untuk mencari Yuri.”

“ Aish, kau masih saja mau ditipu orang bayaran. Mereka hanya mau bekerja saat diawasi.” Ucap Donghae sambil menyeruput kopi hangatnya.

Kyuhyun mendesah panjang.

“ Terserah hyung.” Kyuhyun menyenderkan kepalanya, sedari tadi ia berbicara panjang lebar pada Donghae namun tak di dengarkan membuatnya jengkel sendiri. Namun seakan terkena sengatan listrik, Kyuhyun tiba-tiba bangkit, dari ekspresinya seperti ada yang sangat ingin dia tanyakan.

“ Keundae, hyung. . .”

“ mwo?”

“ keugae, itu. . .” Kyuhyun mulai gelagapan membuat Donghae bingung.

“ Itu apa?”

“ Foto. . . fotomu. . .aish” Kyuhyun kesal sendiri. Ia ragu-ragu mengatakan langsung.

“ Foto? Bicara yang jelas.” Donghae mulai emosi dengan sikap Kyuhyun.

“ Fotomu dengan wanita lain.” Ucap Kyuhyun lantang yang kembali membuat Donghae tidak enak dengan pengunjung kafe.

“Kau sudah melihatnya?”

Kyuhun dengan cepat mengangguk.

“ Kau tidak betul-betul selingkuhkan hyung?” Kyuhyun kembali sdikit ngotot pada pertanyaannya.

Seketika kepala Kyuhyun dijitak oleh Donghae, dan dengan spontan pula Kyuhyun memegangi kepalanya yang sakit.

“ Kau sudah gila? Mana mungkin aku selingkuh.” Pekik Donghae.

“ Baguslah. Seseorang pasti sedang merencanakan sesuatu yang besar terhadapmu hyung. Mungkin dia ingin menghancurkanmu.” Ucap Kyuhyun serius.

“ Yah, dan suatu saat nanti, giliranku yang akan menghacurkan tulang-tulang orang yang mau bermain-main denganku.” Donghae mengepalkan tangannya.

“ Tenang hyung, aku akan selalu bersamamu. “

****

Wilshire, Los Angeles

Siwon memandangi sebuah rumah mewah di hadapannya, mungkin sudah beberapa menit. Pagar rumah itu tertutup rapat, dan sepertinya tak ada tanda bahwa rumah tersebut berpenghuni. Namun Siwon kini tetap berdiri mematung berharap pagar di depannya akan dibuka oleh seseorang. Siwon sendiri tahu bahwa hal itu tidak akan terjadi, namun ia tetap disana entah apa yang dia pikirkan. Tiba-tiba, seseorang dengan perawakan tidak terlalu tinggi namun juga tidakterlalu pendek menghampiri Siwon. Kemudian laki-laki itu menepuk bahu Siwon. Dengan spontan Siwon berbalik menghadap ke pria yang seumuran dengan ayahnya tersebut.

“ Oh, Annyeonghaseyo ahjeosshi.” Siwon membungkuk sambil mengucapkan itu. laki-laki di depannya tersenyum seketika melihat Siwon.

“ Ah Siwon-sshi. Lama tidak berjumpa.” Ucapnya ramah.

“ Ah, ne. bagaimana kabar anda Tuan Seo?”

“ baik. Sepertinya kau baru tiba di LA?”

Siwon mengangguk. “ Ne, aku baru tiba dua hari yang lalu.” Orang yang kebetulan lewat memandangi dua orang yang sedang mengobrol ini dengan tatapan heran. Maklum, mereka berdua asyik mengobrol dengan bahasa korea (ceritanya) di Amerika.

“ Dan sekarang kau disini, di Wilshire berdiri di depan rumah orang?” Tuan Seo tersenyum penuh arti yang justru membuat Siwon tersenyum getir. Nampaknya perkataan tuan Seo sangat mengena dihati Siwon.

“ Kau tidak berubah Siwon-ah.” Tuan Seo menepuk-nepuk bahu Siwon. “ Maukah kau kerumah,meminum secangkir teh hangat?” Tawar Tuan Seo.

“ dengan senang hati.” Ucap Siwon. Mereka pun berjalan ke sebuah rumah yang besar yang berada tepat di sebelah rumah tempat Siwon berdiri tadi.

“ Jadi kau kesini bersama adikmu?” Tanya Tuan Im setelah menyeruput teh hangatnya.

“ Ah, ne. kami akan cukup lama disini.” Ucap Siwon. Tuan Seo mengangguk-angguk mendengar penjelasan Siwon. Namun tampaknya ada sesuatu yang mengganjal dihati Siwon. Ia menelan ludahnya sebelum kembali berucap.

“ Ah, itu. . . ada yang ingin saya Tanyakan pada anda.” Ucap Siwon yang masih tampak ragu-ragu. Tuan Seo seketika tersenyum mendengar perkataan Siwon.

“ Keluarga Hwang?”  Ucap Tuan Seo.

Siwon sedikit kaget mendengar ucapan tuan Seo walaupun dia tahu bahwa Tuan Seo sudah mengetahui arah pembicaraan mereka.

“ Kau masih belum menemukan keberadaan mereka Siwon-ah?” Tanya tuan Seo. Siwon mengangguk mengiyakan.

“ Kau lihat sendiri kan, rumah mereka masih terkunci rapat. Mereka belum pernah sekali pun kembali sejak terakhir kali mereka meninggalkan rumah mereka.” Tutur tuan Seo. Siwon hanya diam mendengarkan. Pikirannya kini sedang tertuju pada satu orang.

“ Kadang-kadang, aku juga sangat merindukan mereka, terutama Tiffany, anak gadis mereka yang manis itu.” Tuan Seo lalu menaikkan alisnya memberi kode pada Siwon.Mata Siwon membesar mendengar perkataan tuan Seo. Sepertinya tuan Seo sengaja mengompori Siwon.

“ Dengar Siwon-ah. Kau hanya perlu menjelaskan dengan hati-hati. Jangan terbawa emosi, karena aku tahu, Tuan Hwang sangat menyayangi putri satu-satunya itu. jika aku jadi tuan Hwang, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama padamu, atau bahkan lebih parah.” Ucap Tuan Seo sambil tersenyum.

“ Mungkin aku tidak akan pernah mendapatkan kesempatan lagi tuan, mereka sudah terlalu membenciku.” Ucap Siwon lirih.

“ Tentu saja mereka berhak marah padamu Siwon-ah, tapi aku yakin mereka tidak akan membencimu. Mereka hanya perlu waktu untuk meredakan kemarahan mereka.”

“ Benarakah demikian?”

“ asal kau meminta maaf.”

“ Aku tidak yakin tuan Hwang akan memaafkan orang yang telah menyakiti putri mereka.”

“ Bukan tuan Hwang saja, tapi yang terpenting adalah Tiffany memaafkanmu.”

Ucapan tuan Seo membuat Siwon terdiam dan menerawang

“it is rather difficult if we are in a relationship with california girls Siwon-ah.” Ucap Tuan Seo sambil tersenyum.

Siwon tersenyum mendengar perkataan tuan Seo. Ia sedikit terhibur walauun dalam hatinya tetap sakit. Ditinggalkan oleh seseorang yang telah menjadi tunanganmu itu sangat menyakitkan. Walaupun tujuan utama Siwon ke LA adalah untuk menenangkan Yoona, namun tak bisa dipungkiri itu adalah karena Tiffany. Ya, Stephani Hwang atau Tiffany adalah salah satu alasan utama Siwon ke LA. Mencari seseorang yang telah lama menghilang memang tidak mudah, apalagi di tempat yang mungkin sudah dipastikan ia tidak berada disitu.

Siwon kembali berhenti sejenak di depan pagar besar rumah mewah keluarga Hwang.

“ Benarkah kau masih mau memaafkanku, Tiffany?”

***

Taipei, Taiwan

Donghae memasukkan koin di sebuah mesin minuman otomatis. Kemudian ia memencet salah satu tombol di mesin tersebut. Tak lama kemudian ia mengambil sebuah kopi hangat yang bearasal dari dalam mesin tersebut. Donghae seketika menyeruput kopi hangat tersebut ditengah dinginnya kota Taiwan. Sesekali ia melirik jam tangannya. Orang-orang tampak berlalu lalang sambil menunggu kereta selanjutnya. Ya, kini Donghae sedang berdiri di salah satu stasiun kereta bawah tanah di kota di Taiwan.

Donghae tampak cermat mengamati setiap orang yang ada di stasiun tersebut. Tentu saja, Donghae berharap Yuri adalah salah satu dari orang-orang tersebut dan tak sengaja lewat di depan Donghae. Dengan begitu Donghae tidak usah berlama-lama di Taiwan mencari keberadaannya yang entah dimana.meskipun kedengaran konyol, namun Donghae masih berharap.

Saat tengah mengamati setiap orang, tiba-tiba ponsel Donghae berdering,satu penggilan masuk. Segera ia angkat panggilan tersebut.

“ Yoboseyo?”

“ Yoboseyo, hyung.”

“ Ah, Changmin-ah, waegeurae?”

“ Aku lupa memberitahukanmu password apartemen, sepertinya aku akan pulang telat, pasien yang kuceritakan padamu ternyata tidak ada di tempat, dan sialnya lagi mungkin penyakitnya sedang kambuh jadi dia tidak bisa pulang.” Tutur changmin panjang lebar yang sebenarnya tak diperlukan Donghae.

“ kebetulan aku juga sudah mau kembali ke apartemen.”

“ Geurae? Bagaimana dengan Yuri? Sudah ada info?”

“ Belum.”

“ ohh. . . aish sebenarnya juga aku sudah mau pulang tapi pasien ini tidak ada, dan hari ini mau tidak mau aku harus mengecek keadaannya, jadi…”

“ Arasso, passwordnya kau kirim saja lewat sms karena mungkin aku akan lupa jika kau memberitahukanku sekarang.” Ucap Donghae yang memotong karena nampaknya Changmin akan berbicara panjang lebar lagi.

“ Ne, Hyung.”

“ Selamat bekerja Changmin-ah, semoga pasienmu itu cepat ketemu.”

“ Ne Hyung, gomawo.”

Donghae menutup teleponnya lalu menaruhnya di saku bajunya. Kemudian ia kembali menyeruput kopi hangatnya.

“ Eiihhh. . . sangat berat jika harus menjadi dokter seperti Changmin. Jauh-jauh datang dari Korea ternyata pasiennya kabur.” Donghae berbicara sendiri. Saat ini Donghae tengah tinggal di apartemen Changmin, ia menawarkan apartemennya untuk ditempati Donghae selama di Taiwan. kebetulan saat Donghae hendak ke Taiwan mencari Yuri, Changmin juga tengah punya pekerjaan di Taiwan. Sebenarnya Donghae juga tidak mau merepotkan Changmin, namun Changmin sangat bersikeras supaya ia tinggal di apartemennya saja, juga desakan dan hasutan dari Kyuhyun yang mengatakan bahwa mungkin Changmin punya banyak koneksi di Taiwan yang membuat Donghae mau. Kini ia tengah menunggu kereta untuk segera pulang ke apartmen setelah seharian berkeliling di Taiwan untuk mencari Yuri.

Tak jauh dari tempat Donghae berdiri, ia melihat seorang wanita atau lebih tepat seorang gadis tengah berdiri di tepi tembok pembatas dan sangat dekat dengan rel, mungkin jika saat itu kereta lewat ia akan tersambar. Donghae memperhatikan wanita tersebut, ia terlihat pucat dan tatapannya kosong. Gadis  itu berdiri disana sudah dari beberapa waktu yang lalu, dan Donghae menyadari itu.

Sayup-sayup terdengar suara kereta mendekat. Semakin lama semakin terdengar jelas. Namun ada satu hal yang membuat Donghae khawatir, gadis tadi tidak bergerak sedikit pun. Normalnya jka sudah tahu bahwa ada kereta yang mendekat kau akan segera menyingkir agar tidak tersambar kereta. Gadis itu sama sekal tak pindah, ia tetap saja di tempatnya – dipinggir tembok pembatas-  mengahadap kedepan dengan tatapan kosong. Sementara kereta semakin dekat, jantung Donghae pun semakin berpacu, ia sangat khawatir melihat gadis tersebut, ia berharap gadis tersebut menyadari kedatangan kereta dan segera menyingkir, atau paling tidak ada satu orang yang menegurnya, namun nampaknya orang-orang Taiwan ini sangat sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Kereta sudah terlihat, Donghae menggigit bibir bawahnya, apa yang seharusnya ia lakukan. Apakah dia harus diam saja? Sementara kereta sudah di depan mata.

“ Andwae.” Bisik Donghae pada dirinya sendiri sesaat sebelum ia dengan cepat menarik tubuh gadis itu menjauh. Jika sedetik saja Donghae terlambat maka mungkin satu nyawa akan melayang di depan mata. Gadis itu tersentak, nampaknya ia baru sadar apa yang terjadi. Ia menatap Donghae dengan tatapan bingung. ekspresinya tadi yang kosong kini berubah bingung/heran bercampur kaget. Keduanya tak berkata apa-apa. Sampai akhirnya wanita tersebut melepaskan rangkulan Donghae dan berjalan meninggalkan Donghae.

“ Heh, berterima kasih pun tidak.” Gumam Donghae.

Seakan mendengar ucapan Donghae, gadis itu berjalan sekitar lima meter sampai ia berhenti dan berbalik pada Donghae.

“ Oppa. . .” Hanya satu kata dan ia terjatuh tak sadarkan diri. Donghae mengalami kejadian itu dengan mata melongo. Ia tak tahu harus berbuat apa.

“ Ada apa dengan gadis itu?” Batin Donghae. Kini orang-orang yang ada di stasiun kereta melihat kearah Donghae seakan menagatkan “ mengapa tidak kau tolong pacarmu?”

Donghae sendiri menjadi tidak enak dengan orang-orang itu karena ia terlihat seakan-akan tidak bertanggungjawab pada wanita itu, tapi hey, dia bukan pacarku, dia tidak ada hubungannya denganku. Aku tidak mengenalnya. Donghae seakan ingin berteriak seperti itu.

“Tunggu. apa? Dia bilang apa tadi? Oppa? Bagaimana mungkin, bukankah ini Taiwan?”

Donghae kemudian menghampiri wanita itu dan membaringkannya di kursi tunggu. Lama-lama ia jadi tidak tega jika harus meninggalkan wanita ini dalam keadaan tidak sadarkan diri.

“ Kalau saja kau tidak mengatakan “Oppa”, aku mungkin. . . ah sudahlah.” Donghae lalu membopong wanita itu dan menyetop sebuah taksi, apa yang akan orang katakan jika ia bersama gadis yang pingsan di kereta.

Donghae membawa gadis tersebut ke apartemen Changmin. Ya, kemana lagi Donghae akan membawa gadis yang tak sadarkan diri di negeri orang?

Donghae lalu membaringkan gadis tersebut di atas sofa di ruang tamu. Ia tidak membawanya ke kamar karena apa nanti yang akan dipikirkan oleh changmin yang mendapati seorang gadis tidur di tempat tidurnya?

“ Agasshi, siapa kau sebenarnya? Memanggilku oppa dan kemudian pingsan?” Donghae bergumam sendiri sambil menatap gadis cantik yang kini tidur di depannya.

Sudah dua jam gadis di depan Donghae ini tak sadarrkan diri. Donghae juga merasa khawatir takut terjadi hal-hal buruk pada gadis tersebut.

Suara bel pintu membuyarkan semua lamunan Donghae. Ia segera beranjak untuk membuka pintu apartemen.

“ Woah, Changmin-ah. Untung kau disini.” Ucap Donghae lega seketika melihat Changmin. Ia tidak pernah sebahagia ini melihat Changmin sebelumnya.

“ Waegeurae?” Tanya Changmin bingung.

“ Lihatlah sendiri.”

Changmin lalu masuk ke apartemen dan tersentak kaget saat melihat gadis tengah tidur diatas sofanya.

“ Hyung, apa ini?”

“ Bukan apa ini, tapi siapa dia?”

Sedetik kemudian ekspresi Changmin berubah. Ia seakan sedang mengenali seseorang di depannya. Ia kemudian mendekati gadis tersebut.

“ Tiffany-ssi?” Pekik Changmin. Donghae segera bereaksi dengan menghampiri Changmin.

“ Kau mengenalnya?”

“ Tentu saja, dia pasien yang aku ceritakan itu.”

Donghae terperanjat. Ia menarik nafas dalam. Ia tak menduga akan seperti ini.

“ Lalu apa yang terjadi padanya? Mengapa dia tak sadarkan diri?”

“ Sepertinya ia kelelahan dan tidur.”  Donghae hanya mengangguk-angguk mendengarkan perkataan Changmin.

“woah, sepertinya keluarga Hwang harus berteimakasih banyak kepadamu hyung.” Ucap Changmin.

” bahkan lebih dari itu, kau tidak tahu apa yang dilakukan nona Tiffany ini tadi Changmin-ah.” Gumam Donghae pelan yang nampaknya tak di dengar oleh Changmin.

***

Tiffany perlahan membuka matanya. Samar-samar ia melihat seseorang di depannya, berdiri menatapnya. kepalanya masih terasa sakit. Sedikit-demi sedikit penglihatannya semakin jelas. Ia meliat seoarang lelaki kini tengah memandangnya  dengan senyumnya yang hangat.pria itu terus memandangnya sambil tersenyum.

“ Kau sudah sadar, Tiffany-ssi?”

Tiffany sedikit kaget. Ia mendapati dirinya berada di tempat asing bersama dengan laki-laki asing, tapi apa dia bilang tadi? Tiffany? Bagaimana di tahu namaku?

“ Anda siapa?”

“ Aku Lee Donghae, tidak usah khawatir, aku adalah teman dokter Changmin dan ini apartemennya, kau mengenal dokter changmin  bukan?”

Tiffany mengangguk. Sejenak ia melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Sudah jam 8 malam. Tiffany terperanjat, ia berdiri dan mengambil tasnya.

“ Tiffany-ssi, ada apa?” Tanya Donghae.

“ Aku harus segera pulang. Appa pasti sangat khawatir.”

Donghae sekali lagi tersenyum. Sejenak Tiffany terdiam melihat senyum pria ini.

“ Dokter Changmin sudah memberitahukan bahwa kau disini, jadi tidak usah khawatir. Sebaiknya kau duduk dulu.”

“ ah geurae? Gomawo, tuan Lee Donghae.” Ucap Tiffany lemah. Donghae sedikit kaget mendengar ucapan Tiffany.

“ Panggil aku Donghae saja.”

Tiffany menyunggingkan senyum mendengar ucapan Donghae. Donghae sejenak menatap pada Tiffany yang terlihat sangat kelelahan.

Disaat yang bersamaan, Changmin datang dengan membawa secangkir teh hangat di tangannya. Ia langsung menyunggingkan senyumnya begitu melihat Tiffany.

“ Kau sudah sadar? Bagaimana perasaanmu?” Tanya Changmin lalu duduk disamping Tiffany. Ia lalu menyodorkan gelas yang dibawanya kepada Tiffany.

“ Aku baik-baik saja. “ Tiffany meraih cangkir tersebut, namun bukan telinga cangkir yang ia pegang saat mengangkat cangkir tersebut, Tiffany memegang bagian yang berlawanan, membuat sebagian teh yang ada didalamnya tumpah. Begitupun saat Tiffany menaruh cangkir langsung diatas meja, tidak pada piring kecil pengalasnya.

Donghae yang melihat tersebut tampak kaget. Ia sebenarnya ingin menegur, namun ia sendiri merasa tidak enak. Sementara Changmin hanya terus menyunggingkan senyum ke Tiffany.

“ Tiffany.” Ucap Changmin

“ Ne?”

“ Bukankah kau harus meletakkan cangkir itu diatas piring pengalasnya?”

“ ah, mianhe.” Ucap Tiffany polos. Ia lalu melakukan apa yang Changmin katakan. Donghae yang juga ada disitu makin bingung dengan tingkah Tiffany.

“ Keundae, Changmin-ssi. Kenapa aku bisa ada disini?” Tiffany agak sungkan bertanya.

“ Kalau soal itu, Donghae Hyung yang akan menjelaskannya, iya kan Hyung?”

Donghae hanya mengangguk. Tiffany lalu menatap Donghae seolah mengatakan “Apa yang terjadi?”

“ Tadi kau pingsan di stasiun, jadi aku membawamu kesini.”

“ Stasiun?” Ucap Tiffany dengan ekspresi bingung. Tampaknya ia lupa akan hal itu.

“ Tapi tadi aku ke tempat pembuatan keramik.” Ucap Tiffany hampir berbisik. Ia mencoba mengingat. Donghae yang mendengar ucapan Tiffany makin bingung saja. Ia lalu memandang Changmin yang ada di sampingnya mencoba mendapatkan penjelasan, namun Changmin hanya tersenyum kecut.

“ Tadi setelah kau ke tempat pembuatan keramik, kau ke stasiun Tiffany-ssi, kau ingat?” Ucap Changmin. Tiffany terlihat semakin keras mencoba mengingat.

“ Tiffany-ssi?” Tegur Changmin saat Tiffany nampak sangat kebingungan.

“ Entahlah, aku tidak ingat.” Ucap Tiffany lemah. “ Gomawo Dongae-ssi sudah menyelamatkanku.” Ucap Tiffany sambil sedikit membungkuk pada Donghae.

Donghae hanya tersenyum kecut pada Tiffany. Jujur saat ini ia sangat bingung dengan sikap Tiffany yang seolah melupakan semua yang baru terjadi. Ada apa sebenaranya? Apakah itu sebabnya ia menjadi pasien Changmin.

***

Pagi itu, Yoona kembali menyirami bunga-bunga yang berjejer indah di halaman. Yoona menyunggingkan senyumnya saat ia menyiramkan air segar pada satu-satunya bunga matahari yang ada disitu. Entah mengapa Yoona seakan memperlakukan istimewa bunga tersebut. Yoona terus melakukan aktivitasnya tersebut sampai sebuah mobil tampak berhenti tepa di depan rumahnya. Seorang pria turun dari mobil dan seketika tersenyum saat melihat Yoona.

“ Annyeonghaseyo.” Sapa Lee Seunggi, Yoona membalas hal serupa. Ia lalu berjalan menghampiri Yoona.

“ Siwon oppa sedang tidak ada.” Ucap Yoona begitu Seunggi menghampirinya. Lee Seunggi tersenyum mendengar ucapan Yoona.

“ Ah, geurae? Siwon mengundangku waktu itu tapi dia sendiri sedang tidak ada sekarang.”

Yoona seketika tersenyum getir mendengar ucapan Lee Seunggi.

“ Ah, Mian. Tapi aku bisa menelpon Siwon oppa sekarang.”

“ Tidak usah. Mungkin dia sedang sibuk.”

Keduanya lalu terdiam, dan Yoona sangat tidak naman dengan situasi seperti ini.

“ Seunggi-ssi, karena sudah terlanjur kesini bagaimana jika anda masuk dulu.”

Mata Lee Seunggi membesar mendengar ucapan Yoona.

“ Jangan terlalu formal seperti itu. Aku teman Siwon, jadi panggil aku oppa saja.” Ucap Lee Seunggi. Yoona hanya tersenyum getir dan mengangguk mendengar ucapan Lee Seung Gi.

“ Ah, ne.” ucap Yoona kikuk.

Tiba-tiba mata Lee Seunggi menangkap sesuatu.

“ Kau suka berkebun?”

“ ne.”

“ Dan juga menyukai bunga mawar. Hampir semua bunga disini mawar, kecuali yang satu itu, haebaragi?”

Haebaragi itu yang paling menarik bagiku.”

“ Geurae…”

Yoona meletakkan secangkir teh di hadapan Lee Seunggi kemudian ia duduk di sofa. Tak ada percakapan, membuat Yoona kikuk tak tahu harus berbuat apa. Sementara Lee Seunggi tampak sedikit tenang dan menyeruput teh hangatnya.

“  Oppa. . .sudah lama tinggal disini?” Tanya Yoona canggung. Ia merasa sangat aneh harus memanggil oppa pada orang yang baru dikenalnya. Sementara Lee Seunggi tampak sangat senang mendengar Yoona mengucapkan itu.

“ Sebenarnya aku juga baru tinggal di LA, dulu aku di Chicago.”

“ Aaa. . .”

“ Yoona sendiri? Aku dengar kau dan Siwon akan lama tinggal disini.” Tanya Seunggi. Yoona seketika terdiam, namun Seunggi nampak sangat menanti jawaban yang akan dikatakan Yoona. sesaat kemudian Yoona tersenyum kecut.

“ Entahlah, aku sendiri tidak pernah tahu berapa lama aku akan ada disini.” Ucap Yoona lemah. Terdapat ekspresi suram di wajahnya namun tampaknya Lee Seunggi tidak terlalu memperhatikannya. Ia justru menyunggingkan senyum lebarnya pada Yoona, berharap wanita di depannya itu beralih memandang matanya dan dengan manis membalas senyumnya.

 

***

Kyuhyun berdiri di depan sebuah rumah dengan beberapa tangkai bunga di tangannya. Ia sudah beberapa kali memencet bel pintu namun masih belum ada yang membukakan pintu. Ia mencoba memencet bel sekali lagi, namun disaat yang bersamaan seorang lelaki tampak membukakan pintu untuknya.

“ Annyeonghaseyo.” Ucap Kyuhyun ramah.

Pria di depannya hanya tersenyum ramah.

“ Seohyun masih bersiap-siap. Kau mau masuk dulu?” tawar pria yang merupakan oppanya Seohyun. Dengan senang hati Kyuhyun menerima tawaran itu. di dalam rumah, Kyuhyun memperhatikan sekeliling ruangan. Tidak ada satupun foto keluarga.

“ sepertinya kau semakin serius saja menjalin hubungan dengan Seohyun.” Ucap Leeteuk.

“ Ah,ne.”

Tiba-tiba ponsel Kyuhyun berdering. Sebuah pesan masuk. Ia dengan cepat membaca pesan tersebut. Matanya sedikit membesar membaca smsnya.

“ Jwoesohabnida, saya permisi sebentar.” Ucap Kyuhyun santun pada Leeteuk. Kyuhyun lalu keluar ke beranda rumah Seohyun, ia menempelkan ponselnya di telinga, menelpon seseorang.

“ Yonoseyo, hyung?” Ucap Kyuhyun.

“ Wae Kyuhyun-ah?” Terdengar suara Donghae.

“ Aku baru saja mendapat info dari orang suruhanku.”

“ Lalu?”

“ Yuri sepertinya sudah tidak berada di Taiwan lagi. Sekitar sebulan yang lalu, Yuri dan suaminya keluar dari Taiwan.”

“ Mwo?”

“ Ne Hyung. Sebaiknya kau kembali saja ke Korea. Nanti kita akan mencari keberadaan Yuri lagi. Kau butuh istirahat Hyung.” Ucap Kyuhyun. Sejenak tak ada suara dari Donghae.

“ Ne, Gomawo Kyuhyun-ah.”

Telepon terputus. Kyuhyun lalu mendesah panjang. Kemudian ia kembali kedalam ruangan tempat diaman Leeteuk masih duduk.

“ Kau sepertinya sibuk Kyuhyun-ah.” Ucap Leeteuk santai.

“ Tidak juga.”

“ Kau memiliki saudara? Yang kau telepon barusan?”

“ Tidak. Dia sepupuku. Tapi kami lebih dekat dari sekedar saudara sepupu.” Ucap Kyuhyun terkekeh. Leeteuk tersenyum mendengar ucapan Kyuhyun.

“ Memang kadang-kadang orang seseorang terasa begitu dekat dengan kita, namun tak jarang pula saudara sekalipun terasa begitu asing, dan bahkan pergi tanpa pamit padamu.” Ucap Leeteuk lirih. Entah apa yang ia maksud namun ekspresinya menggambarkan kesedihan mendalam. Kyuhyun hanya terdiam, sejenak Kyuhyun berpikir bahwa yang Leeteuk maksud adalah oppa Seohyun yang satunya lagi, yang lebih memilih pergi bersama wanita dibadingkan saudaranya sendiri, seperti yang pernah diceritakan Seohyun. Disaat yang bersamaan, Seohyun keluar dari kamarnya, dengan pakaian rapi.

“ Oppa, mian membuatmu menunggu.” Ucap Seohyun begitu mendapati Kyuhyun di ruang tamu bersama Leeteuk oppanya.”

“ Gwancanha. Kau sudah selesai?”

Seohyun mengangguk.

“ Kalau begitu, kaja. Hyung, kami pergi dulu.” Ucap Kyuhyun santun pada Leeteuk.

“ Jaga dongsaengku baik-baik Kyuhyun-ah.” Ucap Leeteuk tersenyum pada Kyuhyun. Kyuhyun mengangguk lalu meraih tangan Seohyun dan menggandengnya meninggalkan rumah Seohyun, entah pergi kemana, kencan mungkin.

“ Oppamu yang pergi bersama pacarnya, masih belum ada kabar?”

“ Belum. Wae?”

“ Aniyo.” Seohyun sedikit bingung dengan pertanyaan Kyuhyun.

***

Donghae kembali mengenakan jasnya rapi. Sudah hampir  seminggu Donghae berada di Taiwan namun ia masih belum menemukan keberadaan Yuri. Hari ini kembali ia berniat menemukan keberadaan Yuri, berharap adik satu-satunya itu bisa diajak kembali ke Korea bersamanya, karena walau bagaimanapun Donghae sangat tidak nyaman berlama-lama  Negara orang, ditambah lagi sms dari Kyuhyun yang masuk setiap malam membuatnya semakin jengkel saja.

From : Kyuhyun

“  bagaimana, Yuri sudah ketemu? Sulit ya mencari orang? Katanya sih sulit, tapi tampaknya Donghae hyung menikmatnya, iya kan?”

Sehari sebelumnya sebenarnya Kyuhyun sudah menelpon memberitahukan bahwa Yuri sudah tidak ada di Taiwan, hal itupun membuat Donghae sedikit berputus asa. Ia pun berencana untuk kembali ke Korea. Namun sebelumnya ia harus memastikan bahwa Yuri betul-betul sudah tidak ada di Taiwan. Selama di Taiwan Donghae tidak bekerja sendiri mencari Yuri, melainkan dibantu oleh seorang temannya yang sudah ahli. Ia ingin bertemu dengan orang itu sebelum kembali ke Korea.

Changmin dari pagi-pagi sekali sudah tidak ada di apartmenen.  Sepertinya ia sangat sibuk, bahkan nampakanya Changmin lebih sibuk dibandingkan jika ia bekerja di Korea. Kalau melihat alasan utama Changmin datang ke Taiwan untuk memeriksa pasiennya –Tiffany- sepertinya Changmin tidak perlu repot-repot,toh Tiffany terlihat tidak sedang sakit parah.

Begitu keluar dari gedung apartemen, Donghae sedikit terkejut mendapati Tiffany yang sedang berdiri di depan gedung apartemen yang ia tempati. Tiffany terlihat kebingungan, mencari-cari seseorang, mungkin.

“ Annyeonghaseyo Tiffany’ssi.” Sapa Donghae menghampiri Tiffany, Tiffany tampak terkejut dengan kedatangan Donghae. Sesaat Tiffany terdiam sambil terus memandang Donghae.

“ Tiffany-ssi?”

“ Annyeonghaseyo tuan. . .” Kalimat Tiffany terputus karena tidak tahu harus menyebut orang di depannya ini siapa.

“ Donghae, Lee Donghae.” Ucap Donghae sambil tersenyum.

“ Ah ne, annyeonghaseyo Donghae-ssi.” Tiffany  seketika tersenyum seolah mendapatkan apa yang ia inginkan. Matanya yang indah melengkung seolah-olah ikut tersenyum.

“ Apa yang kau lakukan disini?”

“ Aku. . . “ Tiffany tampak kebingungan hendak menjawab apa.

“ Kau mau bertemu Changmin?” Tanya Donghae lagi. Tiffany menggeleng.

“ Aku. . . ingin ke tempat pembuatan keramik.”

“ Kalau begitu, aku akan mengantarmu sampai disana. Kebetulan aku juga ingin keluar. Bagaimana?”

Tiffany tampak tersenyum sumringah. Keduanya pun melangkah pergi menikmati dinginnya kota di Taiwan pagi itu. Donghae saat ini memang sangat bingung dengan sikap Tiffany yang sangat sering terlihat kebingugan sendiri. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Apa sebenarnya penyakit yang diderita gadis cantik yang kini berjalan disamping Donghae?

Selama perjalanan di kereta, tak banyak percakapan yang terjadi. Jika ada, Donghae yang lebih dominan dalam percakapan, Tiffany hanya mengangguk dan sedikit menjawab. Namun entah mengapa hari ini Tiffany merasa ia banyak tersenyum. Ia memandang Donghae yang kini ada di hadapannya (tentunya Donghae tidak sadar akan hal itu). ia mungkin masih bingung mengapa hal ini terjadi, namun ia merasa sangat nyaman berada di dekat Donghae, ia merasa senang jika pria itu banyak bercerita dengannya. Belum pernah ia merasakan dirinya bahagia bersama seorang pria sebelumnya, sebelum ia melupakan seseorang.

“ Tuhan, aku mohon jangan buat aku lupa padanya.”

 

***

 

Catatan Author : Abis baca jangan lupa coment ^^

hommem

Annyeonghaseyo^^ ini adalah postingan FF oneshoot pertamaku, jadi mungkin agak aneh ato gak seru ceritanya. FF ini muncul setelah Tadi malam muter lagunya Michael buble yang judulnya Home, disitu suara cowok ganteng ini lembut banget, sendu pula. Kerasa banget kerinduan untuk pulang kerumah *padahal aku udah ada dirumah waktu itu*, yah bukan rumah juga sih tapi bisa jadi kampung halaman. Tiba-tiba ngebayangin Donghae oppa yang bakal wamil, pasti bakal rindu banget ma kampung halaman.apalagi abis nonton film saving private Rian, eh jadi kebawa-bawa deh kalo Donghae oppa bener-bener jadi tentara. . . hahaha. . . dan alhasil jadilah FF yang mungkin gak memuaskan ini. Tapi walopun begitu, mudah-mudahan readers pada suka, buat hiburan ajah nunggu Marriage Will Not Expire part 8 kelar^^

Selamat membaca. . . (lebih bagus kalo baca FF ini sambil dengerin lagunya Michael Buble yang judulnya Home, supaya suasananya dapet *ceileh*)

HOME

Semenanjung Korea, 28 Februari 2008

Dentuman suara bom tak henti menggema di seantero padang  ilalang yang luas. Seakan tak tersentuh oleh kasarnya letusan bom yang berjatuhan dari angkasa, sebatang bunga matahari tetap tegak berdiri memperlihatkan keindahannya. Di sebuah sudut, dengan berhalangkan tumpukan karung yang berisi tanah, beberapa orang yang berpakaian hampir mirip dengan rumput yang ada disekitarnya tampak tengah sibuk berlindung maupun menghindar dari bom yang berjatuhan tersebut. Dilain hal, mereka juga sibuk menodongkan senjata mereka ke arah seberang yang merupakan tempat musuh. Hanya ada satu yang mereka pikirkan, melihat tentara musuh habis tertembus oleh panasnya peluru. Sesekali mereka juga melemparkan bom untuk membalas perlakuan musuh.

“ Bawakan Bangalore!! Bawakan Bangalore!! Granat!!” Teriak salah seorang dari mereka. Dengan cepat seorang  bergerak membawa sebuah senjata yang berukuran besar di tengah hujan peluru dan bom. Seorang lagi membawa granat.

“ Bersihkan penghalangnya!!” Teriaknya lagi.

“ Awas ledakan!!!!” Sedetik kemudian sebuah dentuman besar berasal dari pihak lawan. Asap mengepul disertai darah yang tumpah ruah. Berangsur-angsur rentetan peluru dari pihak lawan sejenak reda.

“ Kita berhasil! Berlindung, ke sisi lain lubang!” teriak salah satu tentara yang sedari tadi mengkomandoi tentara yang lainnya. Ia kemudian setengah berlari sambil menunduk ke arah sisi lain lubang penghalang dan diikuti beberapa tentara lainnya termasuk yang membawa senjata besar tadi.

Pria itu bergidik saat melangkahi mayat-mayat yang berlumuran darah. Sementara di sekitarnya masih banyak yang tampak berteriak meminta pertolongan namun tak didengar. Tampaknya paramedic kewalahan menangani tentara yang terluka itu. pria itu sejenak terdiam memandang ngeri teman-temannya yang terkapar, bahkan ada yang memanggil-manggil entah itu nama ibunya ataupun orang lain. Ia tetap terdiam menatap mereka, namun juga tidak berniat untuk menolong mereka yang terluka, hingga akhirnya ia sedikit tertinggal beberapa langkah oleh teman-temannya tadi.

“ Lee Donghae, apa yang kau lakukan? Bawa kesini Bangalorenya!! Cepaat!!” Teriak kapten yang sedari tadi mengkomandoi.

Tentara yang bernama Lee Donghae itupun dengan cepat melangkahkan kakinya menghampiri kapten yang kini sudah berada lebih dekat dengan musuh.

“ Kali ini kita akan mencoba mengahancurkan pelindung mereka. Homin, Sungha, Kimho, kalian ke tenggara. Byungwook, Kangin, Changmin, kalian coba tutupi bagian depan.” Seketika tentara yang disebutkan namanya pun melompat menuju posisi yang diinstruksikan. Kapten kemudian beralih ke Donghae yang ada disampingnya.

“ Mereka berada di sisi kiri. Cukup sulit menjangkaunya dari sini. Donghae, kau maju ke arah utara dan coba hancurkan pelindung mereka. Cepat!”

Setelah mendengar aba-aba, Donghae segera melompat dan berlari ke arah yang diinstruksikan, ia sedikit menunduk mecoba menghindari peluru yang ditembakkan kearahnya. Sesampainya di posisi, ia sedikit menyetel senjata ukuran besar yang dibawanya. Ia mencoba mencari kesempatan untuk menembak. Sejenak ia mengambil nafas dalam. Kemudian ia mengarahkan senjatanya pada sasaran.

Sedetik sebelum menarik pelatuk senjatanya, ia mengecup bandul kalung yang melingkar dilehernya dan… detik berikutnya sebuah ledakan besar mengenai pelindung musuh. Mereka –Tentara musuh- pun berjatuhan. Dan detik berikutnya tembakan peluru tiada henti diarahkan ke musuh.

“ Red One maju!! Kita berhasil!!” teriak Donghae.

“ Bergeraak!!” teriak kapten. Para tentara itupun maju menggebrak langsung sarang musuh yang mereka pikir sudah sedikit aman untuk didekati. Begitupun dengan Donghae. Setiap detik saat moment itu tak lepas dari suara dentuman senapan yang menyakitkan telinga. Darah tumpah dimana-mana, begitupun dengan mayat yang mungkin bisa dibilang mengenaskan keadaannya tak diperdulikan lagi. Hanya satu yang menjadi tujuan, kemenangan adalah segalanya.

***

Suasana di semenanjung korea yang beberapa saat yang lalu sangat berisik dengan suara ledakan bom maupun dentuman senjata kini tak terdengar lagi. Suasanan tampak lengang. Beberapa tentara yang kini tampak sedang memriksa keadaan setelah musuh akhirnya bisa ditaklukkan.

“ Hey, Changmin-ah. Coba kau kesini, aku menemukan pisau kecil Kim Jong-il. . .hahaha” Ucap seorang tentara yang bernama Kangin. Ia kemudian memberikan pisau itu pada Changmin.

“ Terlihat sangat tajam.” Ucap Changmin. Sedetik kemudian ia menangis sambil memegangi kepalanya. Ia menangis terisak. Entah kenapa ia selalu seperti itu sesaat setelah pertempuran. Kangin hanya bisa melihat dengan iba, semuanya sama.

“ pemandangan yang indah.” Ucap  Yunho pada Donghae sambil menatap padang ilalang yang kini sebagian ditutupi oleh mayat-mayat tentara.

“ Ya, benar. Pemandangan yang indah.” Ucap Donghae ikut memandang indahnya matahari tenggelam di langit sore yang indah di semenanjung Korea. Tempat ini sangat indah dengan padang ilalang yang luas terbentang. Namun kini keindahannya seakan terusik oleh ribuan tentara yang gugur diatasnya.

Entah mengapa tangan kanan Donghae bergetar, seakan menggigil. Sudah beberapa kali hal itu terjadi, dan ia tak tahu mengapa. Namun ia tampaknya tak terlalu memperdulikannya, toh beberapa menit kemudian tangannya akan kembali seperti semula. Ia lalu mengambil  sebuah tempat yang berisi air minum yang selalu dibawanya. Botol air minum itupun tak tenang saat Donghae memegangnya dengan tangan yang bergetar. Kemudian diteguknya air itu. terasa nikmat, walaupun mungkin air itu tidak akan pernah ia sentuh jika ia kini berada di Seoul, di sebuah tempat yang nyaman, di sebuah tempat yang memberikan kebahagiaan, tempat yang selalu dirindukannya juga orang-orang yang ada didalamnya, di rumah.

***

Donghae mengeluarkan sebuah pensil yang ukurannya mungkin setengah dari pensil yang baru. Kemudian ia mengambil beberap lembar kertas yang masih kosong dari dalam tasnya.  Diletakkannya kertas tersebut di sebuah papan kecil dan ia mulai menulis di saat teman-temannya yang lain kini menikmati waktu istrihat dengan bersenda gurau.

8 juli  2008

Untuk Im Yoona

Sore ini aku menikmati indahnya matahari terbenam di salah satu tempat paling indah di planet ini. Apakah kau melihatnya juga? Aku masih mengingat terakhir kali kita melihatnya bersama. Kau tahu, aku menulis surat ini menggunakan pensil pemberianmu saat aku pertama kali bekerja. Dan sekarang tinggal setengah, kapten sering meminjamnya untuk menulis. Lain kali aku tidak akan meminjamkannya lagi.Kau pasti sudah bertanya-tanya mengenai keberadaanku. Aku baik. Aku bersama orang-orang yang baik. Kau tidak usah terlalu khawatir.

Dari aku, yang selalu memikirkanmu sebelum mataku terpejam.

***

Bunyi senapan kembali begemuruh di semenanjung Korea. Kembali pertempuran sengit tak bisa dihindarkan. Pasukan Korea Selatan mencoba memukul pertahanan Korut dengan menyerang markas mereka di pagi buta. Seakan tak memiliki waktu untuk tidur, para tentara harus bertahan tak tidur demi melemahkan pertahanan lawan. Dan kali ini kembali pasukan korsel memenangkan pertempuran walau juga harus dibayar nyawa oleh beberapa anggota batalion tersebut.

Beberapa tentara Korut yang sudah tak berdaya nampak keluar dari persembunyiannya sambil mengangkat kedua tangannya.
“ kami menyerah, tolong ampuni kami.” Ucap salah satu tentara Korut itu pada Donghae yang mendapati mereka.

“ Jangan bergerak. Tetap angkat kedua tangan kalian.” Pekik Donghae. Kini ia sendiri tentara Korsel di dalam bangunan itu. ia tak tahu harus berbuat apa.

“ Kami mohon jangan bunuh kami.” Ucap salah satu tentara Korut lagi.

“ Aku bilang diam dan jangan bergerak.” Teriak Donghae. Ia ragu-ragu dan tak tega jika harus membunuh ketiga tentara itu. walau bagaimanapun ketiga tentara itu adalah manusia, bagaimana perasaan istri dan anak mereka jika menerima surat kematian suami atau ayah mereka? Bagaimana jika Donghae yang berada di posisi mereka?Akankah Yoona akan sanggup menerima surat kematiannya? itu yang membuat Donghae mengurungkan niatnya untuk membunuh mereka.

“ Baiklah, sekarang berbalik! Berbalik kataku!!” pekik Donghae yang segera diikuti oleh ketiga tentara itu. namun sedetik kemudian, puluhan peluru kini menghantam ketiga tentara itu sampai akhirnya mereka tumbang dan bersimbah darah.

Donghae tercekat. Apa yang barusan terjadi? Ia sama sekali tak menembakkan satu peluru pun. Tapi siapa? Donghae berbalik dan mendapati Yunho masih mengarahkan senjatanya pada ketiga tentara itu.

Sejenak kemudian Yunho meninggalkan Donghae. Donghae menangis, menyadari apa yang baru saja dialaminya.

“ Kau baru dalam dunia militer?” Tanya Kangin tiba-tiba. Donghae hanya mengangguk.

“ Donghae hyung, sebelum ini, apa profesimu?” Kali ini giliran Changmin yang bertanya.

“ Kau sudah menamatkan kuliahmu?” Tanya Donghae pada Changmin.

“ Belum.”

“ Kalau begitu aku akan memberitahukanmu setelah kau tamat kuliah.” Donghae lalu beranjak. Ia kembali mengeluarkan pensilnya yang kian hari kian pendek. Juga kertas lusuh dari dalam sebuah kotak di dalam tasnya. Kemudian ia mulai menulis.

24 september 2008

Untuk Im Yoona

Yunho, Changmin dan kangin banyak menceritakan hal-hal lucu di batalion. Kau belum mengenal mereka bukan? Mereka adalah orang-orang baik yang senasib denganku.

Mungkin hal ini sudah aku rasakan sejak terakhir kali aku meninggalkan rumah, tapi entah mengapa akhir-akhir ini aku selalu memikirkan untuk pulang dan berada di rumah, berada di kursi empuk di depan TV, dan melihatmu membuatkan patbingsoo untukku. Atau tertidur di ayunan di halaman belakang saat kau tengah memangkas mawar yang indah. Namun sepertinya aku harus menunggu untuk itu. mungkin beberapa bulan lagi aku akan pulang.

Dari orang yang hatinya selalu berada dirumah.

***

Malam itu, semua tentara nampak tertidur pulas. Hal ini merupakan sangat berharga karena mungkin dilain waktu mereka harus tetap terjaga agar senapan musuh tak menembus kulit mereka. Semuanya nampak tertidur kecuali beberapa orang yang masih terjaga.

Donghae kembali menulis diterangi sebuah senter kecil. Dengan pensil yang kian hari kian pendek, ia mulai menggoreskannya diatas kertas putih yang agak kusut.

15 November 2008

Untuk Im Yoona

Kau masih ingat terakhir kali aku menuliskan surat untukmu? Aku mengatakan bahwa aku selalu memikirkan untuk pulang. Sekarang perasaan itu semakin besar. Aku sangat merindukanmu.

Musim semi kini mulai membeku. Semakin dingin disini, mungkin ditempatmu juga. Kau sudah mengenakan baju hangat? Aku harap begitu karena aku tidak mau saat pulang nanti kau akan menyambutku dalam keadaan sakit.

Dari orang yang sangat merindukanmu.

“ Sampai kapan kau akan terus menulis surat untuknya?” Ucap Yunho tiba-tiba. Donghae tersenyum kecil.

“ Mungkin sampai jari-jariku tidak bisa lagi digerakkan.” Ucap Donghae datar.

“ Oh ya? Lalu bagaimana jika pensilmu habis?”

“ Mungkin aku akan mencuri milik kapten.” Yunho tertawa lepas mendengar jawaban Donghae, begitupun dengan Donghae. Baru kali ini dia tertawa lepas seperti itu.

“ Kau tahu, dulu aku adalah seorang penjahat. Aku selalu saja menerima tawaran orang-orang kaya untuk menyingkirkan musuh mereka. Aku tidak pernah memikirkan betapa keluarga mereka merasa sangat kehilangan setelah aku membunuh.”

Donghae hanya diam mendengar cerita Yunho.

“ Apa yang kau lakukan sebelum menjadi seperti ini Donghae-ah?”

“ Dulu aku seorang guru.”

“ Benarkah?”

“ Siapa dia? Orang yang selalu kau tuliskan surat.” Yunho melirik Donghae. Ia bersandar di sebuah tembok yang agak kasar.

“ Istriku.” Ucap Donghae datar.

***

“ Hyung, sersan Ahn akan ke Seoul, mungkin kau mau menitipkan suratmu padanya.” Ucap Changmin yang tiba-tiba datang berlari entah dari mana.

“ Geurae. Gomawo Changmin-ah.”

“ Ne, sama-sama hyung. Tapi kau juga menuliskan namaku kan dalam surat itu? hahaha”

Donghae tersenyum kecil mendengar perkataan Changmin.

Suara ledakan kembali memaksa pasukan tentara memungut senjata mereka di pagi-pagi buta. Serangan dari Korea Utara kini tak disangka-sangka. Hal itu membuat mereka tak siap membalas dan akhirnya harus ada yang menjadi korban. Menjadi tentara artinya kau sudah siap bahwa suatu saat nanti kau akan terkapar diatas tanah kasar. Entah itu cepat atau lambat, selama perang masih bergemuruh.

Kangin tertembak dibagian dadanya, darah mengucur deras dari balik lukanya. Donghae segera membopong Kangin agak berlindung dari serangan musuh.

“ Kangin hyung, bertahanlah.” Ucap Donghae. Ia mencoba menutupi luka kangin, mencoba menahan darah yang semakin banyak.

“ Medis!! Medis!! Dimana kalian? Cepat! Medis!!” Teriak Donghae namun sepertinya tak ada yang mendengar.

“ Hyung, bertahanlah.”

Tangan Kangin kini meraih dada Donghae.

“ Donghae-ah. . .” Ucap Kangin lemah

“ Hyung, medis ada disana, aku akan membawamu. Bertahanlah.” Donghae lalu menarik tubuh Kangin. Donghae mencoba berjalan di tengah hujan peluru yang menyerang mereka. Ditariknya tubuh Kangin mendekat ke tentara medis yang juga tengah sibuk.

“ Hyung, bertahanlah. Medis!! Medis!!”

Sebuah bom jatuh dan meledak tepat dibelakang Donghae. Namun ia tak memperdulikan itu, ia tetap menarik tubuh Kangin. Sebuah peluru hendak menghantam Donghae namun ia dengan cepat menunduk. Saat ia mencoba menarik kembali tubuh Kangin, baru ia menyadari bahwa kini sebagian tubuh Kangin telah hancur terkena bom. Donghae menatap tubuh Kangin yang mengenaskan, sejenak ia tak sadar akan hujan peluru ke arahnya. Tubuhnya terasa kaku tak bisa bergerak.

“ Lee Donghae! Apa yang kau lakukan?!! Berlindung!! Tiarap!!”

Donghae seakan tak mendengar lagi. Ia hanya melihat Yunho yang memanggil-manggil. Sedetik kemudian, ia ditarik paksa oleh Yunho untuk berlindung.

Malam hari yang dingin kembali meresapi setiap celah di tenda tentara. Donghae kini duduk di pojok. Ia lagi-lagi mengeluarkan pensilnya yang sudah tak bisa digunakan untuk menulis. Ia memandangi pensilnya yang kini tinggal beberapa millimeter panjangnya.

Tiba-tiba Yunho datang menyodorkan sebuah pensil yang walaupun terlihat sudah sangat tua namun masih bisa digunakan.

“ kau pakai punyaku.”

Donghae terdiam sejenak. Sedetik kemudian ia meraih pensil yang disodorkan oleh Yunho. Dipegangnya pensil itu, namun sesaat kemudian tangan Donghae kembali bergetar, entah mengapa. Yunho yang melihat hal itupun kini memandang Donghae.

“ Ada apa dengan tanganmu?”

“ Aku tidak tahu. . .”

9 september 2009

Untuk Im Yoona

Musim panas, datang dan pergi ditempat ini. Tak terasa sudah lebih dari setahun aku pergi. Namun kau tahu apa yang paling kuinginkan? Aku sangat merindukan suasana dirumah, aku ingin pulang.

Hidup itu terdiri dari rangkaian panjang kejadian. Kau tidak akan pernah menduga bahwa Kangin hyung yang sangat senang bercerita lelucon kini telah gugur di medan perang. Mungkin setiap hari jumlah batalionku akan semakin berkurang, namun masih tetap ramai,  Changmin juga masih sering menceritakan lelucon, Tapi entah mengapa aku selalu merasa sendiri, merasakan kesepian yang teramat sangat. Aku hanya ingin pulang.  Aku merindukanmu, selalu merindukanmu.

Dari orang yang berada tak jauh-jauh benar darimu.

***

 

“ ini mungkin menjadi misi kita yang terpenting. Jembatan ini harus kita pertahankan karena inilah satu-satunya jalur penyeberangan militer kita. “

Tentara kembali berkumpul di atas sebuah jembatan yang nampak masih utuh meskipun bangunan di sekitarnya sudah luluh lantah.

“ Tak lama lagi, pasukan komunis utara akan tiba di tempat ini. Sekarang kita harus mulai bergerak, menyusun strategi demi mempertahankan tempat ini.”

“ Donghae-ah, aku ingin kau berada di tenggara gedung itu. bawa Changmin bersamamu. Aku ingin kau melindunginya. Setelah misi ini, dia akan segera dipulangkan.”

“ Wae?”

“ Dua kakak kandungnya yang juga bertugas telah gugur. Pemerintah telah mengeluarkan surat agar putra bungsu Shim harus tetap hidup dan akan dipulangkan. Ibunya menunggu dirumah.” Ucap kapten.

“ Bukankah kita semua harus pulang kapten?” Ucap Donghae. Kapten lalu memegang pundak Donghae.

“ Jangan terlalu banyak berharap Donghae-ah.”

***

Sebuah lagu terdengar mengisi sudut-sudut kota yang kini luluh lantah. Suara penyanyi Kim Tae Woo yang berasal dari sebuah radio kecil yang dibunyikan oleh Yunho. Donghae berdiri menatap puing-puing bangunan di depannya. Dulu mungkin tempat ini ramai, orang-orang hidup damai. Namun perang mengahncurkan semua. Tangan Donghae kembali bergetar. Ia lalu mengatupkan tangan kirinya pada tangan kanannya yang bergetar.

“ Kau baik-baik saja hyung?” Ucap Changmin saat melihat tangan Donghae.

“ Yah, aku hanya mengikuti irama.” Donghae lalu menggoyang-goyangkan tangannya yang bergetar seolah mengikuti lantunan lagu yang diyanyikan Kim tae Woo.

“ Benarkah dulu kau seorang guru hyung?”

“ Iya. Aku melakukannya dulu.”

Changmin tersenyum mendengar jawaban Donghae. Kemudian keduanya terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing.

“ Aku tidak bisa mengingat wajah ayahku. Sekeras apapun aku mencoba, aku tak bisa.” Ucap Changmin tiba-tiba.

“ Jangan mengingat wajahnya, ingatlah hal-hal istimewa yang berhubungan dengan ayahmu.”

“ Apa maksudnya hyung?”

“ Pikirkan hal-hal yang pernah kalian lakukan bersama.”

Changmin terdiam, larut dalam kebingungan. “ apakah hal yang membuatmu mengingat orang-orang dirumah hyung?”

Donghae terdiam sejenak. Ia menerawang.

“ saat kupikirkan rumah, ada sesuatu yang istimewa. Kupikirkan tempat tidur ayunanku di halaman belakang. Dan istriku memangkas rimbunan mawar yang ada disitu, dengan sepasang sarung tangan bututnya.” Ucap Donghae.

“ malam itu, dua hyungku membangunkanku. Mereka mengatakan akan memberi kejutan untukku. Mereka mengajakku keluar, dan menyalakan kembang api.” Changmin mulai bercerita. Ia larut dalam ceritanya sendiri, tertawa dengan pengalaman lucunya dengan kakaknya. Changmin bercerita dan tertawa sangat lepas. Seakan menlupakan keadaan mereka ditengah perang. Donghae pun ikut tersenyum mendengar cerita Changmin yang sangat heboh.

“ Sangat indah, saat kau menyalakan kembang api di malam hari. Itulah terakhir kali kami bertiga bersama, besoknya kami pergi. Itu dua tahun yang lalu.” Changmin terdiam. Donghae pun begitu.

“ Ceritakan tentang istrimu dan bunga mawarnya Hyung.”

“ Tidak.” Mata Changmin membesar mendengar jawaban Donghae.

“ Yang itu buatku saja.” Ucap Donghae datar.

Hanya terdengar lantunan lagu indah dari radio yang dinyalakan Yunho. Semuanya terdiam. Sedetik kemudian suara bergemuruh datang dari arah utara.

“ Bubar. Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan.” Pekik kapten. Para tentara lalu berlari ke posisi masing-masing.

“ Changmin-ah, jangan jauh-jauh dariku.” Ucap Donghae.

Beberapa saat kemudian, ledakan dan suara peluru kembali memenuhi kota kecil tersebut. Pasukan musuh tampak lebih banyak dari yang diperkirakan.  Mobil tank melaju tanpa terhambat puing-puing bangunan, memudahkan musuh menerobos area itu. beberapa tentara telah gugur terkena tembakan maupun ledakan bom yang dilemparkan tentara komunis utara. Mereka terdesak, kalah jumlah oleh tentara musuh. Yunho tertembak di kepalanya, melihat hal itu, Donghae segera menarik tubuh Yunho.

“ Yunho-ah. Bertahanlah.” Donghae mencoba menutupi luka Yunho. Namun nampaknya sudah tak bisa, Donghae kembali meletakkan tangannya di dada Yunho namun tak ada lagi detak jantung. Donghae menangis.

“ Hyung, sepertinya kita harus mundur, kita terdesak.”

“ Changmin-ah, awas!!!” Donghae mendorong tubuh Changmin menjauh. Sebuah bom dijatuhkan tepat di dekat Donghae. Donghae terlempar. Dentuman bom itu seakan memecahkan gendang telinga Donghae. Sesaat kemudian ia mencoba bangun, namun entah kenapa, ia seakan tak bisa mendengar lagi. Pandangannya menjadi kabur. Semuanya terlihat berjalan lambat. Ia hanya bisa melihat kaptennya seakan berteriak, namun ia tak bisa mendengar hal itu. ia juga melihat Changmin yang mencoba berjalan kearahnya sambil berteriak, namun tetap Donghae tak bisa mendengarnya.

“ Yunho. . .” Ucap Donghae saat kembali melihat tubuh Yunho yang terkapar diatas puing bangunan.

Donghae terjatuh, ia sudah tak sanggup lagi mencoba untuk bangun. Hanya asap mengepul juga tentara yang terus menembakkan pelurunya.

“ Hyung, berlindunglah!” Changmin lalu menarik tubuh Donghae.

Donghae memandang Changmin yang sibuk menembaki musuh di depannya. Tak jauh dari tempatnya, ia melihat sebuah senjata di tanah. Donghae lalu bangun dan mencoba meraih senjata itu. ia merangkak untuk menggapainya.

“ Hyung, kau mau kemana? Hyung kembali kesini!!!” Teriak Changmin. Donghae tak mendengar, ia terus merangkak sampai akhirnya ia meraih senjata itu. Donghae berdiri dan mengarahkan senjata itu pada musuh. Detik berikutnya sebuah peluru memebus kulitnya hingga ke jantung.

“ Hyung!! Andwae!!” Teriak Changmin

Namun Donghae tetap menembakkan senjata itu. lagi sebuah peluru menghantam tubuhnya, hingga berkali-kali.. akhirnya Donghae tumbang.

Disaat yang bersamaan beberapa pesawat militer Korsel menghantamkan bomnya ke arah musuh sampai akhirnya mereka berhasil dipukul mundur.  Ratusan pasukan bantuan tiba dan menghabisi pasukan musuh. Pasukan musuh pun akhirnya bisa dikalahkan. Tentara musuh yang masih ada akhirnya menyerah.  Dan daerah itu kini telah dikuasai oleh tentara Korsel.

“ Hyung, bertahanlah! Medis!!” Teriak Changmin. Beberapa tentara medis pun berlarian ke arah Donghae. Mencoba menyelamatkan nyawa Donghae.

“ Changmin-ah, malaikat memihak pada kita.”

“ Ne Hyung.”

Tangan Donghae kembali bergetar. Ia kemudian meraih baju Changmin dan menariknya mendekat. Changmin pun mendekat.

“ Changmin-ah, ingatlah ini.” Ucap Donghae. Changmin memandang Donghae yang kini pucat karena banyak kehilangan darah.

“ Hyung. . .”

“ Ingatlah ini.” Ucap Donghae lemah.  Tangan Donghae yang sedari tadi bergetar kini tenang, tak bergerak sedikit pun. Changmin bangun dan menatap sedih pada Donghae. Air matanya mengalir, entah mengapa ia seakan tak bisa membendung kesedihannya, bahkan kali ini hatinya terasa sakit dibanding saat mengetahui bahwa kakaknya telah gugur. Ia terus memandang Donghae yang tak bergeming. Terduduk kaku.

Kapten datang dan memeriksa  dada Donghae, tak ada lagi detak jantung. Kapten lalu menatap Changmin yang kini berdiri, terdiam kaku di hadapan tubuh Donghae yang bersimbah darah.

30 mei 2010

Untuk Im Yoona

Jika sekarang kau masih membaca surat dariku, itu berarti aku sangat beruntung. Tapi bukan itu yang kuinginkan, satu-satunya yang paling kurindukan adalah pulang kerumah. Akhir-akhir ini kau mungkin menyadari di setiap aku menulis surat begitu banyak kata pulang. Kata pulang menjadi perwakilan dari seribu satu rasa yang tertuju pada kerinduan-kerinduaanku padamu.

Selamat ulang tahun Im Yoona, aku tidak tahu apakah sekarang masih ulang tahunmu ketika kau membaca surat ini, kuharap begitu. Atau setidaknya belum begitu banyak hari yang telah lewat. Aku akan pulang pada pertengahan musim panas, agar kita dapat duduk bersama-sama selama berjam-jam di peluncur, memandang ke laut lepas. Yoona, banyak sekali yang akan kita bicarakan. Penuh sanyang dariku, yang kadang-kadang menjadi sangat tertekan menghadapi peperangan yang telah berlangsung selama beberapa tahun.

Aku tidak pernah menyangka sore itu, adalah yang terakhir kali aku akan melihat matari tenggelam disampingmu, mengenggam erat tanganmu. Sekarang aku berada jauh disini, jauh darimu, jauh dari rumah. Ini bukan salahmu, bukan juga salahku. Kita hanya korban. Apakah pertentangan dua ideology harus mengorbankan begitu banyak saat-saat berharga. Aku sangat takut aku, Yunho, kangin, Changmin, dan kau hanya korban kekejaman liberal selatan dan komunis utara. Apakah salah jika kita menganut liberal? Apakah salah jika utara komunis? Aku pikir tidak. Kita semua memiliki kesempatan untuk memilih.  Mereka yang ingin terus berperang hanya mengabaikan itu, mengabaikan bahwa mereka harus pulang dan hidup tenang bersama orang-orang yang dicintai.

Dari aku, yang merasa telah memulai perjalanan pulang yang panjang.

***

Seoul, 8 Oktober 2011

Changmin berjalan memasuki sebuah pekarangan rumah yang cukup luas. Di tangannya sebuah kotak bertuliskan L.D.H. tak lama, ia menjumpai seorang wanita cantik tengah menyiram rimbunan mawar di halaman belakang. Tak jauh dari tempat wanita itu, sebuah ayunan tampak sesekali bergerak oleh angin yang semilir berhembus.

Changmin tak bersuara sampai wanita yang tengah menyiram bunga mawar itu akhirnya menyadari kehadiran Changmin. Wanita itu berbalik dan langsung menyunggingkan senyum manisnya sesaat setelah melihat Changmin. Namun Changmin lain, ia justru terdiam dan menatap iba wanita itu. perlahan senyum wanita itupun sirna setelah melihat kotak yang dibawa Changmin. Begitupun dengan sebuah kalung berbandul segi empat bertuliskan nama Lee Donghae. Perlahan air mata jatuh membasahi pipi mulusnya, tubuhnya terasa berat, ia pun terduduk lemas diatas rumput di halaman belakang rumahnya.

11 September 2010

Untuk Im Yoona

Aku telah menuliskan begitu banyak surat sebelumnya, dan inilah surat yang terakhir kutulis untukmu. Tetap kusimpan semua surat yang kutulis untukmu. Selama kutuliskan setiap baris surat ini dan yang lainnya aku akan selalu baik-baik saja, bagaimana denganmu? aku ingin mengirimkannya padamu namun aku tahu surat ini tidaklah cukup. Kata-kataku dingin dan datar, dan kau layak mendapatkan lebih dari itu.

Aku tidak pernah mengerti mengapa harus ada perang? Kau tahu semua orang di negeri ini meneriakkan perang terhadap utara. Apa mereka tidak sadar mereka telah memerangi saudara mereka sendiri.

Yah aku telah melanggar janjiku. Sudah dua tahun aku tidak pernah melihat wajahmu. Sudah selama itu aku ada disini. Aku merasa ini salah, aku sudah terlalu jauh darimu. Aku ingin pulang, aku ingin kembali kerumah. Tapi sepertinya peperangan ini tidak pernah membiarkanku untuk pulang.

Aku merasakan seperti bukan diriku, aku merasakan sedang menjalani kehidupan orang lain. Seolah aku tiba-tiba berada di suatu tempat setelah meninggalkan kehidupanku bersamamu yang baik-baik saja. Saat itu aku sadar, aku sudah betul-betul jauh darimu dan tak tahu kapan akan kembali bersamamu. Rasa rinduku betul-betul menyakitkan dada. Namun kau harus selalu percaya padaku bahwa aku akan pulang. Tidak malam ini, mungkin besok, lusa atau kapanpun itu, aku pasti akan berada dirumah.

Saranghae Im Yoona

Dari dalam hati orang yang begitu menyayangimu, Lee Donghae.

Air mata Yoona tak henti mengalir saat membaca surat demi surat yang ditulis Donghae. Ia tak pernah menyangka bahwa Donghae tidak akan pulang kerumah mereka. Yang ia tahu, sebelum Donghae pergi Donghae telah berjanji bahwa ia akan pulang. Dan Yoona mempercayai itu.

Changmin menatap Yoona dengan tatapan iba. Ia tak pernah menyangka akan bertemu dengan Yoona dengan membawa berita tentang kematian Donghae.

Changmin kembali teringat pembicaraannya dengan Donghae sesaat sebelum serangan. Ia seakan kembali mendengar suara lembut Kim Tae Woo menyanyikan lagunya  yang terdengar hari itu.

“ Changmin-ah, setelah misi ini kau akan pulang.”

“ Wae hyung? Aku masih ingin disini.”

“ Kedua hyungmu telah gugur. Apa yang akan dikatakan ibumu jika surat kematianmu pun datang padanya?” Changmin terdiam. Kedua kakanya telah meninggal?

“ Changmin-ah, jika kau pulang maukah kau membawakan semua suratku untuk istriku?”

“ Bukankah kau mengirimnya hyung?”

“ Belum. Aku belum mengirimkannya.”

Changmin menatap Donghae. Donghae tersenyum kecil pada Changmin.

“ saat kau tiba dirumahku, mungkin dia sedang ada di halaman belakang, menyiram bunga mawarnya. Kau juga bisa menikmati ayunan yang ada disana Changmin-ah.”  Donghae menatap Changmin sambil tersenyum.

“Katakan padanya untuk tidak mengkhawatirkanku, karena mungkin sebentar lagi aku akan pulang.”

“ Hyung. . .”

“ tidakkah kau merindukan untuk pulang kerumah?”

***

 

Yah itulah dia FF yang maksa banget sedihnya..T_T

Biarpun ini FF Yoonhae, tapi scene Yoonhaenya dikit banget, bahkan kayaknya gak ada yak. . .hahaha. . . mian. Aku cuman mau menggambarkan betapa tentara juga itu punya keluarga yang sangat mereka rindukan dirumah. Mereka juga pasti berat banget waktu ninggalin keluarga demi tugas mulia dari Negara. Aku juga kasian banget sama penduduk Korut sama Korsel, terutama cowoknya. mereka mau gak mau harus ikut wamil. Kenapa sih perang Korut sama Korsel gak pernah selesai, kasian masyarakatnya kan? Kasian cowok-cowok ganteng yang harus dibotakin buat jadi tentara *eh*. Jadi buat para tentara dimanapun berada, aku salut banget ama mereka… Merdeka!! *loh??*

Abis baca jangan lupa coment ya^^

mmm

Title     : Memento Part 4

Author : Kid Kaito

Cast     : Lee Donghae, Im Yoona , Oh Sehun, Jang Geunsuk, Jessica Jung

Genre  : Romance

Rating  : PG-15

Note    : Huaaaa. . . . Akhirnya comeback juga. Gak mau kalah sama SNSD eonni, mereka comeback, saya juga comeback! HOHOHO. . . udah lama banget gak posting, jadi saya dengan formal mau minta maaf ama readers yang udah lama nungguin postingan dari blog saya, itu juga kalo ada yang nunggu. . .hehehe. mian chingu lama banget baru post sambungan FF ini, soalnya gak ada kesempatan buat nuangin imajinasi dalam bentuk kata-kata, dan alhasil terbengkalailah FFku sekian lamanya. . . sekali lagi mian J.. saia akan berjuang mudah-mudahan lanjutan FF ku yg satu juga cepet kepublish J selamat membaca~~~ *Semoga nggak ngecewain readers semua^^ Oh ya, ampe lupa ngucapin HAPPY NEW YEAR^^

MEMENTO

“ Noona, rajin minum obatmu ya, supaya noona cepat sembuh.” Ucap Sehun sambil memperbaiki posisi ranselnya. Ia, Yoona dan Donghae kini berada di depan pintu.

“ Sehun-ah, haruskah kau pergi sekarang?” Ucap Yoona dengan nada memelas. Sehun tersenyum mendengar ucapan noona-nya.

“ kalau saja kuliahku tidak mendesak, aku pasti akan lama-lama disini.”

Yoona makin cemberut mendengar perkataan Sehun. Maklum, kedua bersaudara ini baru saja bertemu setelah sekian lama terpisah. Yoona juga merasa sangat aman jika ada Sehun di rumahnya yang besar, menemaninya bicara saat Donghae saat tidak ada. Tiga hari Sehun di rumah Yoona sungguh waktu yang berharga. Namun sekarang, saat Yoona benar-benar butuh seseorang untuk tempatnya bercerita, Sehun harus pergi.

“ Kalau noona kesepian, telepon saja aku.” Ucap Sehun sambil menyunggingkan senyumnya. Yoona mengangguk sambil tersenyum.

“ Hyung, jaga noona-ku baik-baik.” Ucap Sehun pada Donghae yang berdiri di samping Yoona. Donghae mengangguk mengiyakan.

“ Noona, aku pergi.” Ucap Sehun masih mengenggam tangan Yoona hendak melangkahkan kakinya.

“ Sehun-ah.”

Sehun tersenyum lalu memeluk hangat tubuh Yoona. Yoona merasakan ketenangan dengan memeluk Sehun adiknya. Ia merasa benar-benar aman. Ia bahkan tidak merasa seaman dan senyaman ini saat memeluk Donghae, terutama setelah kejadian kecelakaan.

Perlahan Sehun melangkahkan kakinya meninggalkan Yoona dan Donghae. Yoona menangis melihat Sehun yang semakin lama semakin menghilang di pandangannya.

*******

Yoona sedang duduk di kamarnya membaca novel saat Donghae tiba-tiba membuka pintu kamar. Donghae tersenyum sambil melangkah mendekati Yoona. ia kemudian duduk tepat di depan Yoona. ditaruhnya novel itu.

Dibelainya rambut dan wajah Yoona yang masih berbekas luka. Tanpa kata, Donghae langsung mencium lembut kening Yoona, kemudian Donghae kembali tersenyum.

“ Oppa, wae?”

“Sayang, kau harus berjanji untuk lakukan apa yang akan oppa katakan.”

Yoona memiringkan kepalanya tanda bingung. Ia sama sekali tak mengerti perkataan Donghae. Namun melihat wajah Donghae yang begitu serius, akhirnya ia mengangguk.

“Yoona,  Apapun yang orang lain tanyakan tentang aku dan rumah tangga kita, katakanlah sesuai kata hatimu, namun kau harus tahu, aku sangat mencintaimu.” ucap Donghae serius. Sementara Yoona hanya menunjukkan ekspresi bingung.

Yoona POV

Kenapa Donghae oppa tiba-tiba berkata seperti itu? Bahkan ia menggunakan kata “aku” bukan “Oppa” untuk menyebut dirinya, tidak pernah ia melakukan hal seperti itu. Sebenarnya apa yang terjadi?

“ Yoona. . .” panggilnya lirih. Aku memandang matanya dalam mencoba mengartikan tatapannya, namun semakin lama aku memandangnya aku semakin tak bisa menangkap arti dari tatapan itu.

Ia mengenggam tanganku lembut seraya menatapku lembut, bisa kurasakan kasih sayang disetiap tatapannya.

“ jangan biarkan orang lain membuatmu bingung sayang, percayalah pada apa yang hatimu katakan karena disitulah jawaban yang kau cari.” Ucapnya lembut. Jujur saja aku sangat bingung dengan sikap Donghae oppa, tiba-tiba datang dan berbicara seperti itu. Tak bisa kupungkiri bahwa Donghae oppa telah membuatku sangat kecewa dan sakit hati yang teramat sangat, namun aku pikir apa yang dilakukannya kali ini cukup membuatku kaget.juga caranya menyebut dirinya dengan kata “aku” membuatku merasakan jarak satu jengkal dibanding jika ia menggunakan kata “oppa” seperti yang selalu ia lakukan selama ini.

“ Oppa, ada apa sebenarnya?” Tanyaku bingung. Ia masih menggenggam tanganku. Kulihat ia menarik nafas panjang sebelum berucap.

“ Ada yang ingin bertemu denganmu sayang.” Ucapnya pelan, ekspresinya datar sama seperti saat aku menanyakan tentang Jessica.

“ Nugu?” tanyaku.

*****

Donghae oppa membopongku menuruni tangga, jika aku yang berjalan sendiri pasti akan sangat lama karena luka dikakiku cukup parah dan butuh proses yang lama untuk sembuh, aku masih harus menggunakan tongkat untuk itu.

Diruang tengah kulihat seorang pria dengan stelan jas tengah duduk sambil memperhatikan foto yang tertata di meja. Melihat kedatanganku dan Donghae oppa, ia langsung berdiri dan menatapku dengan senyum. Kulirik Donghae oppa sekilas, rahangnya mengeras karena menekan giginya seperti orang yang sangat marah. Ada apa sebenarnya? Siapa orang yang kini berdiri di ruang tengah?

Donghae oppa mendudukkanku di sofa, tepat disamping orang tadi duduk.

“Annyeonghaseyo.” Ucap pria di depanku sambil membungkukkan badannya.

“ Annyeonghaseyo.” Balasku sambil membukkan badan. Kutatap penampilan orang di depanku ini dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dia adalah seseorang dari kepolisian, penampilannya mengatakan hal itu.

“ Perkenalkan saya Jang Geun Suk, anggota dari kepolisian Seoul.” Ucapnya tersenyum padaku. Namun dari caranya memperkenalkan diri, bisa kubayngkan bawa dia adalah orang yang liicik dan nekad menggunakan segala cara agar ia mendapatkan apa yang dia mau. Enta kenapa aku berpkir begitu.

“ Dongahae pasti telah bercerita padamu tentang aku. Aku juga tela mengikut perkembangan keadan anda sejak kecelakaan. Oleh karena itu, saya akan  memberikan beberapa pertanyaan yang arus anda jawab nyonya Lee.” Ucapnya angkuh.

Aku mengenggam erat tangan Donghae oppa. Kutatap matanya, ia balik menatapku dan seakan berkata “Tidak apa-apa, kau tenanglah.”

“ Bagaimana Nyonya Lee, bisa kan?”

Donghae oppa mengangguk kecil supaya aku mengiyakan permintaan Jang Geunsuk.

“ Gwaencanha.” Ucap Donghae oppa pelan sambil memegang pundakku, aku sedikit tenang mendengar ia mengatakan hal seperti itu.

Aku menatap Jang Geunsuk. Apa sebenarnya yang diinginkan pria ini? apakah da bermaksud jahat terhadap aku dan Donghae oppa?

“ Yoona-ssi?” Ucapnya lagi. Aku sedikit mengangguk mengiyakan tawarannya. Kulihat dia tersenyum dengan penuh kemenangan. Sesaat kemudian, ia beralih menatap kea rah Donghae oppa, dari wajahnya ia mengisyaratkan sesuatu pada Donghae oppa, namun aku tidak bisa mengartikannya.

“ Sayang, sepertinya orang ini tak menginginkan oppa mendengar pembicaraan kalian. Jadi oppa hanya akan melihat dari luar.”

“ Oppa. . .”

“ Gwaencanha.” Donghae pun meninggalkan mereka berdua.

“ Jadi Yoona-ssi, aku harap kau tidak terlalu tegang karena kita hanya akan membicarakan hal-hal yang sederhana saja.” Ucap Jang geunsuk. Ia tersenyum namun senyumannya itu membuatku muak. Ia bertingkah seolah-olah dialah yang paling pintar.

“  Apa yang kau inginkan?”

Jang geunsuk kembali tersenyum sinis.

“ Aku mengatakan ini sebagai kerabat yang ingin agar kau hidup tenang.”

Mwo? Apa katanya? Kerabat? Bagaimana bisa ia mengatakan kerabat di saat pertama kali bertemu? Dan apa sebenarnya yang ia bicarakan? Ingin hidupku tenang?

“ Aku sudah lama mengenal Donghae, dan aku pikir kau harus berhati-hati padanya Yoona-ssi.”

“ Mwo? Apa maksudmu?” Ucapku emosi. Ia langsung tertawa mengejek melihat reaksiku.

“ Aku harap pembicaraan kita lebih santai oke. “ ia mengucapkan kalimat itu sambil membuka kedua tangannya yang membuatnya terlihat semakin angkuh dan menjengkelkan.

“ Tentunya Donghae telah memberitahumu tentang kejadian yang menimpa istrinya dulu kan? Kejadian yang membuat Jessica  meninggal.”

Aku menatapnya dengan tatapan bingung. Apa sebenarnya yang diinginkan pria di depanku ini? kenapa ia sampai membahas tentang Jessica?

“ Kau tahu itu kan?” Ucapnya lagi.

“ Dia meninggal karena kecelakaan, dan itu bukan karena Donghae oppa.” Ucapku emosi. Aku sudah tahu bahwa dia akan memancingku untuk mengikuti permainannya.

“ Tenang Yoona-ssi. Aku tidak datang kesini untuk menuduh bahwa suamimu adalah pembunuh. Aku hanya ingin mengetahui kenapa mobil yang kau tumpangi bersama Donghae sampai mengalami kecelakaan.”

Aku terdiam mendengar perataan pria di depanku ini. Aku kembali teringat hari itu, hari dimana aku hampir tebunuh.

“ Apakah terjadi pertengkaran sesaat sebelum mobil kalian kecelakaan?” Ucapnya lagi. Aku terdiam. Jujur saja, aku sangat tidak ingin mengingat hari itu. aku lalu menggeleng kecil menjawab pertanyaan Jang Geunsuk. Sepertinya sikapku itu bukanlah jawaban yang diinginkannya.

“ Lalu apa? Apa yang terjadi?” Ucapnya dengan nada memaksa.

“ Tidak terjadi apa-apa. Itu hanya kecelakaan biasa.” Ucapku ragu-ragu.

“ ayolah Yoona-ssi, kau harus mengatakan yang sebenarnya. Mengapa kalian sampai kecelakaan?” Ucap Jang Geunsuk setengah berteriak. Ia memaksaku kembali mengingat hari itu. aku sangat membenci hari itu, mengingat hari yang paling menyakitkan itu, mengingat saat-saat mobil kami menabrak sesuatu yang sangat keras, mengingat Donghae oppa yang berubah dan seakan-akan bukan orang yang aku kenal.Seketika aku meresakan kembali pada hari itu, tubuhku menggigil, suara aneh yang entah darimana asalnya, aku  merasakan sulit untuk bernafas, dan bau darah membuat kepalaku pusing. Aku memegangi dadaku yang terasa sangat sakit.

“ Yoona-ssi, waegeurae?” tanya Geunsuk melihatku yang kesakitan.

“ Yoona-ssi.” Kulihat dia panik melihatku. Aku terus memegangi dadaku, dan kurasakan tak ada udara disekitarku, aku tak bisa bernafas. Aku tersengal-sengal mencoba bernafas. Dan penglihatanku semakin gelap. Aku mencoba menggapai semua yang ada di depanku berharap bisa kembali merasakan udara disekitarku, namun justru aku semakin sulit bernafas. Wajah Jang Geunsuk yang kebingungan semakin lama semakin kabur di pandanganku seiring dengan keringat yang mengalir dari keningku. Tiba-tiba kurasakan seseorang menarikku kedalam pelukannya. Dan seketika bisa kurasakan aroma tubuhnya yang khas seoarang pria. Ia memelukku  mencoba menenangkanku. Entah apa yang terjadi,  perlahan aku mulai bisa merasakan udara di sekitarku, sampai aku kembali bernafas dengan normal. Kurasakan ia mengecup keningku sembari tetap memelukku hangat, menyandarkan kepalaku di dada bidangnya. Bisa kurasakan detak jantungnya yang sangat cepat, mungkin karena kaget melihatku yang tiba-tiba sakit. Namun jujur, saat ini aku sangat merindukan pelukannya yang hangat dan tulus. Pelukan yang sudah lama menghilang di depan mataku.

“ Donghae oppa.”

End Yoona POV

*****************

Flashback

Yoona POV

Semakin lama aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan rumah kami. Terlebih dengan menghilangnya semua hal yang berhububungan dengan Jessica. Aku tidak bermaksud mengungkit-ungkit kisah masa lalu Donghae oppa, tapi aku hanya benar-benar tahu seperti apa Jessica yang pernah dicintai oleh suamiku. 3 bulan adalah waktu yang cukup untuk menanyakan tentang Jessica pada Donghae oppa, tapi entah kenapa setiap sudut dirumah ini seakan-akan memadangku saat aku ingin menanyakan tentang hal itu, seolah-olah meciptakan mengatakan bahwa rumah ini bukan rumahku.

Donghae oppa sedang sibukmemeriksa file-file kantornya saat aku masuk ke ruang kerjanya. kuhampiri dan kupeluk ia dari belakang.

“ Sayang, apa yang kau lakukan? Kau mau menggodaku ya??” Ucapnya saat aku memeluknya.

“ Aniyo.” Ucapku menggeleng.

“ Lalu?” aku mengecup lebut lehernya. Kemudian aku melangkah dan berdiri di depannya yang duduk di kursi kerja. Ia lalu menarikku untuk duduk diatas pangkuannya.

“ Yoona sayang, kau sangat cantik.” Ucap Donghae oppa lembut. Aku lalu mengelus lembut wajahnya. Sesaat kemudian ia menarik daguku dan mengecup lembut bibirku. Ia memagutnya dalam seolah-olah menikmati manisnya permen. Aku pun membalas ciumannya, kulingkarkan tanganku dilehernya menikmati perlakuannya. Cukup lama kami berciuman sampai akhirnya aku melepaskannya karena hamper kehabisan nafas.

“ Yoona, bibirmu sangat manis. Membuatku selalu ingin merasakannya.”

“ Mwo?”

Donghae oppa hanya tersenyum mendengar perkataanku.

“ Emm… oppa.”

“ Wae?”

“ aku sudah sangat lama tidak berkunjung ke apartemenku. Pasti sudah banyak debu.”

“ Lalu?”

“ Bagaimana kalau kita menginap disana beberapa hari.”

Donghae oppa terlihat berpikir saat aku mengatakannya.

“ Tapi kalau oppa tidak mau. . .”

“ Baiklah, kita akan menginap di apartemenmu sampai tiga hari kedepan.” Ucap Donghae oppa memotong kalimatku.

“ Jeongmal?”

Donghae oppa mengangguk mengiyakan. Aku lalu memeluknya erat.

“ Eits, tunggu dulu. Oppa punya syarat yang harus kau penuhi.”

“ Aku melepaskan pelukanku karena kaget dengan ucapannya.

“ Syarat apa?” Tanyaku bingung. Ia kemudian tersenyum nakal. Aku tahu apa yang ia inginkan.

“ Kau akan tahu sayang.” Donghae oppa lalu mengangkat tubuhku menuju kamar dan kemudian menguncinya. Dan setelah itu. . . *Hohohohoho*

~~~Next Day~~~

Aku memencet  memencet tombol untuk memasukkan password apartemenku. Sesaat kemudian pintu apartemen terbuka. Debu langsung bertebaran menyambut kehadiran kami. Maklum, tiga bulan ditinggalkan pasti akan membebaskan kotoran dan hewan kecil berkembang biak.

“ sayang kau pakai ini agar kau tidak menghirup debu.” Ucap Donghae oppa seraya memberikan sapu tangannya.

“ Kotor sekali.” aku bergumam sendiri

“ Sepertinya oppa harus bekerja keras hari ini.”

“ Wae?” tanyaku bingung.

“ Untuk membuat apartemen ini bersih agar istriku bisa tidur nyenyak.” Ucapnya yang seketika membuat pipiku merona merah.

Dan siang inipun kami habiskan untuk membersihkan apartemenku, yang baru selesai saat matahari kembali terbenam. Selesai bersih-bersih dan makan malam, kami berdua yang kelelahan akhirnya bisa menikmati waktu istirahat.

“ Ceritakan tentang dia oppa.”

“ Mwo?” Ucap Donghae lembut oppa sambil terus mengelus rambutku

“ Jessica.”

Kini aku berani bertanya langsung pada Donghae oppa, disini di apartemenku yang jauh dari rumah Donghae oppa, jauh dari rumah Jessica dulu. Disini diatas tempat tidurku, bukan tempat tidur yang dulu ditiduri oleh Jessica.

Kulihat Donghae oppa sedikit kaget mendengar pertanyaanku, namun wajahnya tak begitu berekspresi, sungguh sulit menangkap arti dari ekspresinya sekarang.

“ Untuk apa? “Ucapnya datar.

“ Ayolah oppa, aku hanya ingin tahu seperti apa dia.”

Lagi air muka Donghae oppa berubah, namun kali ini aku tetap tidak bisa membaca arti dari ekspresinya.

“ Yoona, aku belum selesai bertanya tentang sekolahmu dulu.” Ucap Donghae oppa mencoba mengalihkan pembicaraan.

“ Oppa, aku ingin tahu tentangnya.”

“ Yoona. . .”

“ Maukah kau menceritakan tentang dia, tentang istrimu dulu?”

“ Yoona Jebal, jangan memintaku untuk menceritakan tentang dia.”

“ Oppa, aku istrimu sekarang. Bukankah seorang istri berhak menanyakan tentang masa lalu suaminya?” Ucapku tegas. Sepertinya Donghae oppa mengerti perasaanku.

“ Dia sangat cantik kan oppa?”

Donghae oppa menatapku dengan tatapan bingung, seolah-olah berkata ‘dari mana kau tahu?’

“Aku pernah melihat fotonya.” Ucapku tersenyum. Ia kemudian menatapku dengan mata cokelatnya yang teduh. Tatapannya teduh dan dalam, sedalam hatinya yang tidak akan pernah aku tahu isinya, sedalam memori masa lalu yang tidak akan pernah aku ketahui.

“ Oppa, tidak ada istri yang tidak akan merasa sakit jika menanyakan tentang kehidupan suaminya dengan istri terdahulunya. Seandainya semuanya bisa diatur ulang, aku tidak akan pernah mau menjadi istrimu yang kedua, menjadi yang kedua dihatimu. Tapi oppa, aku mohon, jangan membuatku bertanya-tanya sendiri.jeongmal saranghaeyo oppa, dan aku tahu kau pun begitu padaku, namun tak bisa dipungkiri, kau pernah sangat mencintai wanita lain. Dan aku hanya ingin tahu seperti apa dia, seperti apa wanita yang menjadi pemilik hatimu dulu.” Ucapku panjang lebar. Kulihat Donghae oppa tersenyum kecil padaku.

“ Donghae oppa. . .” Ucapku lembut mencoba membuatnya bercerita.

“ Jessica Jung. . .” Satu kata yang terlontar dari mulut Donghae oppa. Entah mengapa caranya menyebut nama itu terdengar sangat lembut dan penuh kasih sayang. Mungkin saat kau kecil dulu, ibu yang sangat menyayangimu akan sering memanggilmu dengan nada yang penuh kasih sayang, dan kau sangat menyukainya. Ya, seperti itulah yang kudengar dari Donghae oppa. Ia mengucapkan nama itu dengan penuh rasa cinta yang meluap, mungkin ini agak konyol namun aku bisa merasakan itu. cinta seorang lelaki pada kekasihnya yang sangat ia sayangi. Satu kata itu saja sudah menimbulkan rasa sakit di ulu hatiku, entah kenapa. Jujur, aku suka dengan sikap romantis dan penuh kasih sayang dari oppa, namun sekarang, aku tidak suka ia bersikap seperti itu.

“ Jessica, dia gadis yang sangat manis. Dia akan selalu membuatku jatuh cinta walau hanya dengan melihatnya. “ Ucapnya lembut sambil tersenyum kecil yang menurutku sangat manis, tapi sungguh hatiku sangat sakit saat dia berkata seperti itu.

“ ia memiliki mata boneka, Rambutnya panjang terurai. jika baru berkenalan dengannya, dia terkesan tidak bersahabat, namun jika sudah mengenalnya. . . dia ternyata sangat manis, sangat perhatian pada orang yang dekat dengannya.” Ucap Donghae oppa penuh kebanggaan seolah-olah memamerkan sesuatu yang sangat berharga baginya. Sebegitu besarnyakah cinta Donghae oppa pada Jessica? Sebegitu sempurnanyakah Jessica sebagai istri Donghae oppa? Pertanyaan yang bermunculan di kepalaku.

“ Tapi, dia sangat manja dan mudah menangis. Dia sangat sering bersikap seperti anak kecil didepanku.” Ucap Donghae oppa terkekeh. Sepertinya ia sangat bahagia hidup bersama Jessica, dengan hanya mengingat Jessica ia terlihat sangat bahagia. Membuat Jessica semakin sempurna dimataku sebagai istri Donghae oppa. Setiap hal manis tentang Jessica yang keluar dari mulut Donghae oppa bagaikan pisau yang sangat tajam mengiris-iris hatiku. Ya, hatiku sangat sakit mendengar Donghae oppa membanggakan istrinya yang dulu,  aku cemburu pada Jessica namun entah mengapa aku sama sekali tak merasa marah pada Jessica, justru aku kagum pada Jessica yang membuat Donghae oppa begitu mencintainya.

Masih bisa kulihat senyum kecil tersungging di bibirnya. Dan jujur saat ini, ia terlihat begitu asing untukku. Ia seperti bukan Donghae oppa yang aku kenal. Ia seakan-akan bukan Donghae oppa yang menyatakan cintanya padaku setiap hari. Seperti bukan Donghae oppa yang melamarku malam itu, bukan Donghae oppa suaminku,  melainkan orang lain. Lelaki lain yang tiba-tiba saja bersamaku. Lelaki lain yang sangat mencintai kekasihnya. lelaki yang setiap saat memberikan pelukan hangat untuk wanita yang ia sangat sayangi. Lelaki yang telah menjadi suami orang lain.

“ Kau sangat mencintainya kan oppa?” Tanyaku tiba-tiba. Donghae oppa langsung memandangku dengan tatapan bingung. Aku balik menatap mata cokelatnya dengan senyum.

“ Keundae, mengapa dia sampai meninggal oppa.” Tanyaku. Kulihat Donghae oppa kembali tak berekspresi kemudian menerawang.

Perlahan Donghae oppa terlihat seperti orang yang sangat berduka. Wajahnya menjadi murung dan seakan-akan tidak pernah menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Ia mendesah dalam karena hendak mengatakan sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan baginya.

“Dia selalu saja memakai celana kepanjangan dan selalu berlari menuruni tangga. Aku sudah sering memperingatkannya untuk tidak melakukan hal seperti itu lagi, tapi sepertinya ia tidak bisa. Sampai suatu hari, dia terjatuh dari tangga. Dia terguling-guling sampai kebawah. Lehernya patah dan meninggal saat itu juga.” Ucap Donghae oppa datar.

Mendengar penjelasan Donghae oppa membuatku ngeri sendiri membayangkan apa yang terjadi pada Jessica.

“Tidak lama setelah ia jatuh, aku menemukannya di kaki tangga. Karena sangat kaget, aku langsung memeluknya dan memohon-mohon supaya ia hidup kembali. Aku menangis sangat keras waktu itu. Aku terus memeluk tubuhnya sampai aku tersadar bahwa polisi belum melihat hal ini dan aku telah menghancurkan TKP.”

Donghae oppa terus bercerita tak berekspresi. Bisa kubayangkan betapa sedihnya Donghae oppa saat itu. Aku bertaruh Donghae oppa sempat memikirkan untuk bunuh diri, mungkin. Melihat perasaan cintanya yang sangat dalam pada istrinya itu.

“ Karena hal itu, sampai sekarang polisi masih terus mencurigaiku membunuh istriku sendiri. Sungguh sangat bodoh. Bagaimana aku bisa membunuh istriku sendiri? Sangat bodoh…sangat bodoh…” Donghae oppa terus mengulang perkataannya.

“ Oppa. . .” Aku memeluk Donghae oppa. Aku tidak mau membuatnya mengingat kejadian yang sangat memilukan baginya. Aku tidak akan pernah menanyakan tentang Jessica lagi. Mungkin sekarang aku akan memulai untuk bersyukur karena telah menjadi istri dari orang yang sangat kuncintai, begitupun perasaannya padaku seperti yang selalu ia katakan bahwa ia hanya mencintai seorang wanita saat ini, aku. Namun mungkin aku butuh banyak waktu atau selamanya untuk bisa melupakan kenyataan bahwa Donghae oppa pernah memiliki seorang istri yang sangat ia cintai dulu, atau mungkin perasaannya masih ada sampai detik ini. Siapa yang tahu?

End Yoona POV

End Flashback

*************

Donghae membaringkan Yoona di tempat tidur. Kejadian tadi membuatnya agak shock, melihat Yoona yang tiba-tiba sakit. Ia mengusap-usap lembut rambut Yoona. Melihat Yoona yang tertidur,Donghae kemudian hendak beranjak dari tempat tidur.

“ Oppa. . .”  Yoona memanggil dengan suara yang lirih membuat Donghae mengehentikan langkahnya. Seketika Donghae membalikkan badannya dan kembali duduk di tepi tempat tidur.

“ Wae?” Tanya Donghae lembut.

“ Oppa, mengapa kau biarkan pria itu datang kerumah kita?” Ucap Yoona tegas. Donghae terlihat kaget dengan pertanyaan Yoona. Donghae terdiam, seakan-akan ada sesuatu yang menahannya untuk berbicara.

“ Wae oppa? Mengapa kau barkan polisi itu datang??” Yoona mulai menangis, jujur hatinya sangat sakit saat Jang Geunsuk berbicara soal Donghae dan seakan-akan menuduhnya sebagai kriminal.

“ Oppa. . .” Ucap Yoona dengan air mata yang mengalir di pipinya.

“ Yoona. . .” Donghae hendak menggengam tangan Yoona namun segera ditepis oleh Yoona.

“ Oppa, jawab oppa. Mengapa kau membiarkan orang itu datang dan berkata yang tidak-tidak terhadapmu, tidakkah oppa marah pada orang itu?”

Mata Donghae mulai memerah, ia menahan air matanya.

“ Dia membicarakanmu oppa, dia menyuruhku untuk membencimu, dia menyuruhku untuk meninggalkanmu. Mengapa kau tidak berbuat apa-apa?”

Donghae masih diam, hanya terus memandang kedalam mata Yoona.

“ Dia seakan-akan menuduhmu menjadi penyebab kematian Jessica, dan aku hampir mempercayainya.”

“ Aku tahu.” Ucap Donghae yang membuat Yoona kaget. Mengapa Donghae tiba-tiba saja bersikap seolah-olah menerima semua tuduhan yang dikatakan oleh Jang Geunsuk?

“ Oppa. . . mengapa kau tidak marah padaku? Harusnya kau tidak membiarkanku untuk mempercayanya. Oppa, waegeurae?” Ucap Yoona emosi. Air matanya tak berhenti mengalir.

“ Mianhe. Oppa sudah menceritakan padamu tentang Jessica, dan jika sekarang kau percaya pada ucapan Jang Geunsuk…itu hak mu.” Ucap Donghae datar. Mata Yoona membesar karena heran dengan sikap Donghae yang seolaholah tak peduli. Dan justru hal itu yang membuat Yoona takut, takut menerima kenyataan bahwa memang apa yang dikatakan Jang Geunsuk adalah benar.

“ Oppa. . . apa sebenarnya yang kau sembunyikan dariku??” Ucap Yoona hati-hati.

“ Tidak ada yang kusembunyikan darimu sayang.”

“ Bohong! kau bohong oppa. . . kau tidak pernah membuka hatimu untukku oppa. Tidak untukku istrimu sendiri, atau mungkin kau belum sadar kalau aku adalah istrimu?”

“ Yoona.” Ucap Donghae tegas. Ia kaget dengan semua ucapan Yoona.

“ Wae? Memang benar kau tidak membuka hatimu untukku. Kau menyimpan semua maslahamu sendiri dan tak pernah membiarkanku mengetahuinya.”

“ Oppa sudah memberitahukan semuanya padamu Yoona, bahkan semua tentang Jessica. Apa lagi yang kau inginkan?”

“ Kejujuran oppa.”

“ Kejujuran? Kejujuran apa lagi?”

“ katakan padaku apa yang terjadi sesaat setelah kecelakaan.”

Donghae tercekat. Ia sama sekali tak bisa berucap. Permintaan Yoona terasa sangat berat baginya. Ia menunduk tak bisa berbuat aa-apa.

“ Apa yang terjadi oppa?” Ucap Yoona menangis.

Donghae menarik nafas dalam. Ia mencoba berucap namun terasa sangat berat.

“  Oppa. . .”

“ Tidak ada. Tidak ada yang terjadi sayang.” Ucap Donghae lembut. Ia kembali menatap Yoona dan mengenggam erat tagan istrinya itu.

Jawaban Donghae justru membuat hati Yoona semakin sakit. Ia menangis, menagisi rumah tangganya yang tak lagi dilandasi kejujuran. Menagisi sikap Donghae yang masih tak berubah.

**********

Pagi itu Yoona terlihat duduk di balkon kamarnya. Ia nampaknya sedang menikmati angin pagi setelah akhir-akhir ini mengalami hari-hari yang berat. Ia menghirup dalam udara pagi sambil memejamkan matanya. Sesaat kemudia Donghae Nampak datang menghampirinya. Donghae lalu berjongkok di depan kursi Yoona. Donghae mengenggam tangan Yoona lalu mengelusnya lembut. Donghae merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi pada Yoona akhir-akhir ini.

“ Yoona, maafkan oppa atas kejadian kemarin.” Ucap Donghae lirih. Yoona tak bergeming. Bahkan melihat ke Donghae pun tidak.

“ Oppa harus ke kantor hari ini.” Ucap Donghae pelan. Yoona tak menoleh, ia masih asyik menatap pemandangan di depannya. Donghae mengehembuskan nafasnya berat.

“ Apa kau…” Ucapan Donghae terputus. Yoona lalu menatap Donghae.

“ Sayang, apa kau yakin tidak butuh pembantu untuk menemanimu?”

“ Aniyo. Aku baik-baik saja.” Ucap Yoona datar. Donghae lalu menoleh pada tongkat yang ada disamping Yoona. Ia membayangkan Yoona yang pasti akan kesusahan berjalan menggunakan tongkat itu mengingat kaki  Yoona yang masih belum sembuh pasca kecelakaan. Mana mungkin Yoona akan baik-baik saja? Pikir Donghae.

“ Kau yakin?” Tanya Donghae. Yoona dengan cepat mengangguk.

“ Aku bisa sendiri oppa, kau tidak usah mengkhawatirkan aku.” Ucap Yoona datar. Donghae agak sedikit kaget mendengar ucapa Yoona yang seolah-olah tidak perduli dengan dirinya yang mengkhawatirkan Yoona. Namun Donghae harus mengerti keadaan Yoona. Ia tahu Yoona butuh waktu yang lebih untuk kembali menenangkan dirinya.

“ Baiklah, tapi kalau ada apa-apa cepat hubungi oppa. Oke.” Yoona hanya mengangguk pelan. Donghae lalu mengecup lembut kening istrinya. Donghae perlahan pergi meninggalkan Yoona yang masih duduk di balkon. Sesaat kemudia ia mobil Donghae melaju meninggalkan rumah, Yoona menatap mobil Donghae yang perlahan-lahan menjauh dari pandangannya. mobil yang baru saja dibeli oleh Donghae setelah mobil yang lama Donghae rusak parah saat kecelakaan. Mobil yang hampir membawanya ke mulut maut. Ia masih ingat betul bagamana Donghae bersikeras menggunakan mobilnya saat hari kecelakaan itu.

Flashback

Yoona POV

Sudah tiga hari aku dan Donghae oppa menginap di apartemen kecilku. Sejak awal aku mengira Donghae oppa akan banyak mengeluh jika harus hidup di apartemen kecil mengingat latar belakang keluarganya yang berasal dari kalangan berada, mana mungkin ia ingin hidup di sebuah apartmen biasa. Tapi ternya ta aku salah besar, ia justru tidak pernah mengeluh bahkan berkomentar sepatah kata pun tidak pernah. Namun sikapnya akhir-akhir ini semakin aneh. Sepanjang hari sepulang kerja pasti ia hanya menghabiskannya dengan melamun. Bahkan jika aku bertanya oppa hanya menjawab dengan jawaban seadanya. Sejenak aku berpikir bahwa ia sangat berubah dengan Donghae oppa yang aku kenal selama in. ia tiba-tiba menjadi pendiam dan pemurung seakan-akan memikirkan sesuatu yang sangat berat. Dan aku sangat mengingat sikapnya berubah setelah aku menanyakan soal Jessica padanya. Apakah benar-benar hal itu yang membuatnya berubah? Apakah tindakanku salah mengungkit cerita masa lalunya? Entahlah yang pasti aku tidak suka dengan Donghae oppa yang seperti ini.

Malam ini, kulihat Donghae oppa hanya duduk diam diatas tempat tidur. Bahkan ia sama sekali tak membuka lembaran buku yang dipegangnya. Ia hanya menerawang entah apa yang dia pikirkan. Dan, ya Tuhan mengapa matanya berkaca-kaca? Apa sebenarnya yang terjad padanya? Kudekati ia, kemudian kudekap Donghae oppa. Ia tak membalas.

“ Oppa, Waegeurae?” Tanyaky hati-hati. Jujur saja walaupun kami memang pernah menjalin kasih sebelum menikah, tapi aku belum pernah menemui Donghae oppa yang seperti ini.

Ia menarik nafas berat. Sangat kentara bahwa ia menahan sesuatu yang sangat berat di dadanya.

“ Oppa. . .” Kupanggil lagi.

“ Aku sangat lelah.” Ucapnya dingin.

Ia kemudian menatapku dengan tatapan heran. Namun sesaat kemudian ia tersenyum tipis kepadaku.

“ Kau tidurlah.” Ucapnya pelan. Ia kemudian mengelus lembut rambutku lalu mencium keningku. Sungguh ia kembali seperti Donghae oppa yang aku kenal selama ii. Sebenarnya ada apa dengannya? Tadi bersikap sangat dingin dan sekarang tiba-tiba berubah seperti ini.

Jessica. . .

Jessica. . . Jessica. . .

Samar-samar aku mendengar nama itu. sepertinya aku bermimpi. Kubuka mataku, kulihat jam masih menunjukkan jam 2 pagi. Tapi nama itu tadi sangat jelas ditelingaku. Apa aku bear-benar bermimpi? Tapi mengapa nama Jessica.

“ Jessica. . . Jessica. . .”

Nama itu. kupalingkan pandanganku pada Donghae oppa yang tertidur disampingku. Apakah dia yang mengucapkannya tadi? Aku bangun dan menatap Donghae oppa yang tertidur.

“ Jessica. . .” Di depan mataku jelas-jelas dia mengucapkan nama itu dalam tidurnya. Tanpa terasa air mataku jatuh membasahi pipku. Mendengar suamimu mengucapkan nama mantannya itu sangat sakit, apalagi dalam tidurnya, saat ia mengigau dan mengucapkan namanya, itu sangat menyakitkan. Aku menangis sambil memandangi Donghae oppa yag tertidur. Dadaku sangat sakit, rasanya hatiku sangat perih, aku terisak sendiri.

Mengpa Donghae oppa mengucapkan nama mantan Istrinya di dalam tidurnya? Sebegitu cintanyakah dia pada Jessica, sampai-sampai ia masih berharp istrinya itu akan kembali padanya? Mungkin karena itulah akhir-akhir ini Donghae oppa bersikap sangat dingin padaku dan lebih banyak melamun. Mungkin ia memikirkan Jessica, istri yang masih sangat dicintainya. Apakah tindakanku malam itu benar-benar bodoh sampai membuat Donghae oppa kembali terbelenggu pada kisah masa lalunya? Entahlah, tapi yang pasti saat ini Donghae oppa masih belum bisa merelakan kepergian Jessica sepenuhnya. Apakah itu juga berarti oppa masih belum bisa membukakan hatinya untukku?

Next Morning

Pagi ini aku banging dengan mata sembab. Tapi masih pagi-pagi begini Donghae oppa sudah tidak ada di tempat tidur. Kemana dia? Bukankah hari ini hari libur?

Sesaat kemudian Donghae oppa masuk ke kamar dengan pakaian sangat rapi. Memakai jas hitam, semuanya serba hitam. Mau kemana dia sepagi ini?

“ Oh sayang kau sudah bangun? Tunggu, apa yang terjadi pada matamu?” Ucapnya kemudian menghampiriku yang masih duduk diatas tempat tidur. Ia kemudian memgang pipiku untuk melihat lebih jelas mataku yang sembab.

“ mengapa matamu begitu sembab?” Tanyanya.

“ Itu karena aku tidur terlalu larut. Tadi malam aku tidak bisa tidur.” Ucapku berbohong.

“ Begitukah? Kita ke dokter ya.”

“ Tidak usah, aku baik-baik saja.” Ia kemudian menatapku. Bisa kulihat raut khawatir di wajahnya.

“ Benar tidak apa-apa?”

Aku dengan cepat menangguk mengiyakan.

“ Keundae, oppa mau kemana? Bukankah hari ini libur?” Tanyaku langsung. Seketika kulihat  ia terperanjat.

“ ah, itu. oppa ada urusan yang harus diselesaikan.” Ucapnya.

“ Kalau begitu oppa berangkat dulu. Kalau ada apa-apa telepon oppa.” Ia mengecup keningku lalu pergi dari hadapanku. Aku masih terdiam diatas tempat tidur. Aku kembali menangis, menangisi kepergiannya.

“ Kau bahkan tidak bertanya mengapa aku sampai tidak bisa tidur semalam, agar aku bisa memberitahumu tentang apa yang terjadi tadi malam.”

End Yoona POV

*******

Donghae memarkirkan mobilnya tak jauh dari sebuah gerbang besar. Ia kemudian melangkahkan kakinya memlewati gerbang tersebut. Dengan bunga ditangannya ia terus berjalan melewati batu-batu nisan yang tertata rapi. Sesaat kemudian ia berhenti di depan sebuah batu nisan. Ia kemudian meletakkan bunga tersebut tepat diatas batu nisan yang bertuliskan Jessica Jung.

“ Anyyeong.” Donghae menghela nafas panjang. Terlihat kepungan asap menyembur dari mulutnya tanda kedinginan mulai meresapi kehangatan di musim semi yang segera akan berakhir.

“ Cukup lama aku tak mengunjungimu.”Donghae tersenyum kecil.

“ Aku sangat merindukanmu. Entah kenapa, akhir-akhir ni aku selalu memikirkanmu. rasa rinduku terasa sangat menyesakkan dadaku. Aku selalu berharap kau bisa kembali, agar aku bisa mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu, tak peduli apapun yang terjadi,  tapi…hmph…itu tak akan mungkin kan?” Donghae kemudian berjongkok dan mengusap batu nisan di depannya. Kemudian air matanya mulai mengepul di sudut-sudut matanya yang cokelat.

“ Kau begitu tega padaku Jessica. . . kau bahkan tak berkata jujur padaku. Kau tidak memberitahukanku tenang orang itu, Tentang orang yang merusak kebahagiaan kita. Karena dia kau meninggalkanku. Kenapa kau begitu melindunginya? Harusnya aku tahu lebih awal, harusnya kau berkata jujur padaku sejak awal Jessica. . . kenapa kau lakukan itu padaku?” Donghae seakan meluapkan semua emosi yang dipendamnya selama ini. Air matanya jatuh membasahi batu nisan di depannya. Tangannya mengepal hingga urat-urat di tangannya tampak jelas.

Donghae mengambil sebuah sapu tangan dari sakunya lalu digunakannya untuk menghapus air matanya, kemudian  berdiri tegap dan memperbaiki jasnya. Ia menengadah kelangit dan menghembuskan nafas dalam. Lalu ia kembali menatap batu nisan istrinya.

“ Aku akan selalu memaafkanmu Jessica, entah mengapa aku selalu tak bisa membencimu. Justru aku semakin dalam mencintaimu.”

*******

Yoona berlari membuka pintu apartemennya. Ia tahu bahwa Donghae yang datang. Yoona begitu mengkhawatirkan Donghae yang masih belum berada di apartemen padahal sudah sangat larut.

Begitu Yoona membuka pintu, betapa terkejutnya ia mendapati Donghae yang langsung jatuh. Terasa sekali bau soju dari Donghae. Tampaknya ia minum sangat banyak.

“ Oppa! Waegeurae? Apa yang terjadi?” Ucap Yoona sembari mencoba membangunkan Donghae. Dirangkulnya Donghae supaya ia duduk. Namun Donghae sempoyongan tak bisa duduk dengan baik.

“ Oppa!” Yoona mulai menangis.

Donghae kemudian menatap Yoona dan tersenyum kecil lalu kembali jatuh lagi.

“ Oppa!!” Yoona mulai berteriak. ia sangat kaget melihat Donghae yang mabuk-mabukan seperti ini. Ia lalu mengumpulkan tenaganya dan mencoba menuntun Donghae ke tempat tidur. Dengan susah payah akhirnya Yoona berhasil membaringkan Donghae di tempat tidur. Kemudian segera dilepas sepatunya, dan melonggarkan dasi suaminya itu. Donghae nampaknya sudah tertidur dan tak bergeming lagi. Yoona lalu duduk disamping Donghae memandangi wajah suaminya.

“ Ada apa sebenarnya yang terjadi padamu oppa? Mengapa kau seperti ini? Mengapa kau perlakukan aku seperti ini? Apa yang salah oppa?” Ucap Yoona sambil menangis.

“ Aku tahu kau mengunjungi makam Jessica hari ini. Tapi mengapa kau tak bilang padaku? Apa kau tak menganggap aku sebagai istrimu? Apakah tindakanku yang menanyakan tentang Jessica yang telah membuatmu seperti ini?”

Yoona kembali menangis di samping Donghae yang tertidur. Ia tak tahu jika rumah tangganya harus seperti ini. Apakah salah jika ia menikah dengan orang yang telah diringgal mati oleh istri terdahulunya? Apakah salah menjadi yang kedua? Kini Yoona menyadari bahwa Donghae masih sangat mencintai istri terdahulunya, saking besarnya cinta Donghae hingga tak memerdulikannya lagi. Ia akhirnya sadar bahwa Donghae masih sangat merindukan Jessica, Donghae masih mengarapkan Jessica yang bersamanya sekarang, bukan dia. Yoona akhirnya sadar bahwa Donghae masih belum membuka sepenuh hatinya untuknya, untuk istrinya.

******

Next Morning

Yoona sedang berada di dapur saat tiba-tiba Donghae masuk.

“ Yoona.” Ucap Donghae

Yoona masih asyik memotong-motong wortel di tangannya.

“ Kita akan pulang hari ini.” Ucap Donghae lagi namun Yoona tak bereaksi. Ia masih terus melakukan aktifitasnya.

“ Jadi lebih baik jika kita berkemas-kemas sekarang.” Ucap Donghae lagi. Yoona sama sekali tak bereaksi.

“ Auh…” pekik Yoona. Donghae lalu berlari mendekati Yoona.

“ Waegeurae? Darah, tanganmu berdarah. Tunggu oppa ambilkan obat.”

“ Oppa tung. . .” Ucap Yoona terputus melihat Donghae yang segera berlari mengambil kotak P3K. Yoona hanya menangis melihat Donghae. Sesaat kemudian Donghae kembali membawa seperangkat obat. Tanpa berkata lagi Donghae langsung menangani tangan Yoona yang teriris pisau. Air mata Yoona terus mengucur. Dengan cekatan Donghae akhirnya selesai menangani tangan Yoona.

“ Cha!” Ucap Donghae. Diusap-usapnya tangan Yoona lembut.

“ Lain kali kau harus hati-hati. Hmm? Yoona sayang, jangan menagis lagi.” Ucap Donghae kemudian hendak menghapus air mata Yoona namun tangan Donghae segera ditepis olehnya. Karena hal itu Donghae kaget mendapati sikap Yoona.

“ Wae? Ada apa?” Tanya Donghae. Yoona lalu melangkah pergi namun segera ditahan oleh Donghae.

“ Yoona, Waegeurae?” Tanya Donghae lagi.

“ Ada apa? Harusnya aku yang bertanya ada apa?” Ucap Yoona emosi.

“ ha?”

“ ya! Ada apa denganmu Oppa?” Air mata Yoona mengalir deras. Ia sudah tak sanggup menahan emosinya.

“ Aku tidak mengerti apa yang kau maksud.” Ucap Donghae.

“ Kau masih belum mengerti juga? Baiklah aku akan memberitahumu.kau berubah oppa. Kau sangat berubah. Kau bukan Donghae oppa yang aku kenal. Kau adalah orang lain. Suami orang lain.”

Betapa kagetnya Donghae mendengar perkataan Yoona. ia sama sekali tak menyangka Yoona akan berkata seperti itu.

“ Mengapa kau berkata seperti itu?”

“ Aku berkata seperti itu karena memang seperti itulah oppa akhir-akhir ini. Kau mengabaikanku oppa. Kau berubah menjadi pendiam bahkan tadi malam kau menjadi pemabuk. Semua hal itu tidak dilakukan oleh Donghae oppa yang aku kenal. Donghae oppa yang menjadi suamiku.”

“ Yoona. . .”

“ Kau bertingkah sangat lain oppa. Kau masih mengarapkan orang lain yang bersamamu sekarang kan? Kau masih mengaharapkan orang lain yang membuatkanmu sarapan kan oppa?”

“ Apa maksudmu Yoona? jangan berkata hal yang tidak-tidak.” Pekik Donghae.

“ Aku tahu kau mengunjungi makam Jessica kemarin. Mengapa kau tidak memberitahukanku oppa? Apakah kau tidak sadar bahwa sekarang kau telah memiliki istri?”

Donghae berkaca-kaca. Matanya memerah mendengar semua perkataan Yoona.

“ setelah malam itu saat aku menanyakan tentang Jessica Kau menjadi banyak melamun, kau menjadi sangat dingin, bahkan Kau sampai mengucapkan namanya dalam tidurmu. Tidakkah kau sadar kau telah menyakiti hatiku oppa? Tidakkah kau sadar aku sangat menderita karena sikapmu?” Yoona berteriak mengucapkan hal itu. air matanya tak henti mengalir dikarenakan sakit hati yang tak mampu lagi dtanggungnya.

“ Aku istrimu sekarang oppa. . .”

Donghae tak bisa berkata apa-apa. Semua yang dikatakan Yoona memang betul. Ia seakan kembali terjebak pada masa lalunya bersama Jessica. Selama ini yang ada dipikarannya hanya Jessica, bahkan ia mengabaikan Yoona istrinya. Donghae menangis, ia sadar betapa kejamnya ia selama ini. Ia lalu memeluk erat Yoona.

“ Maafkan oppa sayang. Maafkan oppa. Oppa sangat bodoh telah bersikap seperti itu padamu. Maafkan oppa.” Ucap Donghae sembari memeluk Yoona.

“ Oppa tidak tahu bahwa oppa telah menyaitimu begitu dalam. Maafkan oppa.”

“ Oppa berjanj tidak akan melakukan hal seperti itu lagi sayang. Oppa janji. Maukah kau memaafkan oppa?”  Ucap Donghae sambil menatap wajah Yoona.

“ Benarkah oppa tidak akan melakukan hal seperti itu lagi?” Tanya Yoona. Donghae segera mengangguk mengiyakan.

“ Ne, Oppa janji. Kaulah satu-satunya yang oppa miliki. Kaulah satu-satunya istriku yang paling kucintai.”

Yoona lalu memeluk suaminya itu. ia mencoba berharap bahwa sekarang atau suatu saat nanti Donghae benar0benar akan membuka hatinya untuknya.

********

“Semua barang sudah ada?” Tanya Donghae

“ Sepertinya sudah semua.” Jawab Yoona sembari kembali mengamati bawaan mereka di bagasi.

“ kalau begitu kita berangkat.”

“ Tapi oppa, kapan-kapan kita apartemen ini lagi yah.” Ucap Yoona. Donghae kemudian menghampirinya lalu mengusap lembut wajah Yoona.

“ Tentu sayang. Kalau kau mau, kita pasti akan sering-sering kesini.” Ucap Donghae lembut. Sesaat kemudian sebuah kecupan hangat mendarat di pipi Yoona. Pipi Yoona sampai dibuat merah merona karena hal itu.

“ Oppa. . .”

“ Hm? Ada apa?”

“ Aku sangat tidak menyukai oppa malam itu. aku berharap oppa tidak akan melakukan hal seperti itu lagi.” Ucap Yoona. mata Donghae membesar mendengar perkataan Yoona. ia kaget Yoona akan mengatakan hal seperti itu. hal itu wajar. Tapi wajah Donghae kembali menerawang. Donghae hanya mengangguk pelan.

Selama perjalanan Donghae kembali pendiam. Yoona banyak bercerita tapi sesungguhnya pikiran Donghae tak disitu. Setiap kali Yoona bertanya Donghae membalas dengan jawaban seadanya.

“ Apa betul dia orang itu?”

“ Ne.”

Prangg!!!!!

“ Oppa, Donghae oppa.” Ucap Yoona namun tampaknya tak didengar oleh Donghae. Ia terus menatap kedepan namun nampaknya pikirannya tak di jalan di depannya.

“ Mianhe oppa. . .”

“ Mengapa kau lakukan ini padaku, mengapa Jessica?”

“ Mianhe. . .”

“Oppa!” Yoona lalu menepuk bahu Donghae. Donghae tersentak baru terbangun dari lamunannya.

“ Wae? “ Tanya Donghae

“ Oppa melamun? “

“ Aniyo.” Jawab Donghae lemah.

“ Apa yang aku pikirkan? Mengapa aku kembali mengingat hal itu? tidak, aku harus melupakannya. Aku tidak seharusnya aku mengingat hal seperti itu. Donghae kau bodoh.” Batin Donghae. Ia semakin tak berkonsentrasi pada jalan di depannya.

“ Oppa. . . hati-hati, lihat jalan di depan. . . KYAAAAA!!!!”

Donghae langsung beralih pada jalan di depannya namun terlambat. Ia sudah tidak bisa mengendalikan setirnya lagi. Mobilnya sudah tak bisa menghindar dari markah jalan di depan. Mereka kemudian menabrak markah jalan dan membuat mobil mereka berputar 180 derajat dan  menjadi semakin tak terkendali. Donghae setengah mati memutar setir namun sudah tak bisa. Rem dengan sekuat tenaga ia injak dan menimbulkan suara decitan yang sangat menganggu. Mobil mereka semakin tak terkendali dan akhirnya menabrak pembatas jalan yang terbuat dari besi. Suara dentuman sangat besar terdengar saat mobil mereka menabrak. Mobil mereka rusak parah. Asap segera mengepul dari mobil mereka. Orang-orang segera berkerumun namun tak ada yang berani mendekati.  Baik Donghae maupun Yoona sudah tak diketahui keadaannya.

End Flashback

***

Catatan : Nah yang diatas itu yang kecelakann diawal cerita dulu (Part 1) . Jadi udah jelas kan kenapa diawal cerita Yoona langsung kecelakaan  :) Udah baca jangan lupa coment ya^^